My Love

06.05 2

My Love
Oleh: Betty Irwanti

Jalanan terasa sepi, pagi ini. Aku memacu kendaraanku dengan lebih cepat. Musik yang kusetel keras-keras membuatku mengangguk-angguk pelan, menikmati setiap hentakan demi hentakan beat dari semua lirik yang tersaji. Lagu ini selalu saja menarik untuk kusimak meski sudah ribuan kali kudengar sejak zaman SMA dulu.

Kulihat ke kiri dan ke kanan, banyak pemandangan yang tersaji dengan sangat indah. Sawah, pepohonan, rumah-rumah dan jalanan dari yang bagus sampai yang penuh kubangan lumpur, tetap bisa kulewati.

Sampailah aku pada suatu pemandangan biasa yang sudah sering kutemui, rumah di ujung areal persawahan. Rumah yang selalu tertutup rapat, terasa kosong, tak ada penghuninya. Pagarnya yang sederhana di sana sini sudah banyak yang berlubang, mungkin saat hujan banyak air yang akan masuk ke dalam. Menyedihkan ya, sepertinya rumah itu tak berpenghuni.

Hatiku juga sudah lama kosong, tak berpenghuni. Terasa ada lubang di sana. Sekian lama aku masih sendiri, menyimpan luka lama. Kemana pergi pun, selalu sendiri. Semua ruang kuisi dengan diriku sendiri, hidup serasa semakin sempit. Entahlah, rasanya sulit sekali membuka pintu lagi.

Sampai saat ini aku masih sering bertanya-tanya bagaimana semua terjadi, mengapa semua terjadi.

Di manakah hari-hari bahagiaku yang dulu? Hari penuh cinta dan kebersamaan. Hari bersama lagu-lagu yang sering kunyanyikan bersama seorang istimewa

Entah mengapa cintaku bertahan, hingga kini. Tapi, aku tak lagi berusaha merengkuh cinta yang tampak begitu jauh. Kubiarkan saja dia menjauh. Waktu jualah yang akan menjawabnya.

Setiap malam dalam sujudku, selalu setia kupanjatkan do'a. Berharap mimpi-mimpiku kan membawaku ke sana. Ke tempat dimana kau berada. Ke tempat di mana langit biru masih juga dalam kuasa bentangan-Nya. Meski entah dimana tempatnya.

Tuhan, izinkan aku untuk bertemu denganmu sekali lagi. Denganmu, cintaku.

Tanpa kusadari pelataran parkir kantor telah terlihat. Kumatikan musik dan segera merapikan diri. Kuposisikan kendaraanku di tempat yang telah disediakan khusus.

Beberapa orang menyapaku saat sudah masuk di lobi, aku membalas dengan anggukan dan senyuman. Meli, mengikutiku dari belakang, masuk ke dalam ruanganku.

"Selamat pagi, Miss!" sapa dia dengan membungkukkan badannya.
"Selamat pagi, Mell," balasku pada Meli, wanita cantik yang sudah dua tahunan menjadi orang kepercayaanku.
"Agenda hari ini kita akan meeting dengan klien, Miss. Sekitar pukul 10.00 pagi. Membicarakan proyek kita di luar pulau." lanjut Meli menerangkan ini dan itu.
"Oke, aku paham. Siapkan saja semua file tambahan yang dibutuhkan dari file yang sudah kukirim via email ya, nanti aku pelajari." Meli menjawab dengan anggukan. "oh, iya. Nanti selesai meeting, aku mau minta tolong juga sama kamu!"
"Minta tolong? Tolong apa, Miss?"

Aku hanya mengangkat bahuku, "Tunggu nanti saja, oke!"
Meli, buru-buru pamit. Aku pun beranjak. Kembali memutar musik dari gawaiku, lagu yang sama seperti yang kudengarkan tadi sepanjang perjalanan. Kusetel suaranya agar tidak sampai terdengar keluar.

Sesekali aku mengikuti lirik demi lirik, yang memang sudah kuhapal. Lagu berjudul My Love dari boyband legendaris asal Irlandia, Westlife.

An empty street
An empty house
A hole inside my heart
I'm all alone
The rooms are getting smaller (smaller)

I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The songs we sang together (Oh yeah)

And, oh, my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seems so far

So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue

To see you once again
My love
Overseas from coast to coast
To find the place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
My love

I try to read
I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking (Oh no)

To hold you in my arms
To promise you, my love
To tell you from my heart
You're all I'm thinking of

I'm reaching for a love that seems so far
So

*

Aku dan Meli sudah berada di dalam gedung terkenal di kota ini. Meli menemani atas permintaan yang kuutarakan begitu selesai meeting dengan klien tadi. Bersyukur dia mengiyakan, biasanya kalau diajak pergi malam Meli punya seribu alasan.

Kami berdua menghadiri acara pernikahan mewah salah satu CEO perusahaan ternama yang mengundangku. Perusahaanku memang berada jauh dari hingar bingar kota, namun sudah tak perlu diragukan lagi pengaruhnya sudah menyebar ke seluruh pelosok negara.

Pasti rasanya akan sepi sekali jika datang ke acara sebesar ini sendiri, makanya kuajak Meli. Dia kan juga masih sendiri, sama sepertiku.

Di depan sana kulihat pengantin sedang tersenyum bahagia dengan sempurna. Menyanyikan lagu berdua, duet. Duh, romantisnya. Aku, kapan ya?

Aku dan Meli sibuk beramah tamah dengan sesama tamu, kemudian menikmati hidangan. Tiba-tiba dari arah podium depan terdengar sebuah suara meminta perhatian. Aku merasa akrab dengan suara itu.

"Selamat malam teman-teman semua. Izinkan saya meminta perhatian sejenak. Saya ingin menyampaikan sesuatu hal untuk seseorang."

Aku reflek berdiri, entahlah. Menyibak beberapa kerumunan, terus maju mencari sumber suara.

"Aku tahu malam ini kamu ada di sini. Bertahun-tahun aku telah meninggalkanmu. Menyeberangi lautan, demi sebuah cita-cita di masa depan,"

"Selama itu aku tak pernah menemukan tempat yang paling kusuka. Di mana ladang menghijau, seperti tempat yang kita sukai dulu, saat setiap hari aku bertemu denganmu."

"Sampai detik ini kamu adalah cintaku. Kucoba membaca dunia. Mencoba menyibukkan diri dengan full konsentrasi bekerja. Mengalihkan sepi dengan bercanda tawa. Memperluas pertemananku. Tapi, entahlah. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu."

"Setiap saat aku berdo'a. Semoga suatu saat bisa berjumpa kembali denganmu. Untuk mendekapmu. Untuk berjanji padamu, bahwa kamulah cintaku."

Suara itu terhenti, saat aku tepat berada di dekat podium asal sumber suara itu. Aku menatap laki-laki di depanku, memastikan semua pandangan di depan bukanlah fatamorgana.

"Sungguh ini benar, sayangku. Aku mengatakan ini semua padamu dari hatiku. Engkaulah yang selalu kupikirkan."

Laki-laki itu turun dari podium kemudian menghampiriku.
"Akan kurengkuh cintaku sampai akhir nanti, takkan kubiarkan yang tampak dekat terlihat jauh lagi."

Seisi gedung bergemuruh, penuh suara tepuk tangan. Aku tersipu. Tanganku sudah digenggap sebegitu eratnya oleh laki-laki itu.

**

#SongLit
#MyLove
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day14

#979kata

@RumahClever, Cilacap, 14 November 2018: 06.00.
Ibu Jesi.

Mbah Uti Meriang

10.09 6

Mbah Uti Meriang
Oleh Betty Irwanti

"Mbah Uti, nanti Jesi si gimana kalau Mbah lagi meriang begitu?" tanyaku di sela sarapan pagi.
"Ya, gak papa. Sama Mbah aja. Mana mau Jesi sama yang lain,"
Aku tetap melanjutkan makan, meski sebenarnya dalam hati sungguh tak tenang.

Kupercepat gerakan persiapan untuk berangkat ke sekolah. Mumpung Jesi sedang di bawa jalan pagi sama Mbah Kakung. Sepanjang perjalanan aku masih saja teringat Mbah Uti. Beliau sedang meriang, tidak enak badan. Batuk, sakit kepala dan sepanjang hari kemarin tiduran terus. Apakah kuat menjaga Jesi yang super aktif dan sedang senang-senangnya naik turun jendela di dekat tempat tidur?

Mbah Uti meriang, mungkin tertular Jesi. Jesi juga sebenarnya sedang meriang, sama seperti mbah utinya. Jesi tertular ayah dan ibunya. Serumah sedang meriang semua. Bisa jadi pengaruh cuaca, pergantian pancaroba.

Aku masih batuk-batuk, tenggorokanku juga masih gatal, meski begitu sudah tidak sakit kepala lagi. Ahamdulillah sudah mendingan.

Pikiran melayang-layang. Membayangkan ini dan itu sambil terus mengayunkan langkah kaki. Tak terasa sudah sampai di tempat tujuan.

Fokusku sudah harus berubah. Hanya kepada Allah-lah aku berpasrah.

*

Kulangkahkan kaki dengan tergesa, berharap dalam lima menit saja sampai rumah.

Dari kejauhan kulihat Jesi, Kakak Fatih dan Mbah Uti bersantai di teras rumah.

"Jes, Jes. Itu Ibu pulang Jess!" Kakak bersemangat menyambutku.
"Ibuu, Ibuu..." Jesi memanggil-manggil namaku.
Mbah Uti langsung menggendong cucu pertamanya dengan sigap, "Cuci tangan dulu, cuci kaki dan bersih-bersih!"
Aku menurut, membuka kran air di dekat tempat sandal lalu melakukan apa yang diinstruksikan Mbah Uti.

"Ibu... Ibu..." Jesi menangis. Aku jadi gugup.
"Iya, iya sayang. Ini Ibu."

Mbah Uti batuk-batuk saat mengulurkan Jesi, aku menggendongnya segera.

"Sudah minum obat belum, Mbah?"
Beliau hanya mengagguk. Aku tak begitu memperhatikan kemudian. Bersegera menuju kamar, untuk menidurkannya.

Kulihat samar-samar, Mbah Uti langsung menuju kamar juga, merebahkan badan dan memejamkan mata.

Semoga selalu sehat ya, Mbah Uti.

Mbah Uti My Hero.

**

#DomesticDrama
#MbahUtiMyHero
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day13

#316kata

Jangan Khawatir Saat Kamu Harus Satu Kantor dengan sang Mantan. Lakukan Saja 7 Hal Ini untuk Mengendalikan Hatimu!

09.49 12

Jangan Khawatir Saat Kamu Harus Satu Kantor dengan sang Mantan, Lakukan Saja 7 Hal Ini untuk Mengendalikan Hatimu!

Oleh: Betty Irwanti

Bumi ini selalu berputar. Sama dengan putaran waktu yang terus berputar hingga akhir nanti. Waktu yang lampau telah terlewati dan biasa disebut sebagai masa lalu. Masa yang kita jalani saat ini dijuluki sebagai masa kini. Dan masa yang akan dijalani kemudian disebut dengan masa depan.

Orang-orang yang kamu temui di masa lalu, bisa jadi hingga saat ini masih sering kamu jumpai. Mereka adalah orang-orang yang paling tidak memang dekat denganmu. Meski mereka jauh namun perasaan selalu dekat di hati.

Nah, ketika saat ini kamu sudah mempunyai pasangan namun takdir mempertemukanmu dengan orang yang pernah dekat di masa lalu. Kamu pernah menjalin hubungan dengannya kemudian kandas dan membuatnya menjadi salah satu dari mantan pacarmu. Tentu perasaan gugup, nervous dan terkejut menghampiri.

Apalagi jika kamu berada dalam satu bidang pekerjaan dengan sang mantan kemudian ada desas-desus santer terdengar bahwa dia akan dipindahkan ke bagian yang setiap hari harus bertemu denganmu. Apa yang sebaiknya kamu lakukan mulai dari sekarang?

7 hal ini dapat membuat hatimu stabil meski dirimu harus bertemu sang mantan setiap hari. Simak ulasannya berikut ini:

1. Luruskan niat

'Innamal a'malu binniat" segala amalan itu bergantung kepada niat. Bertemu dengan siapapun jika niat kamu sudah lurus, untuk bekerja, untuk menjemput rezeki-Nya, niscaya hati tidak mudah berubah menjadi gelisah hanya karena berada satu kantor dengan sang mantan. Apapun yang kamu lakukan seharusnya niatkan semata-mata karena Allah

2. Terbuka dengan pasangan

Bukalah komunikasi yang terbuka dengan pasangan. Jelaskan saja siapa dia jika diperlukan. Ini akan memudahkan setidaknya ketika nantinya kamu harus bekerja lembur. Jadi, tidak perlu menyembunyikan siapa sang mantan itu sebenarnya apalagi sampai harus berbohong. Dosalah ujung-ujungnya kemudian.

3. Bersikap biasa

Bersikap biasa terhadap sang mantan, bukanlah hal mudah yang bisa dilakukan. Apalagi jika sang mantan di masa lalu adalah orang sangat istimewa. Tapi, inilah yang seharusnya dilakukan. Jangan sampai terlihat bersikap berlebihan kemudian merugikan karir pekerjaanmu sendiri. Atau jika kamu menolak bekerjasama dengannya karena pernah sakit hati dan terluka misalnya. Meski hati teriris, sakit, dan perih tetap saja kamu wajib berkata baik dan sopan kepada sang mantan tersebut. Mungkin saja memang dahulu dia sedang khilaf dan kamu harus menjadi manusia yang bisa memaafkan kesalahan orang lain.

4. Jangan menghindar

Bukan sikap yang bijaksana jika saat bertemu dengannya kamu menghindar. Menghindar adalah cara yang buruk, kamu tidak boleh menyikapinya dengan hal ini. Tatalah hatimu, hadapi dia dengan wajah yang tegak dan emosi yang stabil. Jangan membuat dia GR (Gede Rasa) dengan sikapmu yang belum move on. Jangan memancing perasaan-perasaan yang akan membuka kembali hubungan yang memang sudah selesai. Ini hanya akan menimbulkan masalah baru. Masalahmu dengan pekerjaan dan masalahmu dengan pasangan. Sangat rugi bukan?

5. Ingat selalu kejelekannya

Salah satu resep paling ampuh agar kita bisa bersikap biasa di depan sang mantan adalah dengan selalu mengingat kejelekannya. Tidak perlu lagi mengingat segala kebaikannya. Ini bukan berarti kamu memupuk rasa benci kepada sesama manusia tapi resep ini cukup ampuh agar kita tidak kembali pada perangkap yang bernama CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).

6. Hindari berdua-duaan

Dalam Islam ada larangan untuk berdua-duaan karena yang ketiganya adalah syaitan. Usahakan untuk tidak mengobrol hanya berdua, tidak membonceng motornya, tidak menghubunginya lewat chat untuk membicarakan hal pribadi. Tidak apa-apa jika obrolannya disaksikan teman atau berada di group bersama teman kerja yang lain. Tetap tutup segala kemungkinan yang bisa saja terbuka jika kamu bersikap longgar. Syaitan bisa kapan saja datang menggoda lewat berbagai cara.

7. Perbanyak ibadah dan do'a

Kunci agar kamu terhindar dari godaan syaitan karena berada di satu kantor bersama mantan adalah perbanyaklah ibadah dan do'amu setiap saat. Kembalikan semua urusan hanya kepada Allah. Karena atas izin-Nya lah kamu menjadi bertemu dengan sang mantan. Jangan berprasangka buruk terhadap Allah, karena siapa tahu ada hikmah yang tersembunyi di balik semua kejadian.

Itulah ketujuh hal yang bisa kamu terapkan ketika kamu harus bersiap saat sang mantan itu benar-benar satu kantor denganmu kemudian. Kendalikan hati dan perasaanmu, jangan buat kamu terkurung dalam lingkaran bernama ketidaknyamanan dalam bekerja gegara sang mantan.

Sadarilah dengan kelapangan hati bahwa masa berasama sang mantan sudah hilang bersama kenangan. Tidak ada lagi yang perlu dikenang. Saatnya move on dan bekerjasama dengannya demi kemajuan kerja dan kantor di masa depan.

Tetap selalu waspada ya, jangan membiarkan kekhawatiran menguasaimu. Selama kamu lakukan 7 hal tersebut kamu akan lebih mudah mengendalikan hatimu yang kalut. Keep calm and carry on, ya, Dears.

*

Tulisan ini untuk melengkapi tugas #001 kelas Blog dari Kang Asep. (KMO Indonesia)

#Artikel
#Life
#752kata
#OneDayOnePost
#November2018
#Day12

@CleverClass, 12 November 2018, 09.25.
Ibu Jesi.

Persiapan POR PGRI Cabang Bantarsari

14.08 2

Tim Inti Voli PGRI Ranting Binangun Melakukan Latihan Rutin. Apa Saja yang Mereka Pelajari Selama Satu Bulan Belakangan?

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional tahun 2018 ini, PGRI Cabang Bantarsari mengadakan serangkaian kegiatan diantaranya POR PGRI. Kegiatan Pekan Olah Raga tersebut dilaksanakan di Ranting Kedungwadas yang dipusatkan di SDN Cikedondong 02 dan SMP Satu Atap Bantarsari. Waktu, 10 November 2018. Cabang lomba voli putera dan voli puteri.

Dalam rangka mempersiapkan kegiatan POR PGRI cabang, PGRI Ranting Binangun mewajibkan semua anggotanya untuk hadir latihan bersama pada hari Selasa dan Sabtu.

Latihan bersama yang sudah terlaksana sekitar satu bulan ini tujuannya adalah untuk mempelajari kembali teknik bermain voli secara benar dan harus menguasainya demi bisa mengalahkan juara bertahan.

Teknik bermain voli yang dipelajari ketika latihan rutin itu antara lain Block, Service, Smash atau Spike dan Passing, dimana semua teknik ini harus dikuasai oleh semua pemain bola voli. Yang nantinya akan ada yang lebih ditonjolkan sesuai posisi pemain, semisal sebagai toser kalian harus mahir dalam memberi umpan atau passing kepada pemain yang akan melakukan smash.

Teknik dasar service adalah pukulan yang dilakukan dari daerah garis belakang lapangan permainan hingga melambung keatas net dan mendarat di dalam daerah lawan. Teknik Service dilakukan saat awal permainan, saat terjadi penambahan point dan terjadi pelanggaran.

Teknik Service memiliki 4 macam yaitu Service Bawah, Service mengapung atau Floating overhand, Overhand round-house service, dan Jumping service.

Teknik dasar gerakan passing atau juga bisa disebut reception adalah teknik yang bertujuan untuk menerima,menahan dan mengendalikan bola service dari pemain lawan teknik passing di bagi menjadi dua macam yaitu passing atas dan passing bawah.

Teknik Blocking adalah satu satunya teknik yang pilih-pilih pemain. Karena teknik blocking hanya digunakan untuk menahan dan mencegah serangan dari lawan seperti smash.

Teknik smash atau spike adalah gerakan melompat dan memukul bola voli dengan derajat kemiringan terkecil dan kekuatan terbesar kearah daerah lawan.

Teknik-teknik itu dipelajari dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Menurut sekretaris PGRI Ranting Binangun, latihan sudah dimulai sejak pertengahan bulan Oktober ini.  Latihan bersama yang sudah terlaksana sekitar satu bulan ini tujuannya adalah untuk mempelajari kembali teknik bermain voli secara benar. Namun, kekuatan tim mulai berkurang. Yang menjadi penyebabnya adalah beberapa orang anggota PGRI yang masuk dalam tim inti memasuki masa pensiun pada tahun ini.

Hal ini tidak menyurutkan semangat tim inti, karena sejauh ini masih bisa bertahan dalam formasi meski mau tidak mau harus merubah strategi.

Kapten tim yang ditemui hari Jumat ini mengatakan, "Kami tetap optimis bisa bertahan sampai babak final. Ada dua orang anggota tim, yang biasanya masuk tim voli cabang. Mereka adalah kunci utama kesuksesan tim. Ada juga beberapa anggota tim yang masih muda dan memiliki potensi yang luar biasa. Meski anggota tim voli puteri kami sedang mengalami defisit pemain karena beberapa anggota ada yang pensiun bersamaan tahun ini."

Hidup Guru!
Hidup PGRI!
Hidup PGRI Ranting Binangun!
Hidup Indonesia!

*

#OneDayOnePost
#November2018
#Day9

#CleverNews
Rumah Clever, Cilacap, 9 November 2018: 13.31.
Ibu Jesi.

**

Sumber referensi: https://www.google.co.id/amp/s/gurupenjaskes.com/teknik-dasar-bola-voli/amp

Hujan di Stasiun

04.41 33

Hujan di Stasiun
Oleh Betty Irwanti

Bella duduk di salah satu bangku ruang tunggu stasiun. Lama ia memandangi hujan yang baru saja turun. Awalnya hanya rintik, namun perlahan tapi pasti menjadi semakin deras, membuat lantai stasiun basah kuyup tersiram hujan.

Sepanjang perjalanan tadi memang suasana sudah gelap. Dugaan sebentar lagi hujan, ternyata benar.

Bella mengalihkan pandangan ke lelaki yang duduk di sebelahnya. Ia menyunggingkan senyuman termanis. Lelaki itu membalas dengan senyuman pula, lalu kembali menekuri gawai yang sejak tadi dipegangnya.

Bella kembali menatap hujan yang turun pagi ini, deras sekali. Seolah-olah kemarau yang hampir tujuh bulan mengiringi, hilang begitu saja. Seolah-olah hujan ini menghapus kekeringan yang hampir-hampir sudah terjadi.

Seperti itulah kehidupan, kadang kemarau bisa saja menyapa. Namun, kedatangan hujan adalah keniscayaan. Hujanlah peredam semua kekeringan.

*

5 bulan yang lalu,

Bella menggelar pesta pernikahan sederhana. Ia menikah dengan Brian, lelaki yang dikenal lewat seorang teman.

Hanya butuh beberapa bulan saja sejak ia berkenalan, hingga memutuskan untuk hidup bersama kemudian. Meski begitu, setelah menikah ia masih harus rela menjalin LDR-an. Bella di kota kelahiran, Brian di ibukota negara. Sungguh, jarak benar-benar telah memisahkan.

Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan. Bella yang terbiasa hidup sendiri dan mandiri, harus rela untuk belajar memperhatikan Brian, yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Ia ingin menjadi seorang istri yang berbakti, bukan istri yang bertindak seenak hati. Perhatian terus ditunjukkannya meski sementara ini hanya dilakukan lewat media gawai.

Hubungan terpisah jarak kadang menimbulkan banyak riak. Komunikasinya dengan Brian akhir-akhir ini memang sedikit kacau. Apalagi kalau bukan sebab Long Distance Relationship. Disadari atau tidak solusinya hanya satu, saling mendekat.

Sesungguhnya, dalam hati Bella resah dan gelisah. Ia bingung ketika diberi pilihan oleh Brian, apakah akan tetap bertahan dalam cinta antar dua kota atau salah satu harus mau Resign dari pekerjaan.

Lama sekali ia harus mengingat dan menimbang. Sampai akhirnya ia mantap pada satu pilihan.

"Yang, aku ingin bicara hal penting. Adakah waktu untukku?" Bella mengetik pesan itu di WA kemudian dia kirimkan ke suaminya. Ia biasa memakai sapaan, "Sayang" atau disingkat "Yang" pada Brian.

Beberapa menit menunggu, Bella mendapatkan jawaban.
"Iya, Yang. Nanti malam aku telepon ya. Jangan sekarang. Aku masih sibuk,"

"Baiklah, Yang. Aku tunggu, ya!"

**

4 bulan yang lalu,

"Yang, jemput aku di stasiun ya! Malam ini aku pulang," Bella membaca pesan itu sejak siang.

Ia lalu membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk suami tercintanya. Tak sia-sia usaha Bella belajar masak demi sang pujaan. Ia harus memberi kejutan untuk Brian. Begitu niatnya dalam hati.

Bella berdandan rapi sore ini. Berulangkali ia memandangi cermin untuk meneliti penampilannya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah dirasa sudah maksimal, ia ambil kunci motornya lalu menyalakan kendaraannya.

Sepanjang perjalanan, Bella merenungi satu hal. Tak terasa sudah lebih dari sebulan ia mengarungi bahtera rumah tangga dengan Brian. Meski sering salah paham, tapi sejauh ini hubungan tetap berjalan harmonis.

Ia sudah berusaha untuk keluar dari kerja yang sekarang. Tapi karena posisinya belum ada pengganti yang mumpuni, sementara ia harus bertahan demi kualitas perusahaan.

"Ah, lagi-lagi niat baik harus menemui rintangan. Aku ingin berbakti pada suamiku dengan menuruti apa maunya. Aku ingin jadi istri yang tinggal satu atap dengannya, bukan berjauhan seperti sekarang ini,"

Bella menggumam sembari tetap berkonsentrasi pada kendaraan dan jalan. Sampai di stasiun, rupanya kereta yang ditumpangi Brian belum datang.

Bella pun menunggu di ruang tunggu stasiun.

***

4 bulan telah berlalu sejak kepulangan Brian waktu itu. Tuhan mulai menunjukkan jalan atas niat baik Bella. Perusahaan telah berhasil merekrut pegawai baru. Hanya saja, masih harus didampingi oleh Bella dalam menyelesaikan segala tugasnya. Bella pun bersemangat.

Semangat seorang istri yang akan segera bertemu dan berkumpul satu atap dengan suaminya. Adakah perasaan yang sebegitu membahagiakan selain ini?

Bella mengabari suaminya. Akhir pekan, ia sudah bulat akan mengikuti suami tercintanya. Ia sudah ikhlas untuk pindah ke ibukota negara.

Bella pun bersiap. Ia kemas semua barang yang perlu dibawa. Weekend ini ia sudah harus naik kereta api menuju Jakarta. Brian akan menjemputnya di stasiun Jatinegara.

Rasanya menjadi adil. Biasanya ia yang menjemput dan menunggu suaminya di stasiun, kali ini Brian yang akan melakukan untuk Bella.

****

Stasiun Jatinegara, pagi ini.

Bella masih duduk di bangku stasiun. Lelaki dengan senyuman manis itu juga masih duduk di sebelahnya.

"Yang, kita menunggu hujan reda ya?"
Bella mengangguk. Lelaki itu melanjutkan perkataan, "tadi aku gugup soalnya, mantel di meja jadi lupa kubawa,"

"Iya, gak papa kok!" jawab Bella mendekat.

Brian berdiri menghampiri istrinya, "Kita sarapan pagi dulu aja yuk! Sini, biar aku yang bawa barang bawaanmu. Kamu pasti capek kan semalaman tidak tidur?"

Bella menurut, bangkit berdiri lalu menggandeng tangan Brian. Ia sudah bertekad untuk mengikuti langkah kaki suaminya kemanapun dia pergi.

*****

Tantangan ke-1: Membuat Cerpen Berlatar Stasiun Kereta Api untuk Kelas Fiksi ODOP6

Dibuat di Rumah Clever, 8 November 2018, 04.37.
Oleh Ibu Jesi.

#OneDayOnePost
#November
#Day8