Jejak Karya Ibu Jesi di Tahun 2018

21.54 1

Lebih dari 17 Karya
Oleh Betty Irwanti

Betty Irwanti atau biasa disapa Betty, lahir di Cilacap pada tanggal 29 Januari. Sebentar lagi istri dari Joko Septiono ini akan genap berusia 32 tahun. 

Mulai tertarik dengan dunia menulis sejak SMA, tetapi baru berani mengikuti event pada tahun 2016 saat ia hamil besar anak pertamanya (Cleverona Bintang Aljazira).

Pertemuan dengan sahabat lama adalah pembuka jalan di dunia yang sangat baru baginya. Sampai kemudian ia juga bertemu dengan satu kelas perdana yang membuatnya semakin yakin untuk menekuni dunia kepenulisan.

Akhir tahun 2017 ia mengejar banyak kelas berbayar. Rupanya dari sini segala hal dimulai. Bergabung di berbagai komunitas, membuatnya mengenal pergaulan sesama penulis yang sudah malang melintang.

Tahun 2018 ia bersiap menerima tantangan-tantangan. Mulai dari KMO Batch 13 yang membawanya menjadi salah satu dari 13 peserta terbaik. Lebih dari itu, saat mengikuti Tantangan Menulis Basagita, bahkan ia berhasil menjadi runner up.

Akhir tahun 2018 pun ia tutup dengan manis. Sertifikat ketiganya ia lengkapi dengan predikat sebagai peserta terbaik Kelas Fiksi ODOP Batch 6.

Kurang lebih setahun, Ibu Jesi memulai langkahnya sebagai penulis. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT tak henti ia ungkapkan atas segala kemudahan. Sudah ada 10 karya Antologi yang cetak di bawah berbagai naungan komunitas, mayoritas masih terbit indie.

Baru ada satu yang sudah terbit mayor dan nangkring di Gramedia seluruh Indonesia. Baru ada satu juga yang sudah bisa di downlod versi e-booknya.

Sudah Cetak:
1. My Little Detective (Rising Star)
2. 25 Dongeng Dunia Peri (Rising Star)
3. Love in Conflict (Rising Star)
4. Tahukah Kamu (Wonderland)
5. The Destiny (Rising Star)
6. Ya Rabbi Izinkan Kami Memiliki Buah Hati (Tinta Medina) (eL Hidaca)
7. Hidden Treassure (Rising Star)
8. Keajaiban Sedekah (KMO)
9. Anatomi Tubuh Manusia (Wonderland)
10. Mom Preneur (Pejuang Literasi)

E-book: 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Berpengaruh Sepanjang Zaman (Scritto) (Wonderland)

Sudah PO: Tutti Frutti New Mommies (Pejuang Literasi)

Sedang PO:
1. Chamomile Tea for Awesome Teachers (Wonderland)
2. Story of my Wedding (Pejuang Literasi)

Sedang Proses:
1. TMB Basagita
2. Menyulam Aksara: Cinta Pertama Pada Menulis (KMO)
3. Anti Bully (eL Hidaca)
4. Nubar Kepompong Area Sumatera

Dan beberapa lagi yang masih menunggu kabar kelanjutannya.

Jika di tahun 2018 ia sudah berhasil mencetak buku pertamanya. Pencapaian yang di luar ekspektasinya hingga mencapai lebih dari 17 karya, meski masih antologi bersama rekan penulis lainnya.

Memasuki tahun 2019 niatnya sederhana saja, menerbitkan buku solo perdananya. Mengurangi aktifitas ikut kelas yang menguras, (cukup menjadi PJ saja) karena ia pun harus mengejar tugas menulis untuk persiapan kenaikan pangkat dalam jabatan dinasnya.

Menerbitkan buku solo perdananya juga merupakan salah satu cara untuk melengkapi persyaratan hitungan angka yang ingin coba ia ikhtiarkan sebagai pengalaman. Semoga bisa terealisasi dan menjadi jalan.

Bismillah. Semangat tahun baru. Semangat buku baru. Semangat kerja baru. Semangat yang selalu terbarukan.

Salam santun dari Ibu Jesi, Ayah Jose (Joko Septiono) dan Bebi Jesi (Cleverona Bintang Aljazira).

#2019BukuSoloAamiin

@RumahClever, Cilacap, 1 Januari 2019: 21.37.
IBU JESI
Nyi Bejo Pribumiluhur
Guru bi(a)sa

Tugas Akhir ODOP 6: Demi ODOP Aku Rela

07.23 5

Demi ODOP Aku Rela
Oleh Betty Irwanti

Beberapa bulan yang lalu aku membaca status seorang teman di Facebook yang isinya Open Recruitment One Day One Post Batch 6. Entah kenapa aku langsung tertarik dan menunaikan segala persyaratan.

Sekian lama menunggu, akhirnya diumumkanlah nama-nama peserta yang bisa ikut ngODOP6. Antusiasme luar biasa membuncah, kenapa? Karena ini artinya aku akan menghidupkan kembali blog yang pernah vakum lebih dari dua tahunan sejak kubiarkan lamatan karena proses kehamilan dan persalinanku.

Dengan mengucap "Bismillahirrahmanirrohiim" aku mulai semua kegiatan di ODOP6. Tambah teman, tambah ilmu, tambah semua yang baik-baik. Meski aku harus mengurangi kegiatan menulis di komunitas lain dan merelakan dua proyek demi fokus. Aku juga rela mengundurkan jadwal menulis privat project demi tetap bisa fokus pada kerja, baby dan keluarga.

Alhamdulillah semua proses seperti dimudahkan oleh Allah SWT. Sampai tiba di hari terakhir tahun 2018, aku membuat tulisan ini.

Terima kasih untuk semua warga dan pengurus ODOP6, terima kasih atas kesan baik yang menghujam manis di hatiku. Aku sangat bersyukur bisa berada di antara kalian semua.

Terima kasih untuk semua adrenalin tantangan yang tiada pernah bisa kulupakan. Tantangan-tantangan yang berhasil membuatku mencoba berbagai genre tulisan. Tantangan-tantangan yang menunjuk pada beragam atmosfer baru di dunia penulisan.

Pesan untuk semua warga dan pengurus ODOP hanya, teruskan program baik ini. #2019lanjutkan!

Mari sambut tantangan baru tahun depan.

Mari sambut nuansa pemilihan mulai bulan depan. Seperti yang sudah dipasang sebagai ikon Grup Besar Odop "We Want You to be Next Leader Komunitas ODOP"

Demi ODOP aku rela tulisan ini dianggap sebagai iklan, eh.
😀

Status ini bukan status politik. Tapi status tugas akhir dari PJ Pulau Harapan.

Kutunggu kesan dan pesan penghuni ODOP, silakan meninggalkan jejak di kolom komentar ya 👌

*

😍
IBU JESI
Nyi Bejo Pribumiluhur
Guru bi(a)sa

@Rumah Clever, Cilacap, 31 Desember 2018: 06.47.

Resume Materi Fiksi_Umar Affiq

04.17 15

Resume Materi Menggali Ide Kelas Fiksi Odop 6
Yang disampaikan oleh Mohammad Umar Muwaffiq

Ditulis oleh Betty Irwanti Joko

*

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat hari Minggu teman-teman semua. Happy weekend. Happy long holiday buat anak-anak sekolah yang sudah terima rapot ya.

Lama gak nulis di blog, kangen juga nih. Maafkan karena kerempongan di dunia nyata, tulis menulis harus terjeda. Tapi bukan berarti tidak ada karya ya. Sementara harus standby di KMO Indonesia juga, sudah mulai kelas pertamanya.

Oke, baiklah. Bukan itu yang mau kutulis. Aku mau menulis tugas resume yang sebenarnya sunah, dikerjakan mendapatkan point, tidak dikerjakan pun tidak apa-apa. Tapi karena saya termasuk tipe orang yang susah tidur kalau belummengerjakan yang dirasa sebagai tugas. Akhirnya, dini hari begini pun masih mode on. Meski awal terbangun sebenarnya karena ingin ke toilet. Eh! 😁

Malam Minggu ini, Kelas Fiksi Odop6 rame! Gimana bisa? Meskipun di awal terjadi delay sesaat, akhirnya bisa on juga beberapa saat kemudian. Betapa senangnya hatiku karena aku pun bisa menyimak sejak awal, yess. Terima kasih Bebi Jesi dan Ayah Jose, kalian memang benar-benar mendukungku belajar menulis. Kalian tugas (turu gasik, itu sangat membantuku untuk punya banyak waktu me time 😙)

Malam Minggu ini, Kelas Fiksi Odop6 kedatangan tamu keren. Ini dia profilnya.

Nama: Mohammad Umar Muwaffiq

Nama pena: Umar Affiq

Ttl: Rembang, 14 Desember 1992

Hobby: apa ya selain nonton naruto, baca komik naruto, dan membaca? Dulu sih sempat suka menggambar tapi sekarang jarang banget oret2 kertas.

Makanan favorit: suka lontong tahu atau tahu lontong, mie ayam (agak pilih2), bakso (gak pilih2) tapi belakangan ini ingin jadi herbivora dan meninggalkan daging-daging, suka sama buah anggur dan tidak
suka pada buah yang memiliki tekstur butir2 kecil kasar seperti kersen atau baleci.

Angka kesukaan: 7⃣

Penulis fovorit: Eka Kurniawan, Eko Triono (dalam cerpen yang bukan eksperimental), Budi Darma, M. Aan Mansyur. Daftar nama ini hanyalah daftar sementara yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa
memberitahu pemilik namanya.

Karya tulis: beberapa puisi, resensi dan cerita pendek sempat tersebar di media luring dan daring. Pernah dapat juara 2 lomba nulis resensi divapress dan ini menjadi pijakan pertama buat terus nulis. 2015 juara
1 lomba cipta cerpen yang diadakan Gerakan Tuban Menulis, 2015 masuk long list lomba cerpen tamanfiksi.co, 2016 masuk nominasi lomba  cerpen santri nasional oleh Kemenag RI, 2017 memenangi
kompetisi cerpen Kampus Fiksi Emas #4 dengan cerpen Hari Anjing-Anjing Menghilang, 2018 menerbitkan buku kumpulan cerpen pertama dengan judul Di Surga, Kita Dilarang Bersedih. Kumcer ini adalah kumpulan juara kampus fiksi emas. Cerpen Kak Umar juara l. Kalian bs belajar buat paragraf pertama yg dahsyat sampai tempo bercerita. Even Pak Edi divapress bilang, cerpen umar filmable banget.

Mantul banget kan, ya!

Karena pemateri malam Minggu ini baru saja berhari jadi, masih boleh kan ya, aku sampaikan "Happy Birthday ya",  semoga sehat dan bahagia selalu. Semakin semangat dan sukses. Aamiin.

Karena umurnya yang masih muda belia, kebetulan sama adik bungsuku juga sama jadi aku panggil beliau dengan sebutan, Dik saja ya. Alhamdulilah, sapaan ini disetujui oleh beliaunya.

Begitu Dik Umar Affiq ini datang, kelas langsung aktif. Kenapa? Karena kelasnya memang interaktif, bukan kelas yang monoton dengan komunikasi hanya satu arah. Itulah kenapa aku pun langsung mengirimkan banyak pertanyaan. Pun juga teman yang lain, bahkan ada yang menampung berbagai pertanyaan dari status yang dibuatnya di medsos. Ini sungguh kreatif.

Berikut petikan pertanyaan dan jawabannya ya, langsung saya ramu dari copy pastean di WAG Kelas Fiksi Odop6 yang berlangsung live dari pukul 20.01-23.08.

1. Jadi, kak, dari mana biasanya dirimu menemukan ide?

Oke.
Dalam beberapa cerpenku, aku menemukan ide dari mimpi. Jadi ketika aku tidur ran bermimpi sesuatu dan masih teringat sampai bangun, kalau mimpi itu menarik akan kutulis dalam draft.
Selain dari mimpi kadang dari bacaan. Kalau pas baca karya siapa gitu, dan tertarik, aku tandai biasanya.

2. Dimana biasanya menulis draftnya?

Kadang di status WA. kadang di grup, kadang di note pribadi. Kadang langsung tulis di laptop.

3. Pernah nggak lupa mimpi tapi kayaknya penting banget dan kamu tersiksa karena ingin menulisnya tapi tak tahu itu apa? Apa yg kamu lakukan biasanya?

Ikhlaskan saja sih. Wong udah lupa. Ide itu rejeki, kalo emang itu rejeki kamu ya gak bakal ilang gitu aja.
Mimpi = rejeki.

4. Kadang mimpi itu hanya kita ingat saat terbangun. Ketika sudah pagi atau lewat hari, suka lupa? Bagaimanakah itu? Apakah cerita yang bersumber dari mimpi lebih aman difiksikan?

Soal aman tidaknya tergantung gimana kita menceritakannya ya.

5. Kalau sudah dapat ide,dan ternyata kebanyakan. Ide mana dulu yang harus ditulis lebih dulu?

Mana yang disuka saja mba... masak ginian mau istikhoroh segala. Bhahaha... ops...🤭
Aku tulis aja dulu biasanya. Baru nanti mikir ide ini bagusnya diginiin. Ini ngerjakannya pakai insting sih menurutku.

6. Ada yang pernah nonton movie Kimi no Nawa?

Itu pembukaannya menginspirasi buat dijadiin cerpen lho.
Yang aku maksud, kurang lebih begini:
_Kadang2 aku terbangun dari mimpi dan tiba2 menangis._ Ini sesuatu banget menurutku. Dari sini aku jadi bayangkan tentang seseorang yang belum pernah bermimpi dan tiba2 bermimpi. Kemudian dia begini-begini dan begini. Karena meresa terganggu oleh sesuatu yang baru.
Tapi ide dari mimpi tidak melulu menuliskan (menumpahkan apa yang kita mimpikan ke naskah), kita bisa menuliskan kondisi kita pasca mimpi itu atau sebelum mimpi itu. Dan mimpi itu sebagai bahan konflik saja.

7. Bagaimana cara mencari inspirasi dari hal yang sederhana menjadi luar biasa, apakah ada triknya? Semoga bisa dibagi beberapa kiatnya juga berdasarkan pengalaman Abang selama ini?

Aku merasa masih sederhana saja dan belum luar biasa. Meski demikian aku akan mencoba menjawabnya. Pertanyaannya adalah "bagaimana cara mencari". Siapkan peralatan pencarianmu setiap waktu. Bila ada sesuatu yang menarik, kantongi dia. Proses pencariaan tidak hanya yang bisa ditangkap indera penglihatan saja ya. Gunakan berbagai indera. Atau misalkan kamu fokus satu saja.
Misal nih. Sekarang kamu bayangkan dirimu berdiri di bawah matahari pukul 11 siang di tepi jalan. Gunakan indera pendengar saja. Kamu bisa menjadikan cerpen dari sini.

8. Ide dan semangat itu kan tidak ubahnya seperti iman.
Kadang naik, kadang turun .... Apa Kak Umar pernah merasakan ide atau semangatnya turun drastis alias down? Bagaimana menyikapi saat semangat itu turun, agar bisa kembali bangkit dan nggak berlarut-larut dalam keadaan tersebut!

Relijies banget pertanyaannya.. subhanallah...
Tapi untuk urusan iman konsultasinya sama ustajah Hiday Nur aja ya.
Untuk semangat nulis nih. Hal yang perlu ditanyakan ada gak sih yang bikin kamu semangat nulis? 🤭
Oke oke... aku pernah kehilangan semangat nulis, bahkan, jangankan nulis, baca aja gak semangat. Kurasa semua penulis peenah kok ngalami fase ini. Dinikmati aja. Kepalamu bukanlah kepala M Aan Mansyur yang pernah bilang: "kepalaku kantor paling sibuk sedunia."
Dinikmati aja. Baca yang ringan2 dulu, nonton film, main ke pantai atau gunung, lalu nulis lagi.

9. Menurut kakak, untuk pemula lebih baik menulis kisah apa? Nyata, fantasi atau...? Bagaimana cara menemukan jati diri yang sesungguhnya, atau kalau nulis Passion atau yang cocok dengan aku "ini"?? Maaf banyak bertanya, karena masih pemula dan haus ilmu ????
Mohon pencerahannya??????

Untuk pemula mungkin kamu bisa belajar dari nulis surat ya. Kamu bisa baca cerpen Trilogi Alina karya Seno Gumira Ajidarma untuk belajar. Itu cerpen surat yang bagus. Dan menulis cerpen model surat gini, meskipun udah agak basi tapi cukup bagus buat melatih imajinasi kamu.

10. Kak Umar biasanya dapat ide nulis dari mana yang paling dominan?

Aku merasa pindah-pindah dan musiman ya. Jadi belum ada yang menurutku dominan. Kalo ditanya dari mana ide datang, bisa dari mana saja. Dari tempat ziarah, dari film, dari nontom wayang, dari baca buku, dari macem2...

11. Kak Umar Bagaimana agar ide kita nggak alay?

Mungkin kamu bisa jelaskan mana yang kategori ide yang alay sama yang enggak alay?

12. Kalau kita dapet ide nih misal ya kak. Terus cara mengembangkan ide biar nggak ngalor ngidul ga puguh gmn caranya??

Ini soal rasa sih... karena soal rasa, perlu olah rasa. dan bahan bacaan juga sangat berpengaruh.

13. Bagaimana cara membuat judul yang mengharu biru?

Perihal judul, kamu bisa mencoba hal-hal ini:
1. Memetik dari puisi, Semusim dan Semusim Lagi (Novel Andlina Dwi Fatma), Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi (Novel Sapardi Djoko Damono)
2. Membuat pertanyaan: Agama Apa yang pantas bagi pohon-pohon? (Eko Triono)
3. Menggunakan pernyataan pengumuman: Hanya Anjing yang Boleh Kencing Di Sini (cerpen Mashdar Zainal), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Seno Gumira Ajidarma)
4. Menggunakan angka: 1984, 5 cm, Fahrenheit 451
5. Tentukan gayamu sendiri
Oh, iya, dalam menulis puisi kalau gak salah ada sesuatu yang bernilai plus bila ada perulangan bunyi "ng" "ah" di akhir. Ini juga bisa dipakai dalam menulis judul maupun dalam badan cerpen. Biar terkesan liris.

Demikian kurang lebih petikan pertanyaan dan jawaban dari Kelas Fiksi Odop6, Sabtu 15 Desember 2018.

Terimakasih banyak Dik Mohammad Umar Muwaffiq Odop6⁩ yang mau direpotkan dengan pertanyaan yang melebihi ujian hidup. Selamat milad dari kita semua.

Barakallah fii umrik.

Selamat menabur bintang yang kelewat materi malam ini.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

**

Demikian resume materi Menggali Ide versiku. Dilarang copas tulisan ini tanpa seizinku, ya. Oke.

Salam santun, Ibu Jesi.

Sumber tulisan: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day16

@Rumah Clever, Cilacap, 16 Desember 2018: 04.05.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.
Guru bi(a)sa

Sumber Gambar: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#Resume
#MateriFiksi
#MohammadUmarMuawaffiq
#UmarAffiq

Resume Materi Fiksi_Achmad Ikhtiar

07.46 12

Resume Materi Prosa Liris Lanjutan-Achmad Ikhtiar (Uncle Ik)
Oleh Betty Irwanti

Tadi malam, tepatnya tanggal 9 Desember 2018 mulai pukul 20.00 sampai pukul 22.00 Grup WA Kelas Fiksi ODOP Batch 6 rame. Ada kelas Prosa Liris Lanjutan dari Uncle Ik (Achmad ikhtiar) yang merupakan anggota lama ODOP. Tapi, karena kesibukan beliau akhirnya memutuskan keluar.

Anggota grup gelar tikar dan mencari tempat nyaman untuk menyimak, termasuk aku. Aku yang di jam-jam segitu bisa dipastikan masih riweh dengan Bebi Jesi (BJ), sebelum jam 8 malam aku menulis notif dulu, untuk absensi. Setelah BJ dan Ayah Jose lelap barulah aku manjat chat yang jumlahnya sudah hampir 250, no problemo gaes.

Sempat juga kok aku minta dibedah tulisan Prosa Liris yang berjudul Hujan di Hatiku yang beberapa seminggu lalu sudah di post di blogku, fasebejo.blogspot.com. Silakan berseluncur bagi yang belum pernah baca ya! 😊

Sebenarnya apa si, Prosa Liris itu?

Berikut aku tuliskan resume (ringkasan) kelas semalam:

Mengapa sih di dunia ini harus ada Prosa Liris? Karena prosa bikin jenuh dan puisi bikin pusing. Perlu banyak latihan untuk bisa membuat prosa liris. Supaya tidak tertukar dengan puisi.

Prosa liris yang dibahas lebih condong ke prosa liris modern. Soalnya prosa liris klasik kebanyakan berisi mantra dan udah umum di masyarakat Minang. Coba simak saja karya Khalil Gibran, W.S. Rendra, Tagor atau Pasternak (Boris Pasternak).

Sebelum mulai menulis Prosa Liris, kita harus tau dulu beda antara puisi, sajak sama prolis (Prosa Liris). Karena ketiganya mirip. Puisi cenderung kaku dan terikat pada aturan, sajak lebih bebas tapi tetap terikat pada rima tertentu.

Prolis bisa dibilang sebuah pemberontak atau mix dari prosa dan puisi. Prolis punya gaya bercerita mirip dengan prosa tapi menggunakan diksi puisi. Itulah yang membuat prolis memiliki kekuatan lebih dibanding prosa, karena daya interpretasinya lebih luas. Umumnya prolis ditulis berparagraf seperti prosa atau cerpen tapi tidak mengikuti plot cerpen, jadi boleh langsung lompat ke konflik atau malah tanpa konflik.

🍀

Contoh prolis yang ditulis oleh Uncle Ik:

BLUES MALARIA

Sitir Blues Untuk Bonnie....

Pandangan matamu masih nanar menjilati pojok demi pojok. Berharap ada berahi malam ini supaya perutmu  yang kosong bisa terisi. Sejauh mata memandang, hanya asap-asap kejenuhan yang terus dihembuskan dari mulut-mulut berbau whiskey.

Langkah kakimu gontai, dari balik perut yang rata, lambungmu perih menjerit-jerit karena belum terkena nasi sejak pagi.

Di tengah ruangan, penyanyi negro dengan gitar akustik bututnya masih terus bernyanyi-nyanyi. Dia tidak bernyanyi dengan suara, tapi dengan darah dan air mata. Kenang mengenang. Lagu perih tembang kampung halaman.

New Orleans… New  Orleans… Oh New Orleans yang jauh disebutnya berulang-ulang. Terkenang anak istrinya yang terbuang, mimpi-mimpi yang sudah tergadai sampai tandas dan borok di selangkangan yang tak kunjung sembuh.

Sumpah serapah membuncah dari mulut-mulut mabuk di pinggir panggung. Bising, hingar bingar, kumuh, jorok, tak beradab, bar-bar. Kamu terjebak dalam neraka yang tak berkesudahan.

Pandangan matamu mulai buram…

Duduklah sini dekat pedianganku. Angin santer yang meniupkan malaria terlalu liar untukmu duduk-duduk di luar. Anyaman rambutmu kusut masai tapi keningmu terang benderang. Duduklah sini sayang.

Hari sudah kasip begini… siapa lagi yang akan datang?

Duduk sini dan genggamlah cangkir kenangan yang akan aku sodorkan. Di dalamnya meliuk-liuk nafas sejarah yang panjang, jangan kamu lupakan. Genggam erat-erat biar tubuhmu hangat.

Akan aku ceritakan sebuah kisah.

Seribu dua ratus empat puluh enam tahun yang lalu, ada seorang lelaki yang termakan sumpah. Janji untuk kembali setelah bertualang lelah. Seorang perawan yang terlalu setia, selalu menunggu kapal terakhir merapat di dermaga. Sambil duduk di ayunan memainkan boneka. Apa mau dikata, kelasi-kelasi mabuk yang datang tak pernah membawa kabar berita. Perawan tetap setia, walau merana.

Duduklah sini sayang, puaskan laparmu, makan dari pingganku. Teguklah anggur-anggur kenangan yang kusajikan. Supaya lupamu hilang, supaya deritamu sirna.

Nanti, pada kokok ayam pertama kita pergi. Tinggalkan negeri tak berperadaban ini. Saat matahari nanar membakar ladang-ladang gandum, kita sudah akan sampai di negeri entah berantah yang hanya kita berdua tahu.

Pada saatnya nanti pasti akan kukatakan:

“Tatap mataku dalam-dalam. Kenanglah, aku lelaki yang seribu dua ratus empat puluh tahun lalu pernah ucap janji…

….padamu.”

🍀

Latar belakang penulisan, ide Blues Malaria Uncle Ik dapat waktu membaca Blues Untuk Bonnie sambil denger lagu Abraham Laboriel yang berjudul Guidum. Tentang kerinduan seorang budak pada kampung halaman. Lalu lahiran ide untuk memasukkan tokoh Pelacur, penyanyi kuiit hitam yang kena sifilis dan cerita tentang tanah harapan. Jadi deh Blues Malaria.

Langkah berikutnya sebelum menulis prolis adala diksi. Ini adalah bagian paling penting dalam membuat prolis. Fungsinya untk memperkuat kesan. Disinilah seorang penulis diuji kemampuannya untuk berdiksi dengan sepenuh hati.

Selanjutnya kita masuk bagian pematraan, ini bagian paling penting. Sebagaimana prosa yang harus kuat dalam deskripsi ruang, prosa liris juga demikian. Enaknya prosa liris lebih bebas, jika kita diminta mendeskripsikan sesuatu kita bisa bikin seemosional mungkin.

Dalam kelas lain, salah satu sifat prosa liris adalah bersifat romantis. Itu betul, tapi siapa yang bisa kasih tolok ukur sebuah keromantisan. Romantis bersifat private, semua orang punya definisi romantis sendiri.

Menurut Uncle Ik, perkembangan prosa liris di Indonesia kurang bagus, masyarakatnya masih suka sastra paperback, makanya wattpad laku. Kalau di luar negeri lebih berprospek, taste seni masyarakat nya udah terlatih

Untuk mendobrak hal itu, Uncle Ik suka nulis prosa liris. Alasannya adalah karena media menulis lain ga ada yang se megah prosa liris. Juga karena kelebihan prosa liris dengan prosa lainnya yang lain. Satu paragraf prosa liris bisa sama dengan 5 halaman prosa dalam makna.

Prosa liris jelas berbeda dengan puisi, karena prolis boleh memakai dialog.

Perhatikan prolis di bawah ini!

🍀

JENDELA

October 21, 2016

sumber: artebia.com

“Sudah kubilang jangan sekali-kali berani membuka jendela itu!”

“Kenapa?”

“Karena saat kamu melihat dunia di balik jendela kamu akan menginginkannya.”

“Itu apa?”

“Itu adalah tangisan.”

“Kenapa manusia menangis?”

“Karena hatinya sedang dihinggapi kesedihan?”

“Apa itu kesedihan?”

“Kenyataan yang terjadi di luar harapan.”

“Apa pula itu harapan?”

“Sesuatu yang kamu inginkan agar terjadi dalam hidupmu.”

“Aku paham sekarang. Berarti manusia akan menagis jika harapannya tidak terpenuhi.”

“Benar. Cepat tutup jendela itu!”

“Sebentar, apa itu yang di sebelah sana?”

“Itu tawa.”

“Kenapa manusia suka sekali dengan tawa?”

“Karena tawa adalah wujud bahagia.”

“Bahagia?”

“Iya, bahagia.”

“Apa itu bahagia?”

“Bahagia adalah saat harapanmu terpenuhi.”

“Berarti tawa adalah kebalikan dari tangis?”

“Tepat.”

“Kenapa tangis diciptakan? Bukankah akan lebih menyenangkan kalau hanya ada tawa di dunia?”

“Untuk menggenapi takdir.”

“Aku jadi bingung. Apa itu takdir?”

“Takdir adalah yang terjadi pada manusia saat mereka sibuk merencanakannya.” *)

“Bahasamu terlalu tinggi. Jelaskan padaku dengan bahasa uang mudah aku pahami.”

“Tidak ada penjelasan lain, sekarang lekas tutup jendelanya.”

“Sebentar, tolong jelaskan yang berpendar dari dada manusia itu apa?”

“Itu cinta.”

“Cinta?”

“Iya.”

“Akan aku tutup jendelanya setelah kamu jelaskan cinta padaku.”

“Tak pernah ada penjelasan tentang cinta.”

“Kenapa begitu?”

“Karena cinta bersifat personal. Tak pernah bisa didefiniskan.”

“Lalu kenapa cinta diciptakan.”

“Untuk menggenapkan.”

“Menggenapkan siapa?”

“Manusia.”

“Bukankah manusia sudah genap dan lengkap.”

“Belum. Lihatlah mereka. Mereka berbeda dengan kita. Mereka hanya memiliki sebelah sayap.”

“Karena itukah mereka tidak pernah bisa terbang ke sini?”

“Tepat.”

“Lalu…?”

“Lalu apa?”

“Bagaimana cinta bisa sebegitu menggenapkan?”

“Saat manusia dalam cinta mereka akan saling berepelukan, erat, sampai tubuh mereka lumat, jadi satu. Jadilah sayap mereka lengkap. Lalu mereka dapat terbang.”

“Kalau mereka dapat terbang, kenapa mereka tidak pernah sampai bisa ke sini?”

“Karena mereka betah tinggal di dunia dibalik jendela.”

“Apa menariknya dunia di sana?”

“Tidak ada.”

“kamu pasti berdusta.”

“Tidak.”

“Kalau dunia di sana tidak menyenangkan, kenapa manusia betah sekali tinggal di sana?"

“…………”

“Baiklah, kalau kamu tidak mau menceritakannya. Akan aku tutup jendelanya sekarang.”

Mungkin karena aku sudah tua dan alpa, rupa-rupanya cinta sempat singgah melalui jendela. Jadilah kami merana. Tertawa, 

menangis, tersenyum dan berkerut-kerut kening karena berusaha memahami hakikat cinta itu sendiri.

*) John Lennon, Beautiful Boy

🍀

Menurut Uncle Ik, tulisan Jendela ini udah luar biasa bagus, hanya bagian emosi yang kurang.

Uncle Ik juga menjelaskan ada bermacam-macam genre prolis, Gibran yang romantis, Tagor yang humanis dan Rendra yang sedikit sadis.

Berikut contoh lain Prosa dari Member Kelas Fiksi Odop 6:

1. Gedebog Tua oleh Winarto Sabdo

dia merasa bagaikan seorang ratu phrameswari
yang duduk di singgasana yang agung megah menawan hati
bersolekkan segala keindahan yang akan dikagumi duniawi
dimana semua orang akan datang menatap dan ingin memilikinya

sekarang hanya dia seorang berkuasa di wisma penjaja asmara
tiada ratu pesaing duduk di kanan kirinya hanys dia saja penghuninya
ratu bohay yang kecantikkannya bak primadona mati karena AIDS dan ratu semok yang masih keturunan tionghoa terkena sifilis dan sirna
mereka berguguran menuai buah dari kemaksiatan pekerjaan ini

ratu jablai tanpa senyuman menatap kosong ke arah kaca
dahulu banyak lelaki mengetuknya sekedar mencari perhatiannya
sekarang mereka hanya melewatinya dengan tatapan kosong dan hampa
tergesa menuju istana baru tempat pelacur muda dari generasi yang lebih belia

ya orang perlahan telah melupakkan kemolekkan tubuhnya
duapuluh tahun lamanya dia dipuja para pencari cinta
sebagai sosok primadona penguasa seantero komplek prostitusi
kini hanya seperti sebatang gedebog pisang tua tak berharga
andai suatu saat dia tumbang
takkan ada yang memperdulikannya....

🍀

2. Bahasa Cinta di Tengah Lenyapnya Cinta oleh Wakhid Syamsudin (Mentor Kelas Fiksi)

"Pergilah, Nak, tinggalkan Rohingnya. Biarkan kami menunggu Izrail, kemana pun pergi, toh, ia akan memanggil, meski di sini kami hanya bisa menggigil."

Kata-kataku di selaksa tangis yang tidak kaugubris di antara kecemasan dan ancaman tragis. Dua keranjang kauikat meski kami tak sepakat karena apalah arti nyawa kami yang sudah nyaris sekarat dalam dekap jazad yang kehilangan daya kuat.

"Aku akan membawa kalian serta, karena kalian bagiku permata, bahkan tidak akan pernah rela kalian keluar airmata, karena kalianlah cinta."

Ucapanmu tulus dari cekung wajahmu yang tirus ditopang tubuhmu yang kian kurus karena kami tak lagi sanggup mengurus. Kau angkat kami satu persatu, merebah di keranjang itu, meski harapan selamat pun belum tentu, meski kau tahu nyawa bisa melayang sewaktu-waktu, tak menyurut tekadmu yang membatu.

"Kau memanggul surga, Nak. Surga akan menyertaimu selalu, Nak."

Tidak kaupedulikan lelah agar kami tetap di atas, kaubawa langkah kaki telanjangmu pada tanah berlumpur yang kaulintas, hutan dan bukit serta sungai kauretas, agar sesegera mungkin melewati tapal batas, agar nyawa selamat tuntas, karena kampung halaman hanya menyisakan kisah nahas.

Nizam, kunamai engkau ketika terlahir, bahkan kami tak habis pikir, sedemikian tekadmu membawa kami menyingkir, dari jangkauan laknat para kafir. Nizam, kujumpai Uwais Al Qarni, sahabat Nabi yang pantas disegani, karena hidup berlimpah bakti, menggendong ibunya ke tanah suci, demi menunaikan haji. Dan Uwais terlahir di sini, dengan nama Nizam si anak kami, surgamu menanti, segala hidupmu kami ridhai.

🍀

(Komentar Uncle Ik: tulisan gedebog tua menyalahi aturan pertama dalam prolis, curahan perasan. Prolis melulu berisi keberpihakan, entah itu suka, jijik, benci, melaknat, simpati dll. Di tulisan itu hanya menceritakan kisah Pelacur tua yang dibumbui diksi dan analogi sehingga kesan emosi yang mau diangkat terasa kurang. Tulisan kedua mengingatkan saya sama prolis lama, keterikatan diksi kuat, saling membelit, jadi terasa kurang bebas. Tapi pemilihan diksi nya bagus)

3. Me, A Jew oleh Fathin

They say if there is heaven in the meadow. But I only found the widows. Their husbands send to the war. Women can’t move, because there is too far.

Head stays on the ground. If you don’t want to hear the deadly sound.  Bombs on the north, sulfur on the south. “One Palestinian’s life is a ticket to heaven,” government said. They dressed so beauty, speak about humanity. But slaughtering the children with no mercy. Should I believe the government?

I walk along the night. Wondering, where is the knights? Head beheaded, heart betrayed. The country clap, when the soldiers take a nap. On the hill of dead bodies, where women and children buried with their worries.

They say, if war is for justice. But I smell it is only for a prestige. Above thousands of people that killed. Yet, they say if God’s order still doesn’t fulfilled.

I walk along the day. Meet a man called Faraday. “Another woman is raped in front of her baby!” he said. It’s not only a story. It’s a May day story, I’m afraid. They kill the Palestinians. Spread fear beyond the tanks’ shadow. I don’t get what Heaven’s will. If there’s only tears and sorrow?

I still in Jerusalem, hope there is no other ruin. But the soldiers push me to join, torture  the Palestinians. They say if  it’s a patriotic. I say it’s a genocide.

"You are a Jew. You should own Jerusalem!” a soldier speak.
"I am a Jew. I should brother with the Moslem!” I won’t repeat.

So I leave him, walking into the dome. Still stand like a stone, think about human and throne.  Two pity kids come, tell me if there is no tomorrow. No warm pillow, houses always on fire. Make me won’t to swallow, that government order. It’s tons of lie.

What is the Heaven’s will, if there’s only tears and sorrow?

🍀

4. Melulu Rindu oleh Lia Anelia

Meringkuk di sudut ruang rindu. Seperti biasa. Hanya aku. Dalam penantian tanpa temu. Selalu berakhir dengan pilu. Namun tak jua buatku menyerah. Aku tetap setia menunggu. Hingga batas waktu.

Batas waktu? Batas yang mana? Jika sabarku tak kenal waktu. Berwindu ku sabarkan hati. Hingga kini, mungkin selamanya. Ya, selamanya.

Selama apa? Mungkin hingga tutup usia? Atau hingga nirwana? Entahlah. Akankah rinduku terus menyepi di sudut hati hingga negeri abadi? Mengapa sedalam itu? Aku pun tak tahu. Hanya rasa ini yang kian erat mengikatku tanpa tahu mengapa.

Mengapa harus aku sendiri yang menyimpan luka? Sedang kau asik dengan mimpimu. Berlayar kemanapun engkau mau. Meraih cita, katamu. Sebersit tanya kadang terlintas begitu saja. Namun aku tak kuasa meminta. Mematahkan asamu demi sebuah hati, yang mungkin tak berarti bagimu.

Bagimu hadirku hanyalah semu. Seumpama debu, yang terlihat hanya jika ada cahaya. Walau nyatanya udara yang kau hirup pun tak lepas dari partikel debu, bukan? Ya, akulah debu yang terhirup dalam setiap udara yang kau hela, walau kau tak pernah menyadarinya.

🍀

(Komentar Uncle Ik: ini bagus, prosa liris pop romantis. Tapi, niilai rasa dan pesan yang terkandung di dalamnya juga harus kuat. Tolok ukurnya, kalau pembaca belum menangis, merasa sesak, terharu atau jijk, berarti kita harus belajar lebih banyak lagi)

Pesan dari Uncle Ik di akhir sesi kelas adalah membacalah. Membaca itu penting, tapi lebih penting lagi memilah apa yang kita baca. Biasakan membaca buku yang punya kualitas bagus. Perbandingannya turun 30%. Maksudnya, jika kita membaca sebuah buku dari seorang penulis dan mempelajari nya dengan baik, maka ilmunya akan kita kuasai 70%.

Coba kalau kita pilih buku dengan kualitas buruk, berapa persen penurunan kualitas yang kita dapat. Waktu kita membaca prolis, kita di ajak tamasya, melupakan separuh dunia dan jadi buat kita percaya kalau kita seutuhnya memang manusia.

Karena aku hanyalah manusia biasa, yang mempunyai Bebi Jesi adalah karunia-Nya yang harus dijaga. Maka, meskipun kelas sangat ramai dan padat berisi, aku baru bisa bergabung di akhir sesi, alhamdulillah masih sempat posting prolis yang kutulis. Rezeki juga bisa langsung ditanggapi oleh Uncle Ik.

5. Hujan di Hatiku oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Mungkin Tuhan sudah tahu, hatiku penuh sendu. Limbung menguasai kepalaku sama seperti tubuhku.

Hujan jatuh di hatiku, membasahi setiap relung sukma nun jauh. Apakah kau tahu sebenarnya itu yang menguasai hariku kali ini?

Tanpa komando tanpa permisi, basah membanjiri mataku. Apakah hanya aku yang masih saja suka begini? Ingin marah, ingin menawar tapi apalah kuasaku.

Basah mataku samar terlihat, kututup sunggingan senyum dan jawaban yang merangkak pasti. Basah mataku takkan terlihat, karena Tuhan mengirimkan hujan untuk menghapus sembab agar menjadi tak jelas nampak.

Bukan, bukan karena aku tak bisa menahan. Mungkin memang harus terjadi, sebab semua sudah tercatat. Nun jauh di sana. Di tempat yang dijaga ketat oleh-Nya.

Hujan jatuh di hatiku, hujan juga turun membasahi langkahku. Meski begitu tetap jua kukuatkan hatiku.

Aku bukan lagi anak baru yang masuk kerja kemarin sore. Aku sudah belasan tahun berkutat dengan tugas ini. Mestinya, semua sudah kupahami. Demi sebuah kesetiaan pada negara, keluarga dan diri hamba.

Mungkin hati sedang tidak bisa kukuasai.

Hujan di hatiku sudah biasa. Sebiasa aku mengurainya menjadi pelangi agar tak hanya basah menyertai, tapi ia akan mengering dengan hadirnya mentari pagi.

Bukankah pelangi biasa datang selepas hujan sebentar lalu pergi?

Hujan di hatiku bisa jadi hanya terjadi padaku. Sama seperti hujan yang kadang turun di lokal tertentu.

Buktinya, hari ini. Hujan yang sama saat kulewati medan kerja dengan sendunya hati. Separuh kulewati dengan berbasah diri, seperempat lagi hanya rintik belaka, bahkan seperempat sisanya masih kering seperti saat hujan belum tiba.

Ah, mungkin hujan hanya jatuh lokal di hatiku saja.

Mungkin kini bisa jadi kau sedang tertawa.

🍀

Komentar Uncle Ik untuk tulisanku: Temanya umum, diksi lumayan, pop romantis juga 😬)

Terima kasih ya Uncle Ik atas semua Ilmu Pengetahuannya, dan Pencerahannya. Barakallaah.

Oh, iya. Kalau ingin berkenalan lebih dalam dengan Uncle Ik, bisa klik www.achmadikhtiar.blogspot.com
atau www.uncleik.blogspot.com. Di dua web itu pasti banyak tulisan prosa lirik. Aku yakin kamu pasti akan segera melirik, hehehee.

Demikian resume materi Prolis Lanjutan versiku. Dilarang copas tulisan ini tanpa seizinku, ya. Oke.

Salam santun, Ibu Jesi.

Sumber tulisan: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day10

@Rumah Clever, Cilacap, 10 Desember 2018: 19.31.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.
Guru bi(a)sa

Sumber Gambar: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#Resume
#Materi Fiksi
#Achmad Ikhtiar

Kerempongan Timbangan

14.31 0

Kerempongan Timbangan
Oleh Betty Irwanti

Ibu Jesi melonggarkan jarit yang sedari tadi dipakai untuk menggendong anaknya, Jesi. Baru saja ia akan membaringkan Jesi di alat timbangan dekat pintu posyandu, Jesi jejeritan. Balada Ibu Jesi dengan kerempongannya segera dimulai. Kerempongan sesi satu sebab percobaan naik alat timbang sesi satu, gagal.

Ibu ajaklah Jesi masuk ke ruangan posyandu. Ngisi daftar, sambil meletakkan buku pink posyandu penimbangan.

"Ibu, Jesi mau?" Jesi menunjuk-nunjuk baskom besar di sebelahnya.

"Mau, apa sayang? Donat atau telur puyuh?" tanya Ibu kader PKK yang jaga lapak.

"Jesi mau donat!" jawab Jesi.

"Berapa?"

"Dua aja, Mbah!" jawab Ibu Jesi. Ibu yang jaga lapak memang sudah tua, jadi dipanggilnya Mbah.

"Dua, jadi berapa Mbah?"

"Dua ribu aja sama kas."

"Oh, ya. Tapi nanti ya. Duitnya di tas"

"Iya, bawa aja dulu!"

"Nanti dapat jatah makanan tambahan ya, Bu Jes! Tanda tangan dulu, tiga kali!" tanya Ibu kader yang berada di depan Ibu Jesi.

"Oh! Lha cepithir yang kemarin dibagi buat apa ya?"

"Coba, mana! Dikumpulin sini!"

"Itu, di dalam buku pink. Sebentar tak cari dulu."

Ibu Jesi membuka buku pink, lalu mengambil barang yang dimaksud. Jesi, mengambil lembaran yang lain.

"Ini, Bu!" Ibu Jesi menyerahkan cepithir bertuliskan PMT Posyandu Cigebret.

"Ibu, ini apa?" Ibu Jesi pun menoleh. Sedikit kaget, "Lho, Jes. Itu ceklist BKB sayang. Kenapa di sobek?"

Jesi, nangis. Kerempongan kedua, berlangsung.

"Gak, papa sayang! Nanti Ibu minta lagi sama Bunda di sana, jangan nangis ya?"

"Ayuk, pulang! Ayuk, pulang!"

Ibu Jesi keringetan. Berjalanlah dia ke pojok ruangan, dekat anak tangga.

"Jesi, mau nenen?"

Jesi menggeleng.

"Jesi, mau naik tangga?"

Jesi menggeleng.

"Jesi, mau susu!"

Jesi menjawab sambil menunjuk anak kecil yang sedang minum susu coklat dengan wadah bergambar kartun.

"Iya, ayuk beli!"

Digendonglah Jesi kemudian, melintasi alat penimbangan. Sedikit tidak antri, Ibu Jesi mencoba membujuk.

"Jes, naik ayunan yuk!"

"Iya, Jes. Biasanya kamu mau ayunan, nggak mau turun. Enak lho! Goyang-goyang!" bujuk Ibu Kader yang bertugas nimbang. Bujukan gagal. Sesi dua masih dengan kerempongan.

Ibu Jesi membawa anaknya keluar, menuju toko depan.

"Jesi, mau beli apa?" tanya penjaga toko.

"Biasa, tante. Favorit."

"Oh,,,"

Jesi mengambil susu kotak coklat di dalam lemari pendingin. Setelah di dapat apa yang dimau, Jesi minta gendong Ibunya.

"Bayar nanti ya, Te. Uang di tas!"

"Iya, gak papa. Bawa aja!"

Kembalilah Jesi dan Ibu Jesi ke tempat posyanduan. Jesi yang digendong, asyik dengan susu kotaknya sampai belepotan. Sampailah di depan pintu, dekat alat timbangan.

"Pakai alat yang bisa duduk itu aja. Harus jadi ditimbang lho, masa gak ditimbang?" Ibu Jesi memberi usul sama Ibu kader yang bertugas menimbang.

Jesi jejeritan, bikin alat timbangannya eror. Menunjuk angka yang salah.

"Jesi, nanti aja ya. Masa beratnya 5 kg. Eror ini!"

Kayaknya ibu kader dan alat timbangannya grogi ngadepin Jesi. Oh, my God.

Kerempongan ketiga masih berlangsung. Jesi dan Ibunya sudah berada di pojokan dekat tangga. Ibu-ibu sudah terlihat memadati ruangan. Hiruk pikuk pembagian Makanan Tambahan sudah di mulai. Ada dua pack roti mari, jatah dari provinsi, kata ibu kaur kesejahteraan desa. Okelah. Terima saja, toh ini rezeki. Iya, kan!

"Wardan Alviano!" suara terdengar. "Iya, ada. Itu anaknya Bu Mini! Biar saya yang terima!" jawab Ibu Jesi.

"Penerimaan simbolis, ya Bu! Mau di foto! Data mau dilaporkan propinsi."
Jelas ibu kader yang memanggil. Ibu Jesi menangguk. Jesi nangis. Ibu Jesi mundur.

"Yasmin! Kamu yang maju sana! Jesi nangis."

Ibunya Yasmin yang masih sepupu Ibu Jesi menurut.

"Ah, Jesi mah iya kok!"

Jesi tambah nangis. Duduklah Ibu Jesi kemudian, sambil menyodorkan sebuah tawaran pada anaknya.

"Jesi, mau nenen?"

"He,eh. Dua!"

Apakah itu maksudnya, biarkan hanya Ibu Jesi dan Ayah Jesi yang tahu.
Beberapa lama kemudian, Ibu Yasmin menyerahkan dua pack roti mari.

"Terima kasih, ya Min!"

"Iya,!"

Jesi sudah mulai bisa menyesuaikan, mau naik turun tangga.

"Cleverona Bintang Aljazira" suara terdengar keras. Ibu Jesi berlari, "Iya, hadir!" Diterimalah dua pack seperti jatah untuk Wardan tadi. Ibu Jesi teringat sesuatu.

"Jesi, kita ayunan yuk!"

Tanpa perlu menunggu jawaban, Ibu Jesi sudah menggendong anaknya. Menuju alat timbangan di depan sana.

"Ayunan, yuk Jes! Bantu pasang alat ini ya, Bu!"

Jesi nangis.

"Sebentar, sayang! Sebentar!"

"Berapa, Bu?"

"9,5"

"Kok turun ya?"

"Rata-rata memang pada turun"

"O"

Timbangan berhasil. Meski dengan tangisan dan kerempongan Ibu Jesi selanjutnya.

Apakah itu?

***

Sungguh, jika dituliskan semua akan bisa jadi cerita 10 halaman.

Ibu Jesi menggendong Jesi ke luar. Jesi minta ke sekolahan. Kebetulan sekolahannya dekat dengan tempat posyanduan.

Gambar diambil sebelum berangkat posyanduan, saat Ibu Jesi menjemput Jesi. Jesi terlihat sangat senang.

Sehat selalu ya Jesi, jadi anak solehah, cerdas dan ceria selalu. Aamiin.

****

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day7

@Rumah Clever, Cilacap, 7 Desember 2018: 14.14.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.