Kangen Bukber

23.18 0

Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day16
#OneDayOnePost
#Bukber

Kenapa harus ada bukber? Biar aku dan kamu bisa duduk bersama pada waktu dan tempat yang paling romantis. Kamu enggak tahu kalau aku diam-diam memerhatikanmu, karena di dekat kita ada teman-teman SMP kita.

Kenapa harus ada bukber? Supaya aku dan kamu bisa ketemu setelah berrtahun-tahun lamanya kita terpisahkan oleh jarak san waktu. Setahun yang lalu kita pernah hampir bertemu dalam acara bukber di rumah makan milik teman SMA, tapi atas kuasa-Nya urung jua agenda itu.

Kenapa harus ada bukber? Supaya aku dan kamu bisa saling memperkenalkan pasangan satu sama lain, agar pertemanan senantiasa berada dalam bentangan izin.

Kenapa harus ada bukber? Karena aku rindu padamu. Juga rindu padanya, teman-teman semasa SMA dulu. Pernahkah kamu bermimpi memakai seragam putih abu-abu lagi? Jawabanku jelas pernah. Karena entah mengapa rasanya rindu sekali dengan masa indah remaja masa milenium 2000-an.

Aku rindu saat bukber SMP beberapa tahun lalu, saat aku masih sendiri. Meski sepi karena memang tak banyak yang hadir tapi aku senang. Bahagia karena aku bisa kembali menjalin silaturrahmi kembali.

Kapan ada bukber SMA lagi? Kapan ada reuni lagi? Aku ingin sekali berkunjung ke sekolahku yang sekarang masih beralamat di Jalan Kalimantan Cilacap itu. Ya Rabbi, sungguh aku merindu.

Rindu itu sangat menggelayut, sampai kadang membuatku terhanyut. Andai bisa aku sekolah lagi, aku ingin bersekolah. Tapi apakah itu mungkin? Kalau suamiku bisa jadi mungkin. Sebab mukanya masih cute, memakai seragam putih abu pun sepertinya masih banyak yang mengira kalau beliau masih sekolah. Beliau selalu terlihat lebih muda dari umur yang sesungguhnya. Sedangkan aku?

Seperti waktu itu, saat berada di sebuah rumah sakit bersalin, saat program baby sekitar lima tahunan yang lalu.

"Assalamualaikum, selamat pagi Mas." tanya seorang petugas pendaftaran di loket depan.
"Wa'alaikumsalam, saya mau daftarkan istri saya."
"Ada KTP?"
Suamiku menyerahkan KTP-ku.
"Silakan tulis di formulirnya ya Mas. Ada data Mas juga, disitu."
Aku sibuk menulis formulir itu kemudian, dan ada yang salah sedikit di tahun lahir suami. Aku coret sedikit. Tapi tetap kuserahkan pada petugas tadi.
"Silakan tunggu ya, saya entri dulu. Nanti jika sudah siap kartunya, saya panggil"

Aku dan suami duduk di kursi ruang tunggu. Bersebelahan dengan beberapa pasangan yang memang datang untuk periksa juga. Sepertinya begitu.

Sepuluh menit kemudian namaku dipanggil. Aku menerima kartu periksa milikku, juga suamiku. Saat kubaca data di kartu, rasanya ada yang keliru.

"Mas, mas. Tahun lahirnya kok 1992?" tanyaku pada petugas pendaftaran yang baru saja menyerahkan kartu periksa padaku.
"Saya isi sesuai data yang Mbak isi."
"Iya, tadi saya isi 1982 kok?"
"Sebentar saya lihat lagi" jawabnya sambil mencari formulir yang tadi kuisi.
"Ini Mbak!"
"Ini salah angka Mas, makanya saya coret. Tolong dibetulkan ya!"
"Baik bu, tapi sementara pakai yang sudah jadi dulu."
"Nggak bisa langsung ganti Mas?"
"Prosedurnya begitu, data saya rubah tapi kartunya tetap."
Aku manggut-manggut sambil berjalan ke arah suamiku yang pasti sedari tadi sudah menunggu. Bisa jadi beliau bertanya, ada apa denganku.

Tapi ternyata, beliau tidak sempat bertanya karena namaku keburu dipanggil ke ruang perawat, untuk cek tensi dan lain-lain. Sesekali aku memandangi suamiku. Ah, memang. Tidak ada yang perlu dibetulkan. Data tahun lahirnya salah? Biarkan saja. Memang beliau masih pantas kok ukuran segitu. Lihat saja penampilannya, kaos warna biru terang dan jeans bermerek itu sangat pas. Membuatnya sepuluh tahun lebih muda dari umurnya yang sebenarnya.

"Yang, habis ini kita mau ke mana?" tanyaku spontan pada suamiku tercinta.
"Gimana kalau kita pulang sorean saja. Sambil nunggu buka."
"Tapi ini masih siang, yang,"
"Kita ke Masjid Agung dulu yuk! Ada acara kajian di sana."
"Kajian? Kajian apa? Tahu dari mana ada kajian?"
"Kajian tentang Qur'an. Kan nanti malam malam tujuh belas Ramadhan. Malam Nuzulul Qur'an. Aku tahu dari grup sekolahan dong."
Aku manggut-manggut. Oke baiklah. Cuss otw to Masjid Agung Darussalam Cilacap.

Kami berdua khusyuk menyimak kajian demi kajian. Tidak terasa sudah hampir datang waktunya salat 'ashar. Kami salat sekalian. Kemudian cuss, kami otw pulang ke rumah. Sudah ada Kakak dan Kedua orang tua yang menunggu kepulangan.

"Yang, jalan yang pelan saja ya. Aku kepengen mampir bukber."
"Bukber?"
"Bukber sama siapa?"
"Bukber sama ayang,"
"Lha, tiap hari juga bukber, di rumah."
"Aku kepengen bukber di luar, biar kelihatan spesial begitu."
"Halah, gaya. Kan kasihan Mamah sudah masak di rumah buat kita."
"Oh, jadi nggak mau nih ceritanya?"
Aku diam. Suamiku juga diam.
"Beli bakso aja, Mamah kan suka bakso."

Ya udah deh, bukbernya lain kali saja kalau begitu.

Aku ingin bukber. Tapi bukber yang istimewa. Se istimewa hari itu dan hari-hariku yang lainnya. Apalagi Ramadhan tahun ini begitu istimewa. Istimewanya apa? Ada suami yang tetap terlihat lebih muda sepuluh tahun dari umur aslinya dan ada Bebi Jesi yang semakin hari semakin terlihat luar biasa.

Ah, rasanya nuansa bukber itu setiap hari selalu ada di Rumah Clever. Bagaimana tidak? Suasana riang saat bedug Maghrib menggema dari masjid dekat rumah selalu menjadi pertanda gembira yang menjadikan semua anggota keluarga berkumpul di satu titik, di depan televisi, di dalam ruang keluarga untuk bercengkerama.

Ah, rasanya nuansa bukber itu selalu istimewa sebab ada menu-menu istimewa meski itu sederhana. Seperti hari ini ada sayur bening bayam dan sayur oyong tahu juga ada gorengan. Gorengan itu jadi menu wajib yang dicari tiap sore sambil ngabuburit bersama Bebi Jesi, Kakak Fatih, Ayah Jose dan Ibu Jesi.

Jadi, apa menu bukbermu bersama keluarga hari ini? Jika menurutmu menunya biasa saja, coba saja menu-menu di bawah ini. Lengkap untuk sajian sebulan penuh sejak hari pertama. Rekomendasi menu ini Ibu Jesi dapat dari WAG Grup TNB 22. Silakan di simak ya.

Rekomendasi Menu Ramadhan Tahun 2019, berikut ini:

*MENU BUKA PUASA 1 BULAN*

*HARI KE 1*

1. Jus Buah
2. Sup bakso sayuran
3. Perkedel kentang
4. Ayam goreng tepung
5. Sambal kecap
6. Kerupuk Udang

*HARI KE 2*

1. Es Teler
2. Sayur lodeh
3. Ayam Panggang Bumbu Kecap
4. Rempeyek teri atau ikan asin
5. Tempe/tahu goreng
6. Sambal bajak

*HARI KE 3*

1. Es Kelapa Muda
2. Rawong daging
3. Perkedel Kentang
4. Tempe Goreng
5. Sambal terasi
6. Kerupuk udang

*HARI KE 4*

1. Es Dawet sagu
2. Sayur asam Jakarta
3. Pepes ikan
4. Ikan goreng
5. Dadar jagung
6. Sambal terasi

*HARI KE 5*

1. Es Cincau
2. Capcay kuah
3. Ayam tepung saus lemon
4. Mie Goreng sayuran
5. Bola-bola tahu

*HARI KE 6*

1. Kolak pisang dan labu kuning
2. Soto ayam lengkap
3. Balado ceker pedas
4. Kerupuk udang
5. Sambal kemiri

*HARI KE 7*

1. Es Teh manis
2. Sayur kunci bayem dan jagung manis
3. Ikan goreng
4. Dadar jagung
5. Sambal goreng udang/kerang
6. Sambal terasi

*HARI KE 8*

1. Es Garbis serut
2. Sayur Lodeh nangka muda
3. Empal Gepuk
4. Rempeyek udang
5. Kerupuk

*HARI KE 9*

1. Es mutiara
2. Sup Makaroni
3. Krengseng Daging
4. Tempe Goreng Tepung
5. Kerupuk

*HARI KE 10*

1. Es Kopyor
2. Rendang Daging
3. Oseng Daun Singkong + teri
4. Tempe goreng
5. Sambal cabai Ijo

*HARI KE 11*

1. Setup Tape manis (Es Tape)
2. Cah Baso sayuran
3. Mie kuah baso
4. Udang Goreng Tepung
5. Tempe Goreng Tepung
6. Sambal bajak

*HARI KE 12*

1. Es timun suri
2. Sayur asem kangkung
3. Sate ampela pedas
4. Perkedel Jagung
5. Sambal terasi
6. Ikan asin goreng tepung

*HARI KE 13*

1. Es Cao gula gendheng
2. Bali ayam
3. Pecel sayuran
4. Perkedel Kentang
5. Telur dadar

*HARI KE 14*

1. Es jeruk manis
2. Ikan bakar pedas
3. Cap Cay Goreng
4. Tahu telur isi bihun
5. Cah Kacang panjang

*HARI KE 15*

1. Bubur kacang hijau
2. Sup ayam
3. Fillet ikan kakap
4. Perkedel kentang
5. Sambal kecap
6. Kerupuk udang

*HARI KE 16*

1. Kolak Pisang kolang-kaling
2. Sayur bobor bayam dan jagung sisir
3. Ayam Bumbu Rujak
4. Tempe Goreng Tepung
5. Sambal

*HARI KE 17*

1. Sop buah
2. Kare ayam + tahu
3. Orek tempe
4. Sambal bajak
5. Kerupuk

*HARI KE 18*

1. Es Buah rumput laut
2. Sambal goreng labu siam + tempe + udang, dan cecek
3. Bihun goreng sayuran
4. Rempeyek Kacang
5. Sambal terasi
6. Kerupuk

*HARI KE 19*

1. Es Pisang ijo
2. Paru Goreng
3. Sup oyong bakso
4. Rempeyek teri
5. Tahu telur
6. Sambal bawang

*HARI KE 20*

1. Es kelapa muda
2. Soto daging
3. Capjay goreng
4. Fillet ayam tepung
5. Sambal kemiri
6. Kerupuk udang

*HARI KE 21*

1. Es Dawet beras
2. Opor ayam
3. Sambal goreng ati kentang
4. Kerupuk udang
5. Perkedel kentang
6. Sambal bajak

*HARI KE 22*

1. Kolak pisang ubi
2. Cah kangkung udang
3. Ikan goreng
4. Tempe goreng tepung
5. Dadar sayuran
6. Sambal bawang

*HARI KE 23*

1. Es timun suri
2. Rawon tulang
3. Tempe goreng tepung
4. Dadar telur
5. Sambal terasi
6. Kerupuk udang

*HARI KE 24*

1. Bubur Sumsum campur
2. Sayur asem Jakarta
3. Empal daging
4. Empel-empel tempe
5. Kerupuk Udang
6. Sambal terasi

*HARI KE 25*

1. Kolak Pisang
2. Sayur bobor
3. Ayam goreng lengkuas
4. Perkedel Jagung
5. Tahu bacem
6. Sambal tomat

*HARI KE 26*

1. Es Cincau
2. Ayam kecap pedas
3. Tumis sawi
4. Sambal Goreng Kentang + Udang
5. Kerupuk Kulit

*HARI KE 27*

1. Es teller
2. Krengsengan daging telur puyuh
3. Oseng sayuran
4. Tahu goreng
5. Sambal bawang
6. Kerupuk

*HARI KE 28*

1. Es Campur
2. Sayur kunci bayam dan oyong
3. Ayam bumbu bali
4. Perkedel Jagung
5. Tempe goreng
6. Sambal bawang
7. Kerupuk

*HARI KE 29*

1. Dawet campur
2. Tumis brokoli udang
3. Ayam Bakar
4. Sambal pencit
5. Tempe goreng
6. Lalapan

*HARI KE 30*

1. Es Pisang Ijo
2. Mie goreng sayuran
3. Ayam kecap
4. Sambal goreng buncis dan telur puyuh
5. Telur dadar
6. Sambal bajak

Semoga bukbermu menyenangkan ya. Selamat mencoba.

Salam untuk semua. Selamat malam. Selamat istirahat.


🌸

@RumahClever, Cilacap, 21 Mei 2019: 23.13.
Mulai menulis pukul 22.22.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1656kata

Kupat Kecemplung Santen

10.52 0


Ramadhan Writing Challenge
#RCO 
#Day15
#OneDayOnePost
#Ketupat

Ketupat adalah makanan, yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa, berbentuk kantong segi empat dan sebagainya, kemudian direbus, dimakan sebagai pengganti nasi. Itu ketupat dalam arti yang sebenarnya.

Ketupat dalam bahasa Jawa biasa disebut Kupat. Kata itu sering dipakai untuk penutup kalimat. “Kupat kecemplung santan, menawi lepat nyuwun pangapunten.” (Ketupat berkuah santan, banyak salah kata mohon dimaafkan.)

“Maafkan Ibu ya Yah, kemarin waktu ayah mau menginap ibu malah nggak bangun waktu sahur.”
“Lha, kan Ibu memang lagi nggak sahur. Jadi nggak aku bangunin?”
‘Iya, maksudnya kan kepengin mengantar begitu.”
“Lah, paling kamu mau nyium. Cium aja sekarang, pakai minta maaf segala.”
Ayah Jose sepertinya ke-GR-an.
Heheheh.

Segala kesalahan mohon dimaafkan. Jika saja setiap ada suatu masalah semua rebutan salah dan minta maaf tidak akan ada rame-rame viral yang tak tentu, semacam banyak kasus di Tv itu. Bikin pusing pala barbie, kan? Mendingan bikin flyer persiapa VCT saja biar ada gambaran apa yang mau disampaikan saat tugas jadi presenter nantinya.

Kemarin di sekolah sempat bikin satu flyer dan harus bikin satu lagi. Oke baiklah, mumpung BJ sedang tidur pula, semoga dia lelap jadi ibunya bisa semedi dengan sempurna.

Dan jreng... jreng... flyer kedua jauh lebih bagus dibanding yang pertama. Entahlah kenapa begitu. Mungkin karena yang pertama masih coba-coba. Yang kedua sudah lebih ke taraf belajar dari yang pertama.

Bebi Jesi saja banyak belajar lho di bulan Ramadhan tahun ini. Dia belajar bersosialisasi dan mengenal teman sebayanya. Ia jadi betah berlama-lama di masjid sambil menunggui ayahnya salat tarawih.

Sampai-sampai saking betahnya, ia sampai pup saat masih berada di masjid.
“Ibu, Jesi ee!”
Ibunya mendekat, mencium bau tida sedap kemudian.
“Ibu, Jesi minta maaf ya?”
“Nggak papa sayang,”
“Jesi mau wawik. Jesi manut...”
Ibunya menggendong Bebi kemudian lalu membawanya ke kamar mandi dekat tempat wudu. Iya, beneran. Bebi Jesi manut. Dia tidak menangis. Justru ia ceria, main air dan sibuk bercerita tentang sesuatu.
“Ibu, Jesi anak pinter ya?”
Ibunya bergeming, sibuk membersihkan kotoran yang menempel di tubuh puteri kecilnya.
“Jesi tadi lari-lari sama Mbak Tami. Terus main sapu. Terus Jesi nyapu. Terus main jaranan.”
Ibunya sudah selesai, “Jesi pakai celananya dulu ya?”
“He eh”
“Ih, Jesi memang anak pinter ih. Anaknya siapa sih?”
“Anak Ibu Betty... Irwanto”
“Hei...” jawab Ibu Jesi sambil mencium anak semata wayangnya.
“Ibu, Jesi gendong...”

Ibu Jesi menggendong Bebi kemudian, sambil sedikit kebingungan mau berbuat apa dengan popok instan yang bau ini.
“Jesi, main lagi sama Mbak Tami ya...”
Bebi Jesi turun dari gendongan. Ia melihat ada sesuatu yang bisa dijadikan pembungkus lalu ia berlari membuangnya ke tempat sampah yang terlihat sejauh mata memandang.

‘Maafkan aku harus membuangnya di situ, sebab aku tak mungkin membuangnya ke tempat biasa aku membuang sampah.’ gumam ibu Jesi sambil berlalu dan kembali menghampiri Bebi Jesi yang sedang berlarian dengan Tami dan teman-temannya.

“Ibu, Jesi mau cari ayah,”
“Boleh... itu ayah ada di depan”
“Yang kayak kemarin, Ibu?”
“Iya...”

Bebi Jesi berlarian. Dan ternyata dia sampai di pintu depan sebelah kanan masjid, mungkin Ayah Jose ada di sebelah sana. Sepanjang penglihatan mata Ibu Jesi, anaknya itu sedang mempraktikkan gerakan salat serupa jamaah salat tarawih yang bapak-bapaknya tinggal dua shaf saja. Eh, tunggu. Ibu-ibunya tinggal berapa? Satu-sua-tiga, alhamdulillah massih tiga shaf.

Ibu Jesi jadi rindu salat tarawih. Dan rindu tadarus lagi. Ketika nanti sudah sembuh dari menstruasi ia harus mengejar ketertinggalannya agar bisa tetap khatam sesuai target. Aamiin...

“Ibu, ayah sudah selesai salatnya?”
“Belum, sebentar lagi.”
“Jesi mau nungguin.”
“Iya, nanti nungguin Mbah Kakung juga.”
“Mbah Kakung sama Kakak?”
“Nggak, Kakak nggak tarawih?”
Bebi Jesi bergeming, sibuk memperhatikan anak-anak yang berlarian menuju tempat bedhug berada.

“Jesi mau nabuh bedug?”
“He eh”
Dia ikut berlarian, ibunya mengikuti dari belakang kemudian ia menengok ke dalam masjid.

“Jesi, itu Mbah Uti...”
“Mana?”
“Itu...” tunjuk Ibu Jesi sambil memeluk Bebi. BJ pun berlari menghampiri Mbah Uti kemudian kembali lagi.

“Ibu, bedhug suaranya keras. Jesi takut.”
“Kan belum ditabuh sayang, nanti suaranya terdengar keras kalau sudah ditabuh.”
“Jesi mau cari ayah...”
Bebi berdiri lalu berlari. Bebi oh Bebi... apa sih maumu yang sebenarnya?

“Jangan lari-lari Jesiii...”
“Iya, Ibu... Maaf... Jesi nggak lari-lari. Jesi jalan aja ya...”
“He eh.”

Tuh, kan. Bebi Jesi saja sering minta maaf. Apalagi Ibu Jesi dan Ayah Jose. Masalah sehari iu harus selesai hari itu, dan akan berakhir dengan minta maaf dan saling memaafkan. Insyaallah.

Minta maaf itu adalah kata-kata sakral. Lebih sakral lagi saat lebaran nanti. Semua berebut minta dimaafkan. Dan insyaallah semua juga berebut ingin memaafkan. Setelah minta maaf apakah kita akan membuat salah lagi?

Kan masih ada lebaran tahun depan, kita bisa minta maaf lagi kan?

Tuman...
Janganlah pernah berpikir demikian.

Memangnya kita yakin hidup kita akan sampai lebaran tahun depan?

Semoga saja ya...

Semoga lebaran tahun ini dan tahun depan serta depannya lagi kita akan temui dengan senang hati. Semoga lebaran tahun ini kita akan menemui sesuatu yang istimewa seperti malam Nuzulul Quran dan malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari malam seribu bulan.

Semoga lebaran tahun ini kita juga akan menemui sesuatu hal yang penuh keberkahan dan kebaikan. Aamiin...

Eh, BTW ada yang istimewa lho kemarin. Saat sepulang sekolah, ayah sumringah sambil menunjukkan amplop putih.
“Ini buat nyaur Ibu Maya dulu apa Bu? Ayah kepikiran terus. Kan kita bakal ngambil lagi pacitan buat lebaran. Rikuh kalau kebanyakan.”
“Boleh-boleh...”
“Tapi Ayah belum ambil, je”
“Ya besok. Sekalian beliin kartu internet buat Ibu. VCT sudah mau on kayaknya. Riweh banget urusan sama signal.”
Ayah Jose mencium Bebi, jadinya BJ terbangun deh. Untung laptop sudah dimatikan. Aman... amaan.
Dan pagi ini, Ibu Jesi senyum-senyum sendiri saat membaca WA Grup Arisan Pejabat Terass, (ih ini yang menamai Bapak Harijono, S.Pd. MM. Hehehe, calon haji mabrur. Aamiin)
[20/5 13.23] Aa ayah Jose: Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....
[20/5 13.23] Aa ayah Jose: Selamat siang semua.
[20/5 13.24] Aa ayah Jose: Monggo arisan.... Arisan.... Arisan....
[20/5 13.25] Aa ayah Jose: 😁😁😁😁
[20/5 13.26] Harijono Alaz: Walaikumsalam...Pa ws gajian pak
[20/5 13.26] Harijono Alaz: ??
[20/5 13.27] Pak Eka Alaz: Ngenteni gajian
[20/5 13.31] Harijono Alaz: πŸ˜†
[20/5 13.31] Harijono Alaz: Ya iya nungguin gaji paling ora akhir bulan
[20/5 13.31] Harijono Alaz: Gitu mbok
[20/5 13.31] Harijono Alaz: Ya lurr
[20/5 13.33] Pak Eka Alaz: Akhir bulan Juni
[20/5 13.33] Harijono Alaz: Awal bln juli
[20/5 13.34] Aa ayah Jose: 🀦🏻‍♂🀦🏻‍♂🀦🏻‍♂🀦🏻‍♂
[20/5 13.34] Harijono Alaz: Sabar rezeki ga kemana
[20/5 13.34] Harijono Alaz: Kok
[20/5 13.35] Aa ayah Jose: Arep go tuku klambi
[20/5 13.35] Aa ayah Jose: Go badan
[20/5 13.35] Aa ayah Jose: πŸ‘œπŸ‘ πŸ‘žπŸ‘—πŸ‘–πŸ‘•πŸ§₯πŸ’πŸ•Ά
[20/5 13.35] Pak Eka Alaz: Ngarep
[20/5 13.35] Harijono Alaz: Tuku klambi duite mamke disit
[20/5 13.36] Gani Aab Alaz: Putaran terakhir pas THR bsk aja gmana pak
[20/5 13.36] Harijono Alaz: Arisan ditunda sampe dengan waktu yang blm jelas
[20/5 13.36] Gani Aab Alaz: 🀭🀭 yg bner nih
[20/5 13.37] Harijono Alaz: Tahun depan pak ghani
[20/5 13.37] Aa ayah Jose: Thr udah sekarang bukan besok pak
[20/5 13.37] Gani Aab Alaz: THR sekarang pak? Yg bner?
[20/5 13.38] Bang Jarwo Alaz: Iya saya sudah dpt THR
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Jangan mudah terpengaruh pak
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Gosipp
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Gosip
[20/5 13.38] Bang Jarwo Alaz: Asli john
[20/5 13.38] Bang Jarwo Alaz: Nek gelem ijolan THR pa
[20/5 13.38] Gani Aab Alaz: Asli kan ini? Bukan tahun lalu?🀭
[20/5 13.38] Harijono Alaz: Ini amplop gajian kemrn
[20/5 13.39] Harijono Alaz: Yuhh
[20/5 13.39] Bang Jarwo Alaz: Temenan luh ya saksine sing nang group luh
[20/5 13.40] Aa ayah Jose: Asli bukan quik count
[20/5 13.40] Harijono Alaz: Prettt
[20/5 13.40] Gani Aab Alaz: 😁.. tapi rekening ku blum ada pergerakan, masih bertahan diangka 40K πŸ˜„πŸ˜„
[20/5 13.40] Pak Eka Alaz: Slip THR satpam neng pos satpam mau sing nampani anhar
[20/5 13.41] Harijono Alaz: πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
[20/5 13.41] Harijono Alaz: Jujur bgt
[20/5 13.41] Harijono Alaz: Q tembe krungguu
[20/5 13.41] Gani Aab Alaz: Ya dong harus jujur, nanti kan mengundang para dermawan seperti pak @⁨Harijono Alaz⁩
[20/5 13.41] Pak Eka Alaz: Ora percaya wa Anhar baen Nek ora yudhi
[20/5 13.41] Harijono Alaz: πŸ˜œπŸ˜œπŸ‘
[20/5 13.42] Harijono Alaz: Ya
Q rep mkt sore
[20/5 13.42] Pak Eka Alaz: Sing wis njiot gasik Edi
[20/5 13.43] Aa ayah Jose: Komandan tetep no. 01
[20/5 13.43] Aa ayah Jose: Ups... 🀭🀭🀭
[20/5 13.44] Aa ayah Jose: Situng itu pak....perlu di awasi
[20/5 13.45] Gani Aab Alaz: Harus merekrut relawan dlu pak klo mau mengawasi
[20/5 13.53] Harijono Alaz: πŸ˜†πŸ˜†
[20/5 14.41] Harijono Alaz: Siapp
[20/5 14.41] Harijono Alaz: Nunggu anda
[20/5 14.42] +62 857-9996-3164: Alhamdulillah....
[20/5 15.41] Gani Aab Alaz: Eh iya, rekening sdah berubah🀭
Gmana nih, arisannya diselesaikan skalian aja pa nda? Kasihan pak Joko dah nungguin😁 atau pak joko dah mengikhlaskan?🀭
[20/5 15.55] Harijono Alaz: Kayaknya....udah ikhlas pak
[20/5 15.55] Harijono Alaz: πŸ˜†
[20/5 16.00] Harijono Alaz: Ya ..monggo dirembug pd setuju mboten
[20/5 16.02] Harijono Alaz: Pribadi saya sih...??
[21/5 06.11] Aa ayah Jose: Iklas menunggu
[21/5 06.35] Harijono Alaz: Lg nunggu
[21/5 07.05] Betty Irwanti Joko: πŸ™„
[21/5 07.25] Aa ayah Jose: Hoak itu photo lama...
[21/5 07.32] Betty Irwanti Joko: Aku paham
[21/5 07.47] Harijono Alaz: Baruu
[21/5 07.47] Harijono Alaz: Tau

Bapak-bapak ternyata pada rumpi juga ya. Kirain emak-emak aja. Dan ternyata hilal THR sudah mulai nampak. Aasyiikkk....
Di grup Kelas Buku Solo Free Pejuang Literasi juga rame dengan topik yang sama, hehehe...
21/5 09.22] Rina Yuliani Pj PL: THR sudah cairrrrr. Yang mau ambil saja
[21/5 09.26] Betty Irwanti Joko: 
J
[21/5 09.28] Meilan Buku Solo PL: 
J
[21/5 09.33] Rina Yuliani Pj PL: Yang cair THR buat karyawan dulu, aku mah belakangggaannn
[21/5 09.33] Betty Irwanti Joko: Ayah sudah laporan kemarin sore 
J
[21/5 09.33] Betty Irwanti Joko: Aku kapan ya? 
J
[21/5 09.34] Rina Yuliani Pj PL: Segera. Nanti sore! . Aamiin 
JJ
[21/5 09.35] Betty Irwanti Joko: Amankan 
J

Alhamdulillah. Rezeki dari Allah.
Segala puji hanya bagi Allah.

@CleverClass, Cilacap, 21 Mei 2019: 10.46
Mulai menulis pukul 09.46.
Betty Irwanti Joko 
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur
#1661kata


Rembulan Membelah Keramik Masjid

00.23 0


Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day14
#OneDayOnePost
#Keramik Masjid

Sikapmu itu kayak keramik Masjid. Dingin! Namun membuatku selalu rindu untuk selalu mendekat.

Sikapku itu kayak rembulan. Hangat! Namun kadang hadirku terhalang awan gelap, hitam nan pekat.

Malam ini rembulan sampai di bentuk yang sempurna, bulat indah berwarna jingga menghangat.

Malam ini rembulan serupa purnama yang menandakan bahwa Ramadhan tahun 2019 tinggal separuh lagi masanya.

Malam ini rembulan membelah keramik Masjid dekat rumah dengan sempurna pula. Sebab keramik Masjid tak terhalang oleh bentangan sajadah. Sajadah-sajadah itu mungkin masih terlihat rapi di tumpukan perlengkapan salat sang empunya, di rumah.

Kakak saja kalah, malam ini sepertinya ia lelah. Mbah Uti saja kalah, malam ini sepertinya beliau lungkrah. Beda dengan puteri kecilnya Ibu Jesi yang bernama Cleverona Bintang Aljazira. Gadis kecil berumur 28 bulan itu sangat bersemangat untuk menggelar sajadah di keramik Masjid yang berwarna putih bersih bersama ibunya.

"Jesi, kita di luar saja ya?"
"He eh"

Ada alasan mengapa Ibunya meminta di luar saja, tidak masuk ke dalam ruangan masjid. Pasti sudah kan, kenapa?

"Ibu Jesi nggak salat?"
"Lagi halangan."
"Lagi halangan kok ke masjid?"
"Saya hanya di luar, menjaga Jesi. Ayahnya yang masuk masjid, salat di dalam."

Orang yang bertanya berlalu kemudian. Ibu Jesi bahkan baru saja akan menjelaskan.

Bebi Jesi maunya ke masjid, tidak ada yang bisa mencegah. Lantas apakah halangan ibunya itu menjadi halangan baginya untuk belajar meramaikan masjid?

Ibu Jesi memilih menjaga semangat puteri kecilnya dengan menjaga dari awal sampai akhir waktu salat tarawih di luar masjid. Ia duduk di pojok tiang depan dan duduk di satu keramik bawah dekat sandal jamaah di letakkan. Tidak ada batas suci yang ia langgar.

Atau kadang jika Bebi Jesi sangat tenang, ia duduk di keramik bangunan depan TPQ yang letaknya berdekatan dengan masjid. Ia hanya melihat Bebi Jesi dari jauh.

Biarkan Ayah Jose menyelesaikan salat tarawihnya dengan khusyuk. Sebab konsentrasi bisa saja terbagi saat Salat Tarawih Dua Shift. Dan mungkin sebentar lagi teknis itu segera diberlakukan kembali. Kan halangan tidak selamanya datang, ia hanya datang setiap bulan. Sama seperti jatah gajian yang masuk lewat saja ke rekening. Setelah seminggu yang tersisa hanya angka di setruk pengambilan. Eh. Hehee.

"Ibu, nggak salat?"
"Nggak, sayang."
"Ibu jagain Jesssi?"
"Iya, sayang."
"Jesi mau main jaranan , boleh?"
"Boleh, pakai apa?"
"Sapu, nih..." jawab Bebi Jesi sambil mengulurkan tangan yang menggenggam sapu berwarna hijau.
"Hati-hati mainnya ya!"
"Iya, Ibu. Jesi main sama Mbak Tami."

Oke. Baiklah. Selamat bermain sayang. Izinkan Ibu untuk menyapu pandangan ya.

Sejauh mata memandang yang terlihat banyak anak kecil di luar masjid sedang duduk di teras. Entah apa yang mereka lakukan. Gaduh sekali. Beberapa kali sudah diingatkan tapi tetap saja, ada yang memulai obrolan-obrolan.

Ah, namanya juga anak kecil. Berisik itu sudah biasa. Tergantung dari mana kita melihat. Kalau Ibu Jesi sih, sudah biasa menghadapi anak-anak yang suka berisik saat pembelajaran berlangsung di sekolahan.

Ini di masjid. Sebenarnya banyak sekali pembelajaran yang bisa di ambil jika saja mau mempelajari, apalagi mengalaminya.

Contoh saat Mbah Uti cerita kapan waktu itu, "Mau tes ana bocah sing diomeih maning. Gara-gara berisik nang masjid."
(Tadi habis ada anak yang dimarahin lagi, Gara-gara berisik di masjid)

"Siapa Mbah?"
"Yang berisik ya anak itu-itu saja sebenarnya. Kalau aku si maklum," jawab Mbah Uti.
"Sing ngomeih sapa?"
(Yang marahi siapa?)
"Sing ngomeih ya wong biasa kae."
(Yang marahin ya orang biasa itu.)

Senyap.
"Sebenere kadang suarane sing ngomeih gue lewih seru lho daripada sing brisik. Mbok lewih ngganggu?"
(Sebenarnya kadang suaranya yang marahin itu lebih keras daripada yang berisik. Kan lebih mengganggu?"

Iya memang benar. Kadang yang mengingatkan anak berisik itu jauh lebih keras. Kadang malah suka lebai, pakai ngasih segala.

"Makane aku cokan njawab, lah berisik ya emen. Wong masjid digawe kan ben digawe rame. Ora sepi. Sepi nek lagi pada salat gue ya apik. Tapi nek sing salat kur wong tua thok, emange masjid kur digawe go wong tua thok? Bocah cilik juga kepengin meng masjid,"

(Makanya aku suka menjawab, lah berisik ya biarkan saja. Masjid kan dibangun untuk diramaikan. Tidak dibiarkan sepi begitu saja. Sepi itu sudah biasa kalau salat. Tapi kalau yang salat hanya orang tua saja, memangnya masjid hanya dibuat untuk orang tua? Anak kecil kan juga ingin ke masjid.)

Mbah Uti nih cerdas ya. Hmhmm. Berani tepatnya. Beliau berani menjawab para orang tua kolot yang kalau ada anak berisik di masjid itu suka ribut, bahkan kadang suka ngajak gelut malah.

"Lah aku pernah njawab malah. Nek bocah cilik teka, ya ben. Kudung dewek mbok seneng, ndeleng bocah pada Angeles meng masjid. Daripada nang umah ngapa? Berisik ya ben. Sing penting diawasi. Aja bisane kur diomeih. Emange mengko nek wong tua wis pada langka, masjid arep go sapa? Go rayap?"

(Lah aku juga pernah menjawab. Kalau anak kecil pada adakan ke masjid, ya biarkan. Bukankah seharusnya para orang dewasa itu senang? Anaknya mau datang ke masjid. Berisik ya biarkan. Yang penting diawasi. Jangan bisanya hanya memarahi. Memangnya nanti kalau para orang tua sepuh sudah pada nggak ada, mainnya mau buat siapa? Untuk rayap?")

Asli Ibu Jesi dan Ayah Jose kasih empat jempol untuk Mbah Uti. Pemikirannya sangat moderat sekali. Kenapa? Karena beliau biasa menjaga anak kecil bahkan sejak ada kakak dan sekarang ada Bebi Jesi. Beliau merasa harus membela anak, selama anaknya bisa diserahi amanat.

Amanat? Iya. Amanat untuk tidak sembarangan bertingkah laku saat berada di lingkungan masjid. Apakah ada yang suka sembarangan? Banyak. Dan mereka memang harus diingatkan. Jika bisa dengan suara pelan kenapa harus berteriak dari jauh, dekati saja. Suruh mereka tertib. Insyaallah jika kita bicara dengan hati dan lemah lembut, anak akan menurut.

"Ibu, Jesi mau pulang."
"Sudah selesai tarawihnya nak?"
"He eh"
"Nanti tunggu Ayah ya."
"Ayah, di depan?"
"Iya,"
"Jesi mau ke Ayah."
"Jesi kangen ya sama Ayah?"
"He eh"

Ya sudah. Kita pulang yuk Jes. Kita tinggalkan keramik Masjid yang akan sempurna menampilkan bentuk rembulan purnama malam ini. Sampai jumpa lagi esok hari dengan semangat mengajak Bebi Jesi. Itu pasti.

"Jes, Kakak nggak naruhnya bedug?" tanya Mbah Kakung saat menghampiri Ayah Jose yang menggendongnya.
"Kakak nggak berangkat Mbah, mungkin dia lelah," jawab Ibu Jesi sambil melipat sajadah yang diberikan Ayah Jose padanya.

🌸

@RumahClever, Cilacap, 20 Mei 2019: 00.17.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1028kata

Dipapag Setan

16.44 0
Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day13
#OneDayOnePost
#Setan

Kemarin siang saat Bebi Jesi sudah tidur, ibunya ngebut baca Al Qur'an sebab dia sudah menyadari tanda-tanda PMS akan segera datang. Itu artinya dalam seminggu ke depan ia akan libur beribadah sebab halangan bulan memang sudah dinantikan. Kecuali jika terlambat, tapi itu entah kapan. Eh...

Berhubung Bebi Jesi tidur di depan televisi, di atas kasur yang dilipat menjadi dua dan diberi sarti berupa jari kesayangan maka Ibu Jesi pun memposisikan diri tepat di depan puteri kecilnya dan tepat juga di depan televisi. Iseng lah dia menyetel TV kemudian sambil baca Al Qur'an saat iklan.

Ya Rabbi, sudah hampir setengah bulan Ibu Jesi lupa ada acara sebagus ini. Sudah hampir purnama Ramadhan datang, dia lupa pada acara yang amazing ini. Acara Hafiz Indonesia di RCTI.

Saat itu ada dua orang yang sedang tampil hapalan dan menebak ayat. Masyaallah mereka menjawab dengan sempurna, betul semua. Hanya saja memang ada koreksi untuk salah satu diantaranya, yaitu tidak membaca ta'awud dan basmalah. Padahal kedua bacaan itu adalah wajib dibaca oleh para Qori ketika membaca Al Qur'an yang suci.

Ta'awud adalah doa untuk meminta perlindungan Dari Allah dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk. Itu memang wajib diucapkan sebelum membaca. Mengapa? Sebab menghapalkan itu mudah, tapi menjaga hapalan agar senantiasa melekat sampai kapan pun juga itu, murajaah.

Jika Qori ada yang kelupaan tidak membacanya, maka yang wajib melengkapi adalah jamaah yang mendengarkan. Wallahua'lam Bissawab.

Sama seperti ketika kita akan melakukan apapun, sebaiknya juga mengucapkan ta'awud,  basmalah, barulah suratnya.

"Ibu, Jesi mau wudu." ucap Jesi setelah bangun dari tidurnya.
"Baca do'a dulu yukk!" ajak Ibu Jesi kepada puteri semata wayangnya.
"Ibu baca apa?"
"Baca ta'awud, basmalah dan do'a wudu sayang. Jesi mau baca?"
"He eh..."

Ibu Jesi menuntun anaknya membaca tiga syarat agar wudunya afdol. Subhanalloh, Bebi Jesi pun menirukan. Sesungguhnya ia memang anak yang cerdas. Di umur setahun, dia sudah melafalkan banyak kata dengan baik. Bahkan ketika sekarang banyak anak yang masih belajar menyusun kata menjadi kalimat, ia sudah bisa bercerita dan sering mengarang pula.

Mengarang?
Lebih tepatnya berimajinasi, kalau menurut Ibu Jesi sendiri. Terutama saat ditelepon oleh Tante, Om, atau Omihnya yang ada di luar negeri.

"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam...  Hallo Mih, Ini Jesssi... "
"Hi sayang, ini Omih. Jesi lagi apa?"
"Jesi lagi bantuin Kakung jualan."
"Jualan?"
"Iya, jualan."
"Jualan apa?"
"Sabun, susu, terigu, gula... Tapi Jessi takut jatuh..."
"Jatuh?"
"Kalau bawa terigu, jatuh, nanti pecah..."
Oh, maksudnya begitu. Oke.

Baiklah.

Yang pecah itu bukan terigu sayang... Tapi tangismu. Tadi pagi tangismu pecah sebab kau mendapati Ayahmu belum pulang. Tangismu pecah bukan karena barang maupun karena melihat setan, tapi kau tidak melihat Ayahmu sebatas matamu memandang seluruh ruangan.

Biasanya setiap hari Minggu kau melihat ayahmu di sebelah saat terbangun dari tidurmu. Biasanya setiap hari libur Ayahmu akan menciummu tepat setelah kau membuka matamu di pagi hari. Tapi Minggu ini Ayahmu harus bertugas, dan harus menginap nun jauh di daerah seberang.

Ibu memeluk dan membawamu berjalan, sejauh yang kau inginkan. Katamu kau ingin menyusul Ayahmu. Katamu kau ingin digendong Ayahmu. Sampai tangismu reda, ibumu masih membersamai sampai kau benar-benar bisa ditinggal hanya untuk sekedar mencuri waktu untuknya membersihkan badan.

Tidak ada Ayah Jose membuat Bebi Jesi mutlak ndemblog sama ibunya. Bahkan menjelang berbuka puasa sore kemarin, dia tetap tidak mau dengan siapapun kecuali ibunya. Ibu Jesi sampai mandi tepat saat adzan Maghrib berkumandang. Itu pun dilakukannya dengan gerakan secepat jet, kilat.

Adzan masih terdengar, Ibu Jesi sudah selesai mandi kemudian.

"Ibu, Jesi mau tarawih!"
"Tarawih?"
"He eh..."
"Tunggu, Ibu ganti baju dulu."
"Aja..."

Bebi Jesi sudah jalan dulu di depan, tidak sabar.
"Sini berangkat dulu sama Mbah Uti," usul Mbah Uti sambil berlari ke kamar mandi, mengambil wudu.
"Ayuk Mbah!" jawab Bebi Jesi berjalan lebuh dulu, bahkan tau-tau sudah sampai pintu depan.
"Tunggu... Jess..." kejar Mbah Uti terburu.

Ibu Jesi menyusul kemudian. Ia kunci semua pintu dan jendela kemudian menyalakan starter Vario berwarna putih yang ada di garasi Rumah Clever.

Ibu Jesi mengambil jalan memutar, sebab tiba-tiba ia ingat cerita tentang sesuatu yang mengerikan. Entah benar atau tidak tapi dia percaya bahwa kita memang tidak hidup sendirian. Ada makhluk lain yang Allah ciptakan bersama manusia. Bukankah ada jin, setan, malaikat dan yang lainnya?

Ibu yakin semua itu ada. Ia meyakini hal gaib itu ada, tapi ia juga percaya selama hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu, insya allah semua akan berada pada jalur masing-masing.

Sebab Rumah Clever itu rumah yang dikelilingi oleh pekarangan kosong. Sebelah barat, utara , timur dan selatan adalah pekarangan yang banyak ditumbuhi rumput. Ada pula rumpun bambu yang masih rimbun. Bahkan ada beberapa pohon besar yang sampai saat ini tidak ditebang meski semakin hari akan semakin tinggi dan bisa saja akan membahayakan.

Suatu hari pernah ada cerita yang sempat membuatku merinding disko saat melewati jalan.
"Assalamualaikum Mbaeh Jesi.."
"Wa'alaikumsalam... Eh, Pak Bau."
"Iya, nih Mbah. Mau memberi tahu bahwa besok Mbah Uyutnya Jesi suruh berangkat acara Safari Ramadhan, ada santunan untuk para lansia dari Ibu Bupati. Beliau mau rawuh."
"Oh, siap Pak. Nanti tak sampaikan ke Mbah Uyut," jawab Mbah Kakungnya Jesi kemudian. Inti pembicaraan hanya itu yang Ibu Jesi dengar. Sebab Bebi Jesi minta jalan-jalan.

Menjelang tidur, Ayah Jose bercerita tentang cerita yang diceritakan oleh Pak Bau yang bertamu tadi.
"Bu, tadi ada pak Bau ya?"
"Iya," Ibu Jesi menjawab singkat sambil tetap menyusui Bebi Jesi.
"Tadi Mbah Uti cerita katanya pak Bau habis dipapag,"
"Dipapag?"
"Iya. Pas kapan hari itu Pak Bau kan ada urusan dan pulang rumah sampai larut malam. Bahkan dini hari. Katanya sekitar pukul satu gitu,"
"Terus??"
"Kan naik motor ya, terus lewat depan rumah kita ini. Lha di kulon sana dipapag?"
"Dipapag wong?"
"Iya, wong mabur meng nduwur..."

Ibu Jesi menuntup mulut Ayah Jose dengan tangannya.
"Stop, jangan cerita kayak gitu lagi. Ibu jadi takut."
"Mbah Uti malah jadi ketakutan. Makanya kemarin pagi waktu Mbah Uyutnya Jesi mbangun kita saur, dikiranya ada setan apa-apa gitu. Wong suaranya nggak begitu jelas. Manggil-manggil. Terus suara langkahnya kayak sandal diseret gitu."
"Aku juga dengar kok, tapi emang itu suara Mbah Uyut cuman memang ibu mau bangun, Jesi masih menthil."

Ya Allah jauhkan kami dari ketakutan pada makhluk dan dekatkan kami hanya pada rasa takut tak mendapat ridho-Mu. Aamiin. Ya robbal 'alamiin....


@RumahClever, Cilacap, 19 Mei 2019: 10.56.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1042kata


Cinta Isa Bella

22.38 0
Ramadhan Writing Challenge
#RCO
#Day12
#OneDayOnePost
#Cinta

Cinta adalah sebuah emosi kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya.

Cinta. Sebuah kata sarat makna. Ianya hadir tanpa diduga. Ia bisa datang tiba-tiba meski sebelumnya hanya ada kehampaan semata.

Disebabkan oleh cinta, dua pribadi yang tak saling mengenal sebelumnya bisa mendekatkan hati dua insan berjenis kelamin berbeda. Begitulah sunnahnya.

Seperti Ibu Jesi yang selalu merasa jatuh cinta pada suaminya, meski sudah hampir tujuh tahun usia pernikahan. Ia selalu berusaha mencintai apapun yang Ayah Jose sukai dan membenci apa yang suami tidak ridhoi.

Contohnya siang ini. Saat Ayah Jose harus menginap untuk acara tarawih bersama anak murid di Cilacap kota sana, Ibu Jesi harus rela di rumah saja bersama puteri kecilnya tercinta. Ayah Jose tidak mau anak dan istrinya menyusul seperti rencana sebelumnya karena itu akan membuat kerepotan bagi istrinya.

Ia tahu sejak pagi dan sampai setengah hari Bebi Jesi di rumah bersama Mbah Kakung dan Mbah Uti. Ibunya masih di acara pembukaan VCT Batch 4 yang kebetulan acaranya dihelat di sekolah yang berjarak dekat.

Ibu Jesi sangat bersemangat mengikuti acara itu bahkan ingin segera menyelesaikan semua tugasnya, padahal kuota saja masih harus beli dulu yang signale lancar jaya. Pusing pala barbie kan jadinya. Alhasil, agenda refreshing bulanan pun masih harus ditunda demi fokus dan konsentrasi yang harus dijaga.

Ibu Jesi melakukan semua karena cinta. Kecintaan pada suami membuatnya tidak melanggar perintahnya. Ia bisa saja nekat menyusul menggunakan sepeda motor segera setelah Bebi Jesi bangun dari tidur siangnya. Tapi itu tidak dilakukan. Ia lebih memilih tinggal di rumah.

Bayangkan jika ia egois lalu mengajak puteri kecilnya naik motor sejam perjalanan, bahkan sekalipun belum pernah ia lakukan. Ia selalu mengajak Ayah Jose saat harus bepergian membawa anak. Dia merasa tidak mungkin bisa sendirian. Kecuali jika Bebi Jesi sudah bisa duduk membonceng dengan aman di belakang. Saat ini jika bepergian Bebi Jesi jelas membutuhkan penjagaan yang ketat dalam perjalanan.

Biarkan Ayah Jose menikmati acaranya di sana. Biarkan ia fokus ibadah sebab jika di rumah ia lebih memilih fokus pada puteri semata wayangnya yang sangat lengket meski bertemu hanya saat sore sampai malam hari. Pagi buta ia harus sudah siap kembali bekerja dan mau tidak mau wajib menempuh jarak 41 kilometer dari Rumah Clever yang letaknya jauh di desa.

Biarkan Ayah Jose menikmati istirahatnya. Sebab beberapa malam ini Bebi Jesi menguras waktu tidur Ayah dan ibunya. Hanya karena Ibu Jesi tempat kerjanya dekat jadi itu tak menjadi masalah. Tapi bagaimana jika harus naik sepeda motor dulu satu jam baru sampai.

Ah, jangan dibayangkan. Itu berat. Biar Ayah saja. Itu bagian dari tanggung jawab dan cintanya pada keluarga. Bukankah cinta pada keluarga bisa juga diwujudkan serupa semangat menjemput rezeki demi menafkahi anak dan istri? Apapun jalannya. Menjemput rezeki yang halal insya allah akan membawa keberkahan jika didasari rasa pada cinta-Nya dan cinta pada keluarga.

Cintalah yang membuatnya menuruti permintaan Ibu Jesi untuk tidak kembali merantau ke tempat yang jauh apalagi ke luar negeri seperti yang dipersyaratkan sebelum menikah, dulu.

Cintalah yang membuatnya rela untuk tinggal bersama keluarga istri sembari menemani kedua mertua yang semakin hari semakin menua dengan mengawasi orang tua dari dekat meski tak satu rumah dengan mereka.

Ayah Jose tetap ingin membagi cinta dengan keluarga besarnya. Ibu Jesi memahami betul hal itu. Sebab komitmen yang telah disetujui bersama adalah ketika aku dan kamu menjadi kita maka, keluargamu akan menjadi keluarga kita.

Ibu Jesi merasa beruntung karena mendapatkan dua kakak ipar yang sudah dewasa. Ayah Jose juga merasa bahagia menjadi kakak ipar dari dua adik yang sudah dewasa pula.

Ayah Jose dan Ibu Jesi menjalani hidup penuh dengan cinta dan setia satu sama lainnya. Cinta pada keluarga itu yang utama. Sebab bisa saja dia egois, tapi Ibu Jesi tidak melakukannya. Bisa saja ia meninggalkan kedua orangtuanya demi sebuah pengabdian kepada suami. Tapi demi mewujudkan dua kata sakral "Birrul Walidain" maka jawaban Ayah Jose-lah sumber dari semua keikhlasan itu.

"Biarkan aku yang mengalah. Sebab jika kau mengalahkan kedua orang tuamu aku jauh lebih berdosa karena aku menjauhkan cinta diantara kalian semua. Biarkan aku membantu menjaga dan merawat mereka."

I love you so much Ayah Jose. You are my hero.

*

Aku mencintaimu suamiku, bahkan jauh sebelum dia menyadari bahwa aku diam-diam menyimpan perasaan padanya.

Aku mencintaimu suamiku, bahkan kami pernah mengalami kisah 24 jam terpisah tanpa cinta dan akhirnya dia harus kembali ke desa demi menghapus air mata nestapa.

Aku mencintaimu suamiku, sebab dia selalu setia sejak sebelum menikah meski jarak pernah memisahkan antara dua kota dan dua negara.

Sungguh, aku mencintainya sejak tujuh tahun sebelum kita menikah bahkan hingga kini.

Sungguh hatiku bergetar setiap melihatnya tertidur pulas setiap malam. Mataku sering berair tanpa dia ketahui. Aku sering berkata dalam hati, "Ya Allah. Inilah lelaki terbaik yang Kau kirim untukku. Inilah lelaki terbaik yang kau genapkan untuk menjadi cinta sejatiku."

Aku mencintaimu suamiku, karenanya aku ingin mengabadikan kisah cinta kami dalam sebuah karya buku solo perdana berjudul Isa Bella.

➖➖➖

Aku bergeming, mengangkat bahu. Tidak paham dengan apa yang terjadi. Mas Isa mengikuti beberapa orang tadi. Aku melanjutkan makan.

"Selamat malam teman-teman semua. Izinkan saya meminta perhatian sejenak. Saya ingin menyampaikan sesuatu hal untuk seseorang."

Aku bangkit dari tempat dudukku, mencari suara itu dan sangat terkejut kemudian. Ternyata di pojok ruangan ini ada panggung yang akan menyajikan hiburan. Itu dari banner yang bisa kubaca dari tempatku berdiri saat ini.

"Aku tahu malam ini kamu ada di sini. Aku yang membawamu ke sini. Bertahun-tahun aku telah meninggalkanmu. Menyeberangi lautan, demi sebuah cita-cita di masa depan,"

"Selama itu aku memahami bahwa kamu tak pernah menemukan cinta dan kesetiaan yang lain selain dariku. Meski banyak cinta yang yang mengelilingi di sekitarmu, tapi kau selalu membawa air matamu ke pelukanku meski aku jauh,”

“Semua hal yang ungkapkan padaku. Apakah itu rahasia, apakah itu biasa. Tapi aku tahu kamu sedikitpun tak pernah berbohong padaku itulah kejujuranmu yang sepenuhnya padaku,”

“Dari situlah kemudian aku bertekad akan selalu menjadi kekuatanmu. Aku ingin menjaga setiap harapan-harapan dan impianmu. Aku ingin bersamamu mempertahankan iman yang kadang bisa datang dan hilang. Aku ingin menjadi seseorang yang harus kamu hubungi setiap saat,”

“Aku tahu kamu sudah berdiri di sana selama ini. Dan inginkan aku untuk memelukmu. Dan kini telah tibalah waktu untukku akan memelukmu untuk selamanya. Menahan pelukanku dengan tepat nantinya kita berada,”

“Sampai hari ini hidupku berlalu. Ini janjiku padamu sejak hari itu. Sejak tujuh tahun yang lalu, saat Tuhan menunjukkan bahwa kaulah cintaku. Bahwa kaulah setiaku. Aku bertekad untuk mencintaimu selamanya,”

“Aku tak peduli dalam kehidupan sebelumnya apa yang terjadi antara aku dan kamu, atau keluargamu dan keluargaku. Aku berjanji tidak akan pernah lagi membuat hatimu terluka. Aku berjanji akan menyatukan keluarga kita. Karena saat kamu dan aku akan menjadi kita, maka keluargamu juga akan menjadi keluarga kita. Bukankah itu juga katamu?”

Aku meneteskan air mata. Sejauh apa yang dia bilang sungguh penuh dengan ketulusan. Dan dia tak sedang berpidato. Dia mengungkapkan semua tanpa teks. Tanpa contekan kata-kata. Sungguh aku sangat terharu. Padangan seisi ruangan fokus padanya dan padaku. Meski aku masih berdiri di dekat tempat dudukku.

“Aku tidak akan mengizinkan siapapun akan membuatmu terluka lagi. Sebab apapun. Karena aku tahu kamu orang baik. Sempurna bagiku. Ingat janjiku sayang. Ini bukan sekedar kata-kata dariku. Tapi kau telah miliki cinta dan setiaku. Aku telah memberikan hati sejak tujuh tahun yang lalu,”

“Percayalah hidup itu ujian. Jika hari kemarin dipenuhi banyak pertempuran. Maka saat ini adalah pertempuran yang sudah kita menangkan. Dan dengan janji ini kita akan selalu hidup bersama hingga selamanya. Sampai hari di mana hidupku berlalu. Aku berjanji padamu.”

Suara itu terhenti, Mas Isa berjalan ke arahku. Saat tepat berada di depanku dia menyayikan lagu yang memang sudah kuhapal. Lagu berjudul This I Promise You dari boyband legendaris kesukaanku, N’Sync.

➖➖➖


@RumahClever, Cilacap, 18 Mei 2019: 18.48.
Betty Irwanti Joko
Ibu Jesi
Nyi Bejo Pribumiluhur

#1282kata