Tugas Akhir ODOP 6: Demi ODOP Aku Rela

07.23 5

Demi ODOP Aku Rela
Oleh Betty Irwanti

Beberapa bulan yang lalu aku membaca status seorang teman di Facebook yang isinya Open Recruitment One Day One Post Batch 6. Entah kenapa aku langsung tertarik dan menunaikan segala persyaratan.

Sekian lama menunggu, akhirnya diumumkanlah nama-nama peserta yang bisa ikut ngODOP6. Antusiasme luar biasa membuncah, kenapa? Karena ini artinya aku akan menghidupkan kembali blog yang pernah vakum lebih dari dua tahunan sejak kubiarkan lamatan karena proses kehamilan dan persalinanku.

Dengan mengucap "Bismillahirrahmanirrohiim" aku mulai semua kegiatan di ODOP6. Tambah teman, tambah ilmu, tambah semua yang baik-baik. Meski aku harus mengurangi kegiatan menulis di komunitas lain dan merelakan dua proyek demi fokus. Aku juga rela mengundurkan jadwal menulis privat project demi tetap bisa fokus pada kerja, baby dan keluarga.

Alhamdulillah semua proses seperti dimudahkan oleh Allah SWT. Sampai tiba di hari terakhir tahun 2018, aku membuat tulisan ini.

Terima kasih untuk semua warga dan pengurus ODOP6, terima kasih atas kesan baik yang menghujam manis di hatiku. Aku sangat bersyukur bisa berada di antara kalian semua.

Terima kasih untuk semua adrenalin tantangan yang tiada pernah bisa kulupakan. Tantangan-tantangan yang berhasil membuatku mencoba berbagai genre tulisan. Tantangan-tantangan yang menunjuk pada beragam atmosfer baru di dunia penulisan.

Pesan untuk semua warga dan pengurus ODOP hanya, teruskan program baik ini. #2019lanjutkan!

Mari sambut tantangan baru tahun depan.

Mari sambut nuansa pemilihan mulai bulan depan. Seperti yang sudah dipasang sebagai ikon Grup Besar Odop "We Want You to be Next Leader Komunitas ODOP"

Demi ODOP aku rela tulisan ini dianggap sebagai iklan, eh.
😀

Status ini bukan status politik. Tapi status tugas akhir dari PJ Pulau Harapan.

Kutunggu kesan dan pesan penghuni ODOP, silakan meninggalkan jejak di kolom komentar ya 👌

*

😍
IBU JESI
Nyi Bejo Pribumiluhur
Guru bi(a)sa

@Rumah Clever, Cilacap, 31 Desember 2018: 06.47.

Resume Materi Fiksi_Umar Affiq

04.17 15

Resume Materi Menggali Ide Kelas Fiksi Odop 6
Yang disampaikan oleh Mohammad Umar Muwaffiq

Ditulis oleh Betty Irwanti Joko

*

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat hari Minggu teman-teman semua. Happy weekend. Happy long holiday buat anak-anak sekolah yang sudah terima rapot ya.

Lama gak nulis di blog, kangen juga nih. Maafkan karena kerempongan di dunia nyata, tulis menulis harus terjeda. Tapi bukan berarti tidak ada karya ya. Sementara harus standby di KMO Indonesia juga, sudah mulai kelas pertamanya.

Oke, baiklah. Bukan itu yang mau kutulis. Aku mau menulis tugas resume yang sebenarnya sunah, dikerjakan mendapatkan point, tidak dikerjakan pun tidak apa-apa. Tapi karena saya termasuk tipe orang yang susah tidur kalau belummengerjakan yang dirasa sebagai tugas. Akhirnya, dini hari begini pun masih mode on. Meski awal terbangun sebenarnya karena ingin ke toilet. Eh! 😁

Malam Minggu ini, Kelas Fiksi Odop6 rame! Gimana bisa? Meskipun di awal terjadi delay sesaat, akhirnya bisa on juga beberapa saat kemudian. Betapa senangnya hatiku karena aku pun bisa menyimak sejak awal, yess. Terima kasih Bebi Jesi dan Ayah Jose, kalian memang benar-benar mendukungku belajar menulis. Kalian tugas (turu gasik, itu sangat membantuku untuk punya banyak waktu me time 😙)

Malam Minggu ini, Kelas Fiksi Odop6 kedatangan tamu keren. Ini dia profilnya.

Nama: Mohammad Umar Muwaffiq

Nama pena: Umar Affiq

Ttl: Rembang, 14 Desember 1992

Hobby: apa ya selain nonton naruto, baca komik naruto, dan membaca? Dulu sih sempat suka menggambar tapi sekarang jarang banget oret2 kertas.

Makanan favorit: suka lontong tahu atau tahu lontong, mie ayam (agak pilih2), bakso (gak pilih2) tapi belakangan ini ingin jadi herbivora dan meninggalkan daging-daging, suka sama buah anggur dan tidak
suka pada buah yang memiliki tekstur butir2 kecil kasar seperti kersen atau baleci.

Angka kesukaan: 7⃣

Penulis fovorit: Eka Kurniawan, Eko Triono (dalam cerpen yang bukan eksperimental), Budi Darma, M. Aan Mansyur. Daftar nama ini hanyalah daftar sementara yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa
memberitahu pemilik namanya.

Karya tulis: beberapa puisi, resensi dan cerita pendek sempat tersebar di media luring dan daring. Pernah dapat juara 2 lomba nulis resensi divapress dan ini menjadi pijakan pertama buat terus nulis. 2015 juara
1 lomba cipta cerpen yang diadakan Gerakan Tuban Menulis, 2015 masuk long list lomba cerpen tamanfiksi.co, 2016 masuk nominasi lomba  cerpen santri nasional oleh Kemenag RI, 2017 memenangi
kompetisi cerpen Kampus Fiksi Emas #4 dengan cerpen Hari Anjing-Anjing Menghilang, 2018 menerbitkan buku kumpulan cerpen pertama dengan judul Di Surga, Kita Dilarang Bersedih. Kumcer ini adalah kumpulan juara kampus fiksi emas. Cerpen Kak Umar juara l. Kalian bs belajar buat paragraf pertama yg dahsyat sampai tempo bercerita. Even Pak Edi divapress bilang, cerpen umar filmable banget.

Mantul banget kan, ya!

Karena pemateri malam Minggu ini baru saja berhari jadi, masih boleh kan ya, aku sampaikan "Happy Birthday ya",  semoga sehat dan bahagia selalu. Semakin semangat dan sukses. Aamiin.

Karena umurnya yang masih muda belia, kebetulan sama adik bungsuku juga sama jadi aku panggil beliau dengan sebutan, Dik saja ya. Alhamdulilah, sapaan ini disetujui oleh beliaunya.

Begitu Dik Umar Affiq ini datang, kelas langsung aktif. Kenapa? Karena kelasnya memang interaktif, bukan kelas yang monoton dengan komunikasi hanya satu arah. Itulah kenapa aku pun langsung mengirimkan banyak pertanyaan. Pun juga teman yang lain, bahkan ada yang menampung berbagai pertanyaan dari status yang dibuatnya di medsos. Ini sungguh kreatif.

Berikut petikan pertanyaan dan jawabannya ya, langsung saya ramu dari copy pastean di WAG Kelas Fiksi Odop6 yang berlangsung live dari pukul 20.01-23.08.

1. Jadi, kak, dari mana biasanya dirimu menemukan ide?

Oke.
Dalam beberapa cerpenku, aku menemukan ide dari mimpi. Jadi ketika aku tidur ran bermimpi sesuatu dan masih teringat sampai bangun, kalau mimpi itu menarik akan kutulis dalam draft.
Selain dari mimpi kadang dari bacaan. Kalau pas baca karya siapa gitu, dan tertarik, aku tandai biasanya.

2. Dimana biasanya menulis draftnya?

Kadang di status WA. kadang di grup, kadang di note pribadi. Kadang langsung tulis di laptop.

3. Pernah nggak lupa mimpi tapi kayaknya penting banget dan kamu tersiksa karena ingin menulisnya tapi tak tahu itu apa? Apa yg kamu lakukan biasanya?

Ikhlaskan saja sih. Wong udah lupa. Ide itu rejeki, kalo emang itu rejeki kamu ya gak bakal ilang gitu aja.
Mimpi = rejeki.

4. Kadang mimpi itu hanya kita ingat saat terbangun. Ketika sudah pagi atau lewat hari, suka lupa? Bagaimanakah itu? Apakah cerita yang bersumber dari mimpi lebih aman difiksikan?

Soal aman tidaknya tergantung gimana kita menceritakannya ya.

5. Kalau sudah dapat ide,dan ternyata kebanyakan. Ide mana dulu yang harus ditulis lebih dulu?

Mana yang disuka saja mba... masak ginian mau istikhoroh segala. Bhahaha... ops...🤭
Aku tulis aja dulu biasanya. Baru nanti mikir ide ini bagusnya diginiin. Ini ngerjakannya pakai insting sih menurutku.

6. Ada yang pernah nonton movie Kimi no Nawa?

Itu pembukaannya menginspirasi buat dijadiin cerpen lho.
Yang aku maksud, kurang lebih begini:
_Kadang2 aku terbangun dari mimpi dan tiba2 menangis._ Ini sesuatu banget menurutku. Dari sini aku jadi bayangkan tentang seseorang yang belum pernah bermimpi dan tiba2 bermimpi. Kemudian dia begini-begini dan begini. Karena meresa terganggu oleh sesuatu yang baru.
Tapi ide dari mimpi tidak melulu menuliskan (menumpahkan apa yang kita mimpikan ke naskah), kita bisa menuliskan kondisi kita pasca mimpi itu atau sebelum mimpi itu. Dan mimpi itu sebagai bahan konflik saja.

7. Bagaimana cara mencari inspirasi dari hal yang sederhana menjadi luar biasa, apakah ada triknya? Semoga bisa dibagi beberapa kiatnya juga berdasarkan pengalaman Abang selama ini?

Aku merasa masih sederhana saja dan belum luar biasa. Meski demikian aku akan mencoba menjawabnya. Pertanyaannya adalah "bagaimana cara mencari". Siapkan peralatan pencarianmu setiap waktu. Bila ada sesuatu yang menarik, kantongi dia. Proses pencariaan tidak hanya yang bisa ditangkap indera penglihatan saja ya. Gunakan berbagai indera. Atau misalkan kamu fokus satu saja.
Misal nih. Sekarang kamu bayangkan dirimu berdiri di bawah matahari pukul 11 siang di tepi jalan. Gunakan indera pendengar saja. Kamu bisa menjadikan cerpen dari sini.

8. Ide dan semangat itu kan tidak ubahnya seperti iman.
Kadang naik, kadang turun .... Apa Kak Umar pernah merasakan ide atau semangatnya turun drastis alias down? Bagaimana menyikapi saat semangat itu turun, agar bisa kembali bangkit dan nggak berlarut-larut dalam keadaan tersebut!

Relijies banget pertanyaannya.. subhanallah...
Tapi untuk urusan iman konsultasinya sama ustajah Hiday Nur aja ya.
Untuk semangat nulis nih. Hal yang perlu ditanyakan ada gak sih yang bikin kamu semangat nulis? 🤭
Oke oke... aku pernah kehilangan semangat nulis, bahkan, jangankan nulis, baca aja gak semangat. Kurasa semua penulis peenah kok ngalami fase ini. Dinikmati aja. Kepalamu bukanlah kepala M Aan Mansyur yang pernah bilang: "kepalaku kantor paling sibuk sedunia."
Dinikmati aja. Baca yang ringan2 dulu, nonton film, main ke pantai atau gunung, lalu nulis lagi.

9. Menurut kakak, untuk pemula lebih baik menulis kisah apa? Nyata, fantasi atau...? Bagaimana cara menemukan jati diri yang sesungguhnya, atau kalau nulis Passion atau yang cocok dengan aku "ini"?? Maaf banyak bertanya, karena masih pemula dan haus ilmu ????
Mohon pencerahannya??????

Untuk pemula mungkin kamu bisa belajar dari nulis surat ya. Kamu bisa baca cerpen Trilogi Alina karya Seno Gumira Ajidarma untuk belajar. Itu cerpen surat yang bagus. Dan menulis cerpen model surat gini, meskipun udah agak basi tapi cukup bagus buat melatih imajinasi kamu.

10. Kak Umar biasanya dapat ide nulis dari mana yang paling dominan?

Aku merasa pindah-pindah dan musiman ya. Jadi belum ada yang menurutku dominan. Kalo ditanya dari mana ide datang, bisa dari mana saja. Dari tempat ziarah, dari film, dari nontom wayang, dari baca buku, dari macem2...

11. Kak Umar Bagaimana agar ide kita nggak alay?

Mungkin kamu bisa jelaskan mana yang kategori ide yang alay sama yang enggak alay?

12. Kalau kita dapet ide nih misal ya kak. Terus cara mengembangkan ide biar nggak ngalor ngidul ga puguh gmn caranya??

Ini soal rasa sih... karena soal rasa, perlu olah rasa. dan bahan bacaan juga sangat berpengaruh.

13. Bagaimana cara membuat judul yang mengharu biru?

Perihal judul, kamu bisa mencoba hal-hal ini:
1. Memetik dari puisi, Semusim dan Semusim Lagi (Novel Andlina Dwi Fatma), Yang Fana Adalah Waktu, Kita Abadi (Novel Sapardi Djoko Damono)
2. Membuat pertanyaan: Agama Apa yang pantas bagi pohon-pohon? (Eko Triono)
3. Menggunakan pernyataan pengumuman: Hanya Anjing yang Boleh Kencing Di Sini (cerpen Mashdar Zainal), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Seno Gumira Ajidarma)
4. Menggunakan angka: 1984, 5 cm, Fahrenheit 451
5. Tentukan gayamu sendiri
Oh, iya, dalam menulis puisi kalau gak salah ada sesuatu yang bernilai plus bila ada perulangan bunyi "ng" "ah" di akhir. Ini juga bisa dipakai dalam menulis judul maupun dalam badan cerpen. Biar terkesan liris.

Demikian kurang lebih petikan pertanyaan dan jawaban dari Kelas Fiksi Odop6, Sabtu 15 Desember 2018.

Terimakasih banyak Dik Mohammad Umar Muwaffiq Odop6⁩ yang mau direpotkan dengan pertanyaan yang melebihi ujian hidup. Selamat milad dari kita semua.

Barakallah fii umrik.

Selamat menabur bintang yang kelewat materi malam ini.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

**

Demikian resume materi Menggali Ide versiku. Dilarang copas tulisan ini tanpa seizinku, ya. Oke.

Salam santun, Ibu Jesi.

Sumber tulisan: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day16

@Rumah Clever, Cilacap, 16 Desember 2018: 04.05.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.
Guru bi(a)sa

Sumber Gambar: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#Resume
#MateriFiksi
#MohammadUmarMuawaffiq
#UmarAffiq

Resume Materi Fiksi_Achmad Ikhtiar

07.46 12

Resume Materi Prosa Liris Lanjutan-Achmad Ikhtiar (Uncle Ik)
Oleh Betty Irwanti

Tadi malam, tepatnya tanggal 9 Desember 2018 mulai pukul 20.00 sampai pukul 22.00 Grup WA Kelas Fiksi ODOP Batch 6 rame. Ada kelas Prosa Liris Lanjutan dari Uncle Ik (Achmad ikhtiar) yang merupakan anggota lama ODOP. Tapi, karena kesibukan beliau akhirnya memutuskan keluar.

Anggota grup gelar tikar dan mencari tempat nyaman untuk menyimak, termasuk aku. Aku yang di jam-jam segitu bisa dipastikan masih riweh dengan Bebi Jesi (BJ), sebelum jam 8 malam aku menulis notif dulu, untuk absensi. Setelah BJ dan Ayah Jose lelap barulah aku manjat chat yang jumlahnya sudah hampir 250, no problemo gaes.

Sempat juga kok aku minta dibedah tulisan Prosa Liris yang berjudul Hujan di Hatiku yang beberapa seminggu lalu sudah di post di blogku, fasebejo.blogspot.com. Silakan berseluncur bagi yang belum pernah baca ya! 😊

Sebenarnya apa si, Prosa Liris itu?

Berikut aku tuliskan resume (ringkasan) kelas semalam:

Mengapa sih di dunia ini harus ada Prosa Liris? Karena prosa bikin jenuh dan puisi bikin pusing. Perlu banyak latihan untuk bisa membuat prosa liris. Supaya tidak tertukar dengan puisi.

Prosa liris yang dibahas lebih condong ke prosa liris modern. Soalnya prosa liris klasik kebanyakan berisi mantra dan udah umum di masyarakat Minang. Coba simak saja karya Khalil Gibran, W.S. Rendra, Tagor atau Pasternak (Boris Pasternak).

Sebelum mulai menulis Prosa Liris, kita harus tau dulu beda antara puisi, sajak sama prolis (Prosa Liris). Karena ketiganya mirip. Puisi cenderung kaku dan terikat pada aturan, sajak lebih bebas tapi tetap terikat pada rima tertentu.

Prolis bisa dibilang sebuah pemberontak atau mix dari prosa dan puisi. Prolis punya gaya bercerita mirip dengan prosa tapi menggunakan diksi puisi. Itulah yang membuat prolis memiliki kekuatan lebih dibanding prosa, karena daya interpretasinya lebih luas. Umumnya prolis ditulis berparagraf seperti prosa atau cerpen tapi tidak mengikuti plot cerpen, jadi boleh langsung lompat ke konflik atau malah tanpa konflik.

🍀

Contoh prolis yang ditulis oleh Uncle Ik:

BLUES MALARIA

Sitir Blues Untuk Bonnie....

Pandangan matamu masih nanar menjilati pojok demi pojok. Berharap ada berahi malam ini supaya perutmu  yang kosong bisa terisi. Sejauh mata memandang, hanya asap-asap kejenuhan yang terus dihembuskan dari mulut-mulut berbau whiskey.

Langkah kakimu gontai, dari balik perut yang rata, lambungmu perih menjerit-jerit karena belum terkena nasi sejak pagi.

Di tengah ruangan, penyanyi negro dengan gitar akustik bututnya masih terus bernyanyi-nyanyi. Dia tidak bernyanyi dengan suara, tapi dengan darah dan air mata. Kenang mengenang. Lagu perih tembang kampung halaman.

New Orleans… New  Orleans… Oh New Orleans yang jauh disebutnya berulang-ulang. Terkenang anak istrinya yang terbuang, mimpi-mimpi yang sudah tergadai sampai tandas dan borok di selangkangan yang tak kunjung sembuh.

Sumpah serapah membuncah dari mulut-mulut mabuk di pinggir panggung. Bising, hingar bingar, kumuh, jorok, tak beradab, bar-bar. Kamu terjebak dalam neraka yang tak berkesudahan.

Pandangan matamu mulai buram…

Duduklah sini dekat pedianganku. Angin santer yang meniupkan malaria terlalu liar untukmu duduk-duduk di luar. Anyaman rambutmu kusut masai tapi keningmu terang benderang. Duduklah sini sayang.

Hari sudah kasip begini… siapa lagi yang akan datang?

Duduk sini dan genggamlah cangkir kenangan yang akan aku sodorkan. Di dalamnya meliuk-liuk nafas sejarah yang panjang, jangan kamu lupakan. Genggam erat-erat biar tubuhmu hangat.

Akan aku ceritakan sebuah kisah.

Seribu dua ratus empat puluh enam tahun yang lalu, ada seorang lelaki yang termakan sumpah. Janji untuk kembali setelah bertualang lelah. Seorang perawan yang terlalu setia, selalu menunggu kapal terakhir merapat di dermaga. Sambil duduk di ayunan memainkan boneka. Apa mau dikata, kelasi-kelasi mabuk yang datang tak pernah membawa kabar berita. Perawan tetap setia, walau merana.

Duduklah sini sayang, puaskan laparmu, makan dari pingganku. Teguklah anggur-anggur kenangan yang kusajikan. Supaya lupamu hilang, supaya deritamu sirna.

Nanti, pada kokok ayam pertama kita pergi. Tinggalkan negeri tak berperadaban ini. Saat matahari nanar membakar ladang-ladang gandum, kita sudah akan sampai di negeri entah berantah yang hanya kita berdua tahu.

Pada saatnya nanti pasti akan kukatakan:

“Tatap mataku dalam-dalam. Kenanglah, aku lelaki yang seribu dua ratus empat puluh tahun lalu pernah ucap janji…

….padamu.”

🍀

Latar belakang penulisan, ide Blues Malaria Uncle Ik dapat waktu membaca Blues Untuk Bonnie sambil denger lagu Abraham Laboriel yang berjudul Guidum. Tentang kerinduan seorang budak pada kampung halaman. Lalu lahiran ide untuk memasukkan tokoh Pelacur, penyanyi kuiit hitam yang kena sifilis dan cerita tentang tanah harapan. Jadi deh Blues Malaria.

Langkah berikutnya sebelum menulis prolis adala diksi. Ini adalah bagian paling penting dalam membuat prolis. Fungsinya untk memperkuat kesan. Disinilah seorang penulis diuji kemampuannya untuk berdiksi dengan sepenuh hati.

Selanjutnya kita masuk bagian pematraan, ini bagian paling penting. Sebagaimana prosa yang harus kuat dalam deskripsi ruang, prosa liris juga demikian. Enaknya prosa liris lebih bebas, jika kita diminta mendeskripsikan sesuatu kita bisa bikin seemosional mungkin.

Dalam kelas lain, salah satu sifat prosa liris adalah bersifat romantis. Itu betul, tapi siapa yang bisa kasih tolok ukur sebuah keromantisan. Romantis bersifat private, semua orang punya definisi romantis sendiri.

Menurut Uncle Ik, perkembangan prosa liris di Indonesia kurang bagus, masyarakatnya masih suka sastra paperback, makanya wattpad laku. Kalau di luar negeri lebih berprospek, taste seni masyarakat nya udah terlatih

Untuk mendobrak hal itu, Uncle Ik suka nulis prosa liris. Alasannya adalah karena media menulis lain ga ada yang se megah prosa liris. Juga karena kelebihan prosa liris dengan prosa lainnya yang lain. Satu paragraf prosa liris bisa sama dengan 5 halaman prosa dalam makna.

Prosa liris jelas berbeda dengan puisi, karena prolis boleh memakai dialog.

Perhatikan prolis di bawah ini!

🍀

JENDELA

October 21, 2016

sumber: artebia.com

“Sudah kubilang jangan sekali-kali berani membuka jendela itu!”

“Kenapa?”

“Karena saat kamu melihat dunia di balik jendela kamu akan menginginkannya.”

“Itu apa?”

“Itu adalah tangisan.”

“Kenapa manusia menangis?”

“Karena hatinya sedang dihinggapi kesedihan?”

“Apa itu kesedihan?”

“Kenyataan yang terjadi di luar harapan.”

“Apa pula itu harapan?”

“Sesuatu yang kamu inginkan agar terjadi dalam hidupmu.”

“Aku paham sekarang. Berarti manusia akan menagis jika harapannya tidak terpenuhi.”

“Benar. Cepat tutup jendela itu!”

“Sebentar, apa itu yang di sebelah sana?”

“Itu tawa.”

“Kenapa manusia suka sekali dengan tawa?”

“Karena tawa adalah wujud bahagia.”

“Bahagia?”

“Iya, bahagia.”

“Apa itu bahagia?”

“Bahagia adalah saat harapanmu terpenuhi.”

“Berarti tawa adalah kebalikan dari tangis?”

“Tepat.”

“Kenapa tangis diciptakan? Bukankah akan lebih menyenangkan kalau hanya ada tawa di dunia?”

“Untuk menggenapi takdir.”

“Aku jadi bingung. Apa itu takdir?”

“Takdir adalah yang terjadi pada manusia saat mereka sibuk merencanakannya.” *)

“Bahasamu terlalu tinggi. Jelaskan padaku dengan bahasa uang mudah aku pahami.”

“Tidak ada penjelasan lain, sekarang lekas tutup jendelanya.”

“Sebentar, tolong jelaskan yang berpendar dari dada manusia itu apa?”

“Itu cinta.”

“Cinta?”

“Iya.”

“Akan aku tutup jendelanya setelah kamu jelaskan cinta padaku.”

“Tak pernah ada penjelasan tentang cinta.”

“Kenapa begitu?”

“Karena cinta bersifat personal. Tak pernah bisa didefiniskan.”

“Lalu kenapa cinta diciptakan.”

“Untuk menggenapkan.”

“Menggenapkan siapa?”

“Manusia.”

“Bukankah manusia sudah genap dan lengkap.”

“Belum. Lihatlah mereka. Mereka berbeda dengan kita. Mereka hanya memiliki sebelah sayap.”

“Karena itukah mereka tidak pernah bisa terbang ke sini?”

“Tepat.”

“Lalu…?”

“Lalu apa?”

“Bagaimana cinta bisa sebegitu menggenapkan?”

“Saat manusia dalam cinta mereka akan saling berepelukan, erat, sampai tubuh mereka lumat, jadi satu. Jadilah sayap mereka lengkap. Lalu mereka dapat terbang.”

“Kalau mereka dapat terbang, kenapa mereka tidak pernah sampai bisa ke sini?”

“Karena mereka betah tinggal di dunia dibalik jendela.”

“Apa menariknya dunia di sana?”

“Tidak ada.”

“kamu pasti berdusta.”

“Tidak.”

“Kalau dunia di sana tidak menyenangkan, kenapa manusia betah sekali tinggal di sana?"

“…………”

“Baiklah, kalau kamu tidak mau menceritakannya. Akan aku tutup jendelanya sekarang.”

Mungkin karena aku sudah tua dan alpa, rupa-rupanya cinta sempat singgah melalui jendela. Jadilah kami merana. Tertawa, 

menangis, tersenyum dan berkerut-kerut kening karena berusaha memahami hakikat cinta itu sendiri.

*) John Lennon, Beautiful Boy

🍀

Menurut Uncle Ik, tulisan Jendela ini udah luar biasa bagus, hanya bagian emosi yang kurang.

Uncle Ik juga menjelaskan ada bermacam-macam genre prolis, Gibran yang romantis, Tagor yang humanis dan Rendra yang sedikit sadis.

Berikut contoh lain Prosa dari Member Kelas Fiksi Odop 6:

1. Gedebog Tua oleh Winarto Sabdo

dia merasa bagaikan seorang ratu phrameswari
yang duduk di singgasana yang agung megah menawan hati
bersolekkan segala keindahan yang akan dikagumi duniawi
dimana semua orang akan datang menatap dan ingin memilikinya

sekarang hanya dia seorang berkuasa di wisma penjaja asmara
tiada ratu pesaing duduk di kanan kirinya hanys dia saja penghuninya
ratu bohay yang kecantikkannya bak primadona mati karena AIDS dan ratu semok yang masih keturunan tionghoa terkena sifilis dan sirna
mereka berguguran menuai buah dari kemaksiatan pekerjaan ini

ratu jablai tanpa senyuman menatap kosong ke arah kaca
dahulu banyak lelaki mengetuknya sekedar mencari perhatiannya
sekarang mereka hanya melewatinya dengan tatapan kosong dan hampa
tergesa menuju istana baru tempat pelacur muda dari generasi yang lebih belia

ya orang perlahan telah melupakkan kemolekkan tubuhnya
duapuluh tahun lamanya dia dipuja para pencari cinta
sebagai sosok primadona penguasa seantero komplek prostitusi
kini hanya seperti sebatang gedebog pisang tua tak berharga
andai suatu saat dia tumbang
takkan ada yang memperdulikannya....

🍀

2. Bahasa Cinta di Tengah Lenyapnya Cinta oleh Wakhid Syamsudin (Mentor Kelas Fiksi)

"Pergilah, Nak, tinggalkan Rohingnya. Biarkan kami menunggu Izrail, kemana pun pergi, toh, ia akan memanggil, meski di sini kami hanya bisa menggigil."

Kata-kataku di selaksa tangis yang tidak kaugubris di antara kecemasan dan ancaman tragis. Dua keranjang kauikat meski kami tak sepakat karena apalah arti nyawa kami yang sudah nyaris sekarat dalam dekap jazad yang kehilangan daya kuat.

"Aku akan membawa kalian serta, karena kalian bagiku permata, bahkan tidak akan pernah rela kalian keluar airmata, karena kalianlah cinta."

Ucapanmu tulus dari cekung wajahmu yang tirus ditopang tubuhmu yang kian kurus karena kami tak lagi sanggup mengurus. Kau angkat kami satu persatu, merebah di keranjang itu, meski harapan selamat pun belum tentu, meski kau tahu nyawa bisa melayang sewaktu-waktu, tak menyurut tekadmu yang membatu.

"Kau memanggul surga, Nak. Surga akan menyertaimu selalu, Nak."

Tidak kaupedulikan lelah agar kami tetap di atas, kaubawa langkah kaki telanjangmu pada tanah berlumpur yang kaulintas, hutan dan bukit serta sungai kauretas, agar sesegera mungkin melewati tapal batas, agar nyawa selamat tuntas, karena kampung halaman hanya menyisakan kisah nahas.

Nizam, kunamai engkau ketika terlahir, bahkan kami tak habis pikir, sedemikian tekadmu membawa kami menyingkir, dari jangkauan laknat para kafir. Nizam, kujumpai Uwais Al Qarni, sahabat Nabi yang pantas disegani, karena hidup berlimpah bakti, menggendong ibunya ke tanah suci, demi menunaikan haji. Dan Uwais terlahir di sini, dengan nama Nizam si anak kami, surgamu menanti, segala hidupmu kami ridhai.

🍀

(Komentar Uncle Ik: tulisan gedebog tua menyalahi aturan pertama dalam prolis, curahan perasan. Prolis melulu berisi keberpihakan, entah itu suka, jijik, benci, melaknat, simpati dll. Di tulisan itu hanya menceritakan kisah Pelacur tua yang dibumbui diksi dan analogi sehingga kesan emosi yang mau diangkat terasa kurang. Tulisan kedua mengingatkan saya sama prolis lama, keterikatan diksi kuat, saling membelit, jadi terasa kurang bebas. Tapi pemilihan diksi nya bagus)

3. Me, A Jew oleh Fathin

They say if there is heaven in the meadow. But I only found the widows. Their husbands send to the war. Women can’t move, because there is too far.

Head stays on the ground. If you don’t want to hear the deadly sound.  Bombs on the north, sulfur on the south. “One Palestinian’s life is a ticket to heaven,” government said. They dressed so beauty, speak about humanity. But slaughtering the children with no mercy. Should I believe the government?

I walk along the night. Wondering, where is the knights? Head beheaded, heart betrayed. The country clap, when the soldiers take a nap. On the hill of dead bodies, where women and children buried with their worries.

They say, if war is for justice. But I smell it is only for a prestige. Above thousands of people that killed. Yet, they say if God’s order still doesn’t fulfilled.

I walk along the day. Meet a man called Faraday. “Another woman is raped in front of her baby!” he said. It’s not only a story. It’s a May day story, I’m afraid. They kill the Palestinians. Spread fear beyond the tanks’ shadow. I don’t get what Heaven’s will. If there’s only tears and sorrow?

I still in Jerusalem, hope there is no other ruin. But the soldiers push me to join, torture  the Palestinians. They say if  it’s a patriotic. I say it’s a genocide.

"You are a Jew. You should own Jerusalem!” a soldier speak.
"I am a Jew. I should brother with the Moslem!” I won’t repeat.

So I leave him, walking into the dome. Still stand like a stone, think about human and throne.  Two pity kids come, tell me if there is no tomorrow. No warm pillow, houses always on fire. Make me won’t to swallow, that government order. It’s tons of lie.

What is the Heaven’s will, if there’s only tears and sorrow?

🍀

4. Melulu Rindu oleh Lia Anelia

Meringkuk di sudut ruang rindu. Seperti biasa. Hanya aku. Dalam penantian tanpa temu. Selalu berakhir dengan pilu. Namun tak jua buatku menyerah. Aku tetap setia menunggu. Hingga batas waktu.

Batas waktu? Batas yang mana? Jika sabarku tak kenal waktu. Berwindu ku sabarkan hati. Hingga kini, mungkin selamanya. Ya, selamanya.

Selama apa? Mungkin hingga tutup usia? Atau hingga nirwana? Entahlah. Akankah rinduku terus menyepi di sudut hati hingga negeri abadi? Mengapa sedalam itu? Aku pun tak tahu. Hanya rasa ini yang kian erat mengikatku tanpa tahu mengapa.

Mengapa harus aku sendiri yang menyimpan luka? Sedang kau asik dengan mimpimu. Berlayar kemanapun engkau mau. Meraih cita, katamu. Sebersit tanya kadang terlintas begitu saja. Namun aku tak kuasa meminta. Mematahkan asamu demi sebuah hati, yang mungkin tak berarti bagimu.

Bagimu hadirku hanyalah semu. Seumpama debu, yang terlihat hanya jika ada cahaya. Walau nyatanya udara yang kau hirup pun tak lepas dari partikel debu, bukan? Ya, akulah debu yang terhirup dalam setiap udara yang kau hela, walau kau tak pernah menyadarinya.

🍀

(Komentar Uncle Ik: ini bagus, prosa liris pop romantis. Tapi, niilai rasa dan pesan yang terkandung di dalamnya juga harus kuat. Tolok ukurnya, kalau pembaca belum menangis, merasa sesak, terharu atau jijk, berarti kita harus belajar lebih banyak lagi)

Pesan dari Uncle Ik di akhir sesi kelas adalah membacalah. Membaca itu penting, tapi lebih penting lagi memilah apa yang kita baca. Biasakan membaca buku yang punya kualitas bagus. Perbandingannya turun 30%. Maksudnya, jika kita membaca sebuah buku dari seorang penulis dan mempelajari nya dengan baik, maka ilmunya akan kita kuasai 70%.

Coba kalau kita pilih buku dengan kualitas buruk, berapa persen penurunan kualitas yang kita dapat. Waktu kita membaca prolis, kita di ajak tamasya, melupakan separuh dunia dan jadi buat kita percaya kalau kita seutuhnya memang manusia.

Karena aku hanyalah manusia biasa, yang mempunyai Bebi Jesi adalah karunia-Nya yang harus dijaga. Maka, meskipun kelas sangat ramai dan padat berisi, aku baru bisa bergabung di akhir sesi, alhamdulillah masih sempat posting prolis yang kutulis. Rezeki juga bisa langsung ditanggapi oleh Uncle Ik.

5. Hujan di Hatiku oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Mungkin Tuhan sudah tahu, hatiku penuh sendu. Limbung menguasai kepalaku sama seperti tubuhku.

Hujan jatuh di hatiku, membasahi setiap relung sukma nun jauh. Apakah kau tahu sebenarnya itu yang menguasai hariku kali ini?

Tanpa komando tanpa permisi, basah membanjiri mataku. Apakah hanya aku yang masih saja suka begini? Ingin marah, ingin menawar tapi apalah kuasaku.

Basah mataku samar terlihat, kututup sunggingan senyum dan jawaban yang merangkak pasti. Basah mataku takkan terlihat, karena Tuhan mengirimkan hujan untuk menghapus sembab agar menjadi tak jelas nampak.

Bukan, bukan karena aku tak bisa menahan. Mungkin memang harus terjadi, sebab semua sudah tercatat. Nun jauh di sana. Di tempat yang dijaga ketat oleh-Nya.

Hujan jatuh di hatiku, hujan juga turun membasahi langkahku. Meski begitu tetap jua kukuatkan hatiku.

Aku bukan lagi anak baru yang masuk kerja kemarin sore. Aku sudah belasan tahun berkutat dengan tugas ini. Mestinya, semua sudah kupahami. Demi sebuah kesetiaan pada negara, keluarga dan diri hamba.

Mungkin hati sedang tidak bisa kukuasai.

Hujan di hatiku sudah biasa. Sebiasa aku mengurainya menjadi pelangi agar tak hanya basah menyertai, tapi ia akan mengering dengan hadirnya mentari pagi.

Bukankah pelangi biasa datang selepas hujan sebentar lalu pergi?

Hujan di hatiku bisa jadi hanya terjadi padaku. Sama seperti hujan yang kadang turun di lokal tertentu.

Buktinya, hari ini. Hujan yang sama saat kulewati medan kerja dengan sendunya hati. Separuh kulewati dengan berbasah diri, seperempat lagi hanya rintik belaka, bahkan seperempat sisanya masih kering seperti saat hujan belum tiba.

Ah, mungkin hujan hanya jatuh lokal di hatiku saja.

Mungkin kini bisa jadi kau sedang tertawa.

🍀

Komentar Uncle Ik untuk tulisanku: Temanya umum, diksi lumayan, pop romantis juga 😬)

Terima kasih ya Uncle Ik atas semua Ilmu Pengetahuannya, dan Pencerahannya. Barakallaah.

Oh, iya. Kalau ingin berkenalan lebih dalam dengan Uncle Ik, bisa klik www.achmadikhtiar.blogspot.com
atau www.uncleik.blogspot.com. Di dua web itu pasti banyak tulisan prosa lirik. Aku yakin kamu pasti akan segera melirik, hehehee.

Demikian resume materi Prolis Lanjutan versiku. Dilarang copas tulisan ini tanpa seizinku, ya. Oke.

Salam santun, Ibu Jesi.

Sumber tulisan: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day10

@Rumah Clever, Cilacap, 10 Desember 2018: 19.31.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.
Guru bi(a)sa

Sumber Gambar: WAG Kelas Fiksi ODOP6

#Resume
#Materi Fiksi
#Achmad Ikhtiar

Kerempongan Timbangan

14.31 0

Kerempongan Timbangan
Oleh Betty Irwanti

Ibu Jesi melonggarkan jarit yang sedari tadi dipakai untuk menggendong anaknya, Jesi. Baru saja ia akan membaringkan Jesi di alat timbangan dekat pintu posyandu, Jesi jejeritan. Balada Ibu Jesi dengan kerempongannya segera dimulai. Kerempongan sesi satu sebab percobaan naik alat timbang sesi satu, gagal.

Ibu ajaklah Jesi masuk ke ruangan posyandu. Ngisi daftar, sambil meletakkan buku pink posyandu penimbangan.

"Ibu, Jesi mau?" Jesi menunjuk-nunjuk baskom besar di sebelahnya.

"Mau, apa sayang? Donat atau telur puyuh?" tanya Ibu kader PKK yang jaga lapak.

"Jesi mau donat!" jawab Jesi.

"Berapa?"

"Dua aja, Mbah!" jawab Ibu Jesi. Ibu yang jaga lapak memang sudah tua, jadi dipanggilnya Mbah.

"Dua, jadi berapa Mbah?"

"Dua ribu aja sama kas."

"Oh, ya. Tapi nanti ya. Duitnya di tas"

"Iya, bawa aja dulu!"

"Nanti dapat jatah makanan tambahan ya, Bu Jes! Tanda tangan dulu, tiga kali!" tanya Ibu kader yang berada di depan Ibu Jesi.

"Oh! Lha cepithir yang kemarin dibagi buat apa ya?"

"Coba, mana! Dikumpulin sini!"

"Itu, di dalam buku pink. Sebentar tak cari dulu."

Ibu Jesi membuka buku pink, lalu mengambil barang yang dimaksud. Jesi, mengambil lembaran yang lain.

"Ini, Bu!" Ibu Jesi menyerahkan cepithir bertuliskan PMT Posyandu Cigebret.

"Ibu, ini apa?" Ibu Jesi pun menoleh. Sedikit kaget, "Lho, Jes. Itu ceklist BKB sayang. Kenapa di sobek?"

Jesi, nangis. Kerempongan kedua, berlangsung.

"Gak, papa sayang! Nanti Ibu minta lagi sama Bunda di sana, jangan nangis ya?"

"Ayuk, pulang! Ayuk, pulang!"

Ibu Jesi keringetan. Berjalanlah dia ke pojok ruangan, dekat anak tangga.

"Jesi, mau nenen?"

Jesi menggeleng.

"Jesi, mau naik tangga?"

Jesi menggeleng.

"Jesi, mau susu!"

Jesi menjawab sambil menunjuk anak kecil yang sedang minum susu coklat dengan wadah bergambar kartun.

"Iya, ayuk beli!"

Digendonglah Jesi kemudian, melintasi alat penimbangan. Sedikit tidak antri, Ibu Jesi mencoba membujuk.

"Jes, naik ayunan yuk!"

"Iya, Jes. Biasanya kamu mau ayunan, nggak mau turun. Enak lho! Goyang-goyang!" bujuk Ibu Kader yang bertugas nimbang. Bujukan gagal. Sesi dua masih dengan kerempongan.

Ibu Jesi membawa anaknya keluar, menuju toko depan.

"Jesi, mau beli apa?" tanya penjaga toko.

"Biasa, tante. Favorit."

"Oh,,,"

Jesi mengambil susu kotak coklat di dalam lemari pendingin. Setelah di dapat apa yang dimau, Jesi minta gendong Ibunya.

"Bayar nanti ya, Te. Uang di tas!"

"Iya, gak papa. Bawa aja!"

Kembalilah Jesi dan Ibu Jesi ke tempat posyanduan. Jesi yang digendong, asyik dengan susu kotaknya sampai belepotan. Sampailah di depan pintu, dekat alat timbangan.

"Pakai alat yang bisa duduk itu aja. Harus jadi ditimbang lho, masa gak ditimbang?" Ibu Jesi memberi usul sama Ibu kader yang bertugas menimbang.

Jesi jejeritan, bikin alat timbangannya eror. Menunjuk angka yang salah.

"Jesi, nanti aja ya. Masa beratnya 5 kg. Eror ini!"

Kayaknya ibu kader dan alat timbangannya grogi ngadepin Jesi. Oh, my God.

Kerempongan ketiga masih berlangsung. Jesi dan Ibunya sudah berada di pojokan dekat tangga. Ibu-ibu sudah terlihat memadati ruangan. Hiruk pikuk pembagian Makanan Tambahan sudah di mulai. Ada dua pack roti mari, jatah dari provinsi, kata ibu kaur kesejahteraan desa. Okelah. Terima saja, toh ini rezeki. Iya, kan!

"Wardan Alviano!" suara terdengar. "Iya, ada. Itu anaknya Bu Mini! Biar saya yang terima!" jawab Ibu Jesi.

"Penerimaan simbolis, ya Bu! Mau di foto! Data mau dilaporkan propinsi."
Jelas ibu kader yang memanggil. Ibu Jesi menangguk. Jesi nangis. Ibu Jesi mundur.

"Yasmin! Kamu yang maju sana! Jesi nangis."

Ibunya Yasmin yang masih sepupu Ibu Jesi menurut.

"Ah, Jesi mah iya kok!"

Jesi tambah nangis. Duduklah Ibu Jesi kemudian, sambil menyodorkan sebuah tawaran pada anaknya.

"Jesi, mau nenen?"

"He,eh. Dua!"

Apakah itu maksudnya, biarkan hanya Ibu Jesi dan Ayah Jesi yang tahu.
Beberapa lama kemudian, Ibu Yasmin menyerahkan dua pack roti mari.

"Terima kasih, ya Min!"

"Iya,!"

Jesi sudah mulai bisa menyesuaikan, mau naik turun tangga.

"Cleverona Bintang Aljazira" suara terdengar keras. Ibu Jesi berlari, "Iya, hadir!" Diterimalah dua pack seperti jatah untuk Wardan tadi. Ibu Jesi teringat sesuatu.

"Jesi, kita ayunan yuk!"

Tanpa perlu menunggu jawaban, Ibu Jesi sudah menggendong anaknya. Menuju alat timbangan di depan sana.

"Ayunan, yuk Jes! Bantu pasang alat ini ya, Bu!"

Jesi nangis.

"Sebentar, sayang! Sebentar!"

"Berapa, Bu?"

"9,5"

"Kok turun ya?"

"Rata-rata memang pada turun"

"O"

Timbangan berhasil. Meski dengan tangisan dan kerempongan Ibu Jesi selanjutnya.

Apakah itu?

***

Sungguh, jika dituliskan semua akan bisa jadi cerita 10 halaman.

Ibu Jesi menggendong Jesi ke luar. Jesi minta ke sekolahan. Kebetulan sekolahannya dekat dengan tempat posyanduan.

Gambar diambil sebelum berangkat posyanduan, saat Ibu Jesi menjemput Jesi. Jesi terlihat sangat senang.

Sehat selalu ya Jesi, jadi anak solehah, cerdas dan ceria selalu. Aamiin.

****

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day7

@Rumah Clever, Cilacap, 7 Desember 2018: 14.14.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Reuni 212: Allah Maha Penolong

07.10 2

KISAH PENYEDIA LIVE STREAMING PA212 YANG BIKIN MERINDING : ALLAH MAHA PENOLONG

Saya hampir menyerah. Kali ini tidak mungkin sanggup mengerjakan siaran langsung dari Monas. Saat reuni alumni 212. ‘’Tidak ada bandwidth,’’ jelas saya, kepada panitia, dua pekan lalu.

Beberapa penyedia jaringan internet yang saya kenal sudah saya kontak. Tidak ada yang melayani klien di seputar Monas. Vendor-vendor siaran langsung saya hubungi. Siapa tahu bisa membantu. Semua angkat tangan. Tidak punya bandwidth.

Memang ada alternatif lain. Siaran dipancarkan dengan jalur satelit. Tapi biayanya kelewat mahal. Proses pemesanannya pun lama. Live streaming melalui jaringan internet tetap paling ekonomis. Masalahnya, jalur kabelnya tidak ada.

Tiga tahun lalu, saya memasang hub di roof top sebuah gedung di Jalan Medan Merdeka Barat. Tapi tahun lalu sudah saya copot. Langganan berhenti.

Belajar dari pengalaman, dalam kerumunan massa yang besar, bandwidth selalu menjadi persoalan. Apalagi bandwidth dari operator telepon selular. Sudah pasti dut. Kapasitas dari BTS yang melayani kawasan itu sudah pasti habis. ‘’Panitia menyediakan 5 mobil penguat sinyal. Apa belum cukup?’’ tanya panitia.

Saya hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. ‘’Tidak menolong. Yang bermasalah bukan tidak ada sinyal. Tapi tidak ada bandwidth. Sinyal dan bandwidth dua hal yang berbeda,’’ jelas saya.

Rabu petang, Dua teman saya datang: Iwan, penyedia server disway dan Gepeng, developer aplikasi Disway. Setelah mendiskusikan beberapa proyek yang sedang berjalan, kami menuju rumah teman, di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Di Cikini, diskusi melebar ke acara reuni alumni 212. ‘’Pak Joko bikin siaran seperti tahun lalu?’’ tanya tuan rumah.

Saya kembali menggelengkan kepala. ‘’Tidak ada bandwidth kabel. Tidak mungkin bisa siaran,’’ jawab saya.

‘’Dulu kok bisa?’’ tanyanya.

‘’Dulu siaran langsungnya dari studio. Video dari lapangan disiarkan tunda sebagai insert,’’ jawab saya.

‘’Lha ini ada Pak Iwan juragan bandwidth…’’ sahutnya.

Masya Allah! Saya baru ingat kalau Iwan punya perusahaan internet service provider. Padahal setiap hari saya berkomunikasi di grup whatsapp dengan Iwan, sejak Iwan menyediakan server untuk website disway.

‘’Saya tidak punya klien di seputar Monas,’’ jawab Iwan.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 23:00. Iwan sudah mau pamit pulang untuk mengejar jadwal commuterline jurusan Bogor. Tiba-tiba, ada kawan yang mengirim pesan pendek. ‘’Saya bisa menyediakan bandwidthnya.’’

Mata saya yang sudah mulai berat, mendadak terang kembali. Meski belum jelas bagaimana skema penyaluran bandwidth-nya, saya tulis saja crew call. Memanggil semua crew Jagaters untuk hadir di kantor hari Jumat pukul 16:00. ‘’Kita akan live dari lokasi reuni 212.’’

Jumat sore, sesuai jadwal, kami membahas skenario teknikalnya. Termasuk skenario live bila harus menggunakan kamera dari drone.

Selesai salat isya, saya berangkat ke Monas. Saya janji bertemu teknisi yang menyiapkan jaringan bandwidth itu di panggung utama. ‘’Hub kami ada di Pecenongan,’’ jelas teknisi itu.

Wow! Jauh juga. Pecenongan ada di belakang Istana Merdeka. Sedangkan panggung ada di depan Istana Merdeka. Bagaimana cara menghubungkannya? ‘’Kami bikin jalur memutar ke arah Masjid Istiqlal, lanjut ke Jalan Pejambon, baru ke Monas,’’  jelasnya.

Luar biasa. Jalur itu cukup panjang. Kalau diukur mungkin 5 atau 6 Km. Dalam kondisi normal, tidak akan ada yang mau menarik kabel sepanjang itu. Karena waktu tiga hari terlalu pendek. Logikanya perlu seminggu. ‘’Sabtu siang bandwidth sudah siap. Silakan dites untuk live streaming jam berapa saja,’’ kata teknisi itu, sesaat sebelum saya meninggalkan Taman Monas.

Sambil berjalan kaki menuju parkiran sepeda motor, saya kirim pesan pendek kepada teman yang menyediakan bandwidth itu. ‘’Berapa biaya untuk semua layanan ini?’’

‘’Gratis.’’ jawabnya pendek.

Masya Allah. Saya tahu betul. Biaya memasang kabel dan menyediakan dedicated bandwidth 10 Mbps internasional tidak murah. Hitungan saya, paling murah Rp 30 juta.

Kejutan rupanya belum selesai. Staf saya mengirim laporan bahwa biaya pembelian seragam baju koko berikut pecinya mendapat diskon 50 persen.

Pedagang baju di Pasar Tebet itu semula bertanya, mengapa staf saya membeli baju koko dengan motif yang sama dengan berbagai ukuran dalam jumlah banyak. ‘’Mau siaran di stasiun televisi apa? tanya pedagang tersebut.

Setelah tahu baju itu untuk seragam crew siaran langsung reuni alumni 212, harga yang sudah melalui proses tawar-menawar itu dipangkas lagi menjadi separonya. Bahannya pun diganti dengan kualitas yang paling bagus. Dengan harga yang tidak berubah.

Subhanallah. Tuhan selalu punya cara menggerakkan hati hamba-hambanya untuk tolong-menolong dalam kebaikan.(jto)

Penulis adalah penyedia jasa live streaming di Jakarta.

*

Saya bantu postkan di sini. Semoga menjadi hikmah bagi semuanya.

Sumber tulisan: WAG Al Azhar News Cilacap.

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day6

@Rumah Clever, Cilacap, 5 Desember 2018: 20.35.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber Gambar: facebook.com

PAS SemangKA

08.17 0

PAS SemangKA
Oleh Betty Irwanti

*

Akhir November dan awal Desember, menjadi bulan yang sibuk bagi para siswa. Mulai dari tingkat SD sampai SMA mereka menjalani PAS (Penilaian Akhir Semester). Para guru juga tentunya akan sangat sibuk, mulai dari mengoreksi hasil PAS, mengolah nilai, menulis buku laporan hingga membagikannya.

Pada PAS kali ini jadwal per harian sedikit berbeda dengan semester-semester sebelumnya. Senin, 3 Desember 2018: Pendidikan Agama Islam dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Selasa, 4 Desember 2018: PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) dan Bahasa Indonesia. Rabu, 5 Desember 2018: Matematika dan SBK. Kamis, 6 Desember 2018: IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan Bahasa Jawa. Jumat, 7 Desember 2018: PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesenian). Sabtu, 8 Desember 2018: Bahasa Inggris.

Awal pelaksanaan, semua anak di kelas yang saya ampu berangkat semua. Alhamdulillah mereka semua sehat. Namun, kemarin ada dua siswa yang tidak masuk karena sakit. Ada juga dua anak yang sepertinya terindikasi sedang sakit tapi tetap memaksakan berangkat. Mereka yang tidak berangkat akan tetap mengerjakan tes penilaian jika mulai hari Senin besok, tanggal 10 Desember 2018. Ini sedikit memperlambat proses pengoreksian, kenapa? Karena saya baru akan mengoreksi jika semua anak sudah mengerjakan penilaiannya. Ini simple, supaya saya tidak dua kali mendayung.

Hari ini, saat mata pelajaran penting dan krusial di ujikan. Siswa yang kemarin terindikasi sakit benar-benar tidak masuk. Alhamdulillahnya dua siswa yang kemarin sakit dan tidak berangkat, hari ini masuk dan terlihat sudah sehat. Maka, saya harus bersabar menunggu yang masih sakit. Ini ujian bagi saya sebagai guru. Jika pun harus menduakali proses koreksi, saya rela, karena Matematika adalah mapel favorit bagi saya. Tangan saya akan gatal jika tidak langsung mengoreksinya. Karena sepagi ini juga saya sudah selesai membuat kunci jawabannya. Meskipun juga harus mengampu full kelas dua di sebelah.

Sehat-sehat ya anak muridku semua. Musim hujan telah tiba. Musim ujian telah tiba. Bersabarlah hingga ujian akhir semester ini selesai. Selepas itu kalian bebas. Silakan pergi berlibur atau bolehlah membantu bu guru untuk melatih adik kelasmu yang sedang persiapan untuk kegiatan lomba Pesta Siaga di pertengahan bulan depan. Sekolah kita ketempatan, untuk premium event sekecamatan. Lebih dari 40 sekolah akan datang, tunjukkan pesona kita sebagai tuan rumah yang baik, ramah dan berkompeten. Tunjukkan kita bisa meraih juara, meski hanya juara harapan.

Harapan itu selalu ada bagi manusia-manusia yang berusaha. Berusahalah yang terbaik untuk ujian kalian saat ini. Tunjukkan kalian adalah siswa yang bisa dibanggakan.

SemangKA ya, Nak!
Semangat karena Allah.

Karena Allah ada bersama setiap usaha manusia.

SemangKA, yess!

**

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day5

@Clever Class, Cilacap, 5 Desember 2018: 08.11.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Gambar: dokumentasi pribadi.

Cleo yang Tersakiti

10.25 1

Cleo yang Tersakiti
Oleh Betty Irwanti

Siang itu langit tak lagi terang, gumpalan awan hitam menutupi, rupanya mau turun hujan. Aku yang tengah asyik bermain harus segera pulang, berlari-lari kecil menuju rumah. Aku ingat si Nara burung kesayangan masih ada di luar.

Belum juga sampai di rumah hujan pun mulai turun, lama kelamaan semakin deras. Aku yang tak ingin kebasahan, berteduh di sebuah rumah tak berpenghuni. Tiba-tiba kudengar suara kucing mengeyong. Mataku melihat sekeliling dan tertujulah pandanganku kemudian pada seekor kucing kampung berbadan gemuk yang lusuh tak terawat. Aku pun merasa iba pada kucing ini, mungkin dia lapar. Aku mengelus kepalanya, kucing ini pun terdiam.

Tak berapa lama hujan mulai reda, aku melangkahkan kaki untuk segera pulang. Namun aku tak tega meninggalkan kucing ini sendiri. Tanpa pikir panjang langsung kugendong kucing itu dan kubawa pulang. Sesampainya di rumah langsung kumasukkan kucing itu kedalam kandang kecil milik Moci si tupai milikku yang sudah tiada. Kuberi dia makan ikan yang sudah lama kusimpan dalam kulkas.

Beberapa hari bersamaku kucing itu mulai akrab. Aku kemudian memanggilnya Cleo. Tingkahnya yang lucu dan riang membuatku ingin terus memegangnya. Cleo pun mulai mengenal lingkungan sekitar termasuk Nara. Aku bisa membiarkan Nara dan Cleo bermain bebas di halaman rumah.

Suatu hari selepas pulang sekolah aku tak melihat Nara di kandangnya. Aku segera mencari ke sana-kemari, namun tak kulihat juga. Pikirku pun langsung tertuju pada Cleo, "Jangan-jangan Cleo yang telah memangsanya," pikirku jelek.

Dalam hati kecilku menyangkal. Tetapi logikaku mengatakan demikian, betapa bodohnya aku. Memang sedari tadi pagi kubiarkan Cleo bebas bermain di rumah tanpa kumasukkan kandang.

"Cleo... Cleo... Cleo...." panggilku keras-keras.

Sambil berlari aku mencari Cleo di belakang rumah. Rupanya Cleo tengah berbaring santai. Mendengar teriakan tuannya Cleo pun terbangun.

"Cleo kamu tau di mana Nara?" tanyaku pada Cleo. Cleo hanya duduk sambil mengeyong.

"Apa jangan-jangan kamu telah memakannya?" tuduhku padanya.

Melihat sang majikannya marah Cleo pun tertunduk diam.

"Dasar kucing kampung tak tau di untung!" ucapku keras.

"Pergi kamu dari sini!" entah mengapa aku begitu marah pada Cleo.

Melihat kemarahan majikannya itu Cleo pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia beranjak, lalu pergi. Cleo mengeyong keras seolah ingin mengatakan sesuatu.

Aku meninggalkan Cleo. Rasa kesal dan sesalku belum terhenti. Rasa tak percaya masih menggelayut dalam hati. Kucing yang selama ini aku sayang telah tega menyakiti hatiku.

Aku duduk memandang kandang Nara.

Tiba-tiba terdengar suara dari bagian atas atap rumah, "Dubruk... dubruk... dubruk....".

Aku pun langsung mencari sumber suara itu. Ternyata dari atas plafon rumah. Aku langsung naik dan melihat ke bagian dalam plafon melalui lubang kecil. Betapa terkejutnya begitu aku melihat Nara ada di dalam. Ternyata Nara terperangkap masuk ke dalam plafon dan tak bisa keluar. Tubuhnya lemas karena kekurangan oksigen. Aku langsung mengambilnya dan membawa keluar.

Aku senang Nara selamat.

Seketika itu aku langsung ingat Cleo. Aku telah menuduh dan mengusirnya. Aku bergegas lari ke belakang mencari Cleo namun tak menemukannya. Kucoba mencari di sekitar rumah tetangga pun tak kudapati Cleo.

Mungkin kini aku harus benar-benar merelakan kepergian Cleo untuk selamanya. Rasa sesalku tak tertahan, aku telah menyakiti Cleo.

"Cleo semoga kamu bisa menemukan tuan yang lebih baik dari pada aku!" air mataku menetes.

Meong... Meong... Meong..." sontak aku menoleh. "Cleo...!!!"

Kupeluk kucing yang tidak bersalah itu sambil berucap "Maaf" tanpa henti.

*

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day4

@Clever Class, Cilacap, 4 Desember 2018: 10.16.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Gambar: pexels.com

Reuni Ini

09.41 4

Reuni Ini
Oleh Betty Irwanti

*

Jika bukan karena cinta yang sama,
kita tidak akan bertemu hari ini.

Jika bukan karena iman kita pada Yang Maha Kuasa,
kita tidak akan membela sebegitunya.

Jika bukan karena bakti kita pada pertiwi,
kita tidak akan berkumpul sepagi ini.

Tuhan,
ridho-Mu ada di setiap nadi jutaan ummat
yang hadir kali ini.

Tuhan,
kasih-Mu ada di denyutan jantung setiap jiwa
yang datang di reuni ini.

Tuhan,
masukkan kami ke dalam golongan ummat
yang Engkau ridhai.

Tuhan,
Terima kasih
Telah membersamai kami

*

#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day3

@Clever Class, Cilacap, 3 Desember 2018: 09.20.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Gambar: facebook.com

Selamat Ulang Tahun Mama

09.21 4

Patidusa Cemara
1-2-3-4, 1-2-3-4, 1-2-3-4

*

Selamat Ulang Tahun Mama
Oleh Betty Irwanti

*

Mama
Terima kasih
Untuk semua cinta
Kasih sayang dan segalanya

Mama
Terima kasih
Untuk semua rela
Tulus ikhlas dan semuanya

Mama
Terima kasih
Untuk semua lelah
Jerih payah demi keluarga

Mama
Izinkan aku
Mohon maaf padamu
Untuk semua salah dosaku

Mama
Maafkan aku
Masih juga merepotkanmu
Untuk pengasuhan cucu pertamamu

Mama
Perkenankan aku
Mengecup mesra keningmu
Menggelayut manja dalam rengkuhmu

Mama
Rengkuh bahuku
Akan kubisikkan sesuatu
Selamat ulang tahun untukmu

Mama
Semoga selalu sehat
Senantiasa panjang umur
Setiap waktu sedia semangat

Mama
Aku cinta
Aku sayang padamu
Lebih dari engkau tahu

Mama
My soul
I love you
I love you forever

Happy birthaday to you

*
#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#Desember2018
#Day1

@Clever Class, Cilacap, 1 Desember 2018: 09.09.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Gambar: dokumentasi pribadi.

Persiapan PAS

09.17 4

Panduan Bagi Anak Agar Sukses Menghadapi Penilaian Semester, Dijamin Tidak Membuat Stres
Oleh: Betty Irwanti

Penilaian Akhir Semester (PAS) rutin dilakukan oleh pihak sekolah setiap 6 bulan sekali. Disela kegiatan PAS ada juga PTS (Penilaian Tengah Semester) setiap 3 bulan sekali. Jangan sampai kamu jadi stress ya, karena harus menjalani 4 kali penilaian utama dalam satu tahun, disamping penilaian-penilaian rutin yang akan dilakukan oleh para guru.

Penilaian akan berjalan lancar dan menuai hasil secara sukses jika kamu belajar secara efektif. Sudah efektifkah cara belajarmu?

Apakah kamu, seminggu menjelang penilaian masih ribut pinjam catatan untuk difotokopi, merasa putus asa melihat tumpukan buku dan catatan yang kamu tidak mengerti apa isinya, tidak mengerti ketika seorang teman mengajak diskusi tentang salah satu pelajaran, tetap asyik dengan basket dan kegiatan serumu yang lain?

Kalau 3 dari pernyataan itu kamu jawab YA, itu berarti kamu sama sekali tidak mempunyai sistem belajar yang efektif.

BANTING STIR SEBELUM TERLAMBAT

Walau lumayan terlambat, tapi setidaknya kamu masih mempunyai waktu dan harapan. Ayo, jangan buang waktu lebih banyak lagi.

Lakukan langkah-langkah ini dengan segera: lengkapi semua catatan, bereskan kamar agar bisa berkonsentrasi, rapikan meja belajar agar suasana menjadi segar, buat jadwal belajar setiap harinya, buat target agar semua materi bisa dikuasai (dibaca) dan hentikan sementara kegiatan non-belajar.

SUKSES MINUS STRES

Sudah belajar tapi tetap stres? Kurangi stres dengan persiapan ekstra, diantaranya:

1. 1-2 minggu sebelum jadwal penilaian, baca-baca dulu bahan ulangannya sekilas supaya kamu tahu apa saja yang harus dipelajari. Cek kapan jadwal penilaian akan dilaksanakan. 1-2 minggu sebelum itu kamu harus membaca materi secara keseluruhan. Gunakan teknik membaca cepat agar waktu bisa efektif.

2. Buatlah ringkasan di kertas untuk belajar menjelang hari penilaian. Ringkasan ini bisa dibuat dengan cara merangkum materi yang cukup panjang. Tulis ringkasan di kertas yang kecil sehingga bisa dibawa ke mana saja atau di pasang di tembok dekat meja belajar atau tempat tidur. Ini jauh lebih efektif daripada harus membaca full semua materi.

3. Ketahui bagian pelajaran/ soal yang belum kamu kuasai. Setelah ringkasan dibuat, otomatis kamu menjadi tahu. Bagian pelajaran yang mana yang sudah kamu kuasai dan yang belum. Baca ulang materi yang belum kamu kuasai.

4. Masih ada waktu untuk bertanya pada guru, teman atau siapa saja yang bisa membantumu. Ketika sudah membaca ulang materi tetapi kamu belum juga memahami, segera bertanya kepada teman. Atau jika kamu ingin lebih ingin memantapkan jawaban, kamu bisa tanyakan itu kepada gurumu. Atau yang paling mudah di zaman sekarang ini, carilah penjelasan di internet, niscaya kamu akan memperoleh banyak referensi di sana.

5. Jaga kesehatan dan perbanyak istirahat sehingga kalau kamu ngotot belajar sampai larut malam kamu mempunyai "cadangan" tenaga dan stamina. Menjaga kesehatan itu hal yang paling penting. Meskipun kamu harus belajar dengan ekstra demi mengejar semua materi. Namun, jangan sampai setiap malam kamu begadang setiap malam. Istirahatlah ketika tubuh sudah lelah. Berikan hak kepada tubuh untuk istirahat, perbanyak minum vitamin dan madu.

6. Kurangi kegiatan yang tidak perlu dan tidak ada kaitannya dengan urusan belajar. Sebentar lagi kamu penilaian, alangkah baiknya kamu fokus pada satu tujuan agar sukses pelaksanaan dan hasil. Hentikan sementara kegemaranmu main media sosial atau bermain game serta kebiasaanmu hangout yang tidak perlu. Simpan tenaga dan pikiranmu untuk penilaian, bukan untuk terus bersenang-senang. Bukankah ada pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Selamat belajar ya. Mari bersiap. Penilaian Akhir Semester 1 Tahun Pelajaran 2018/ 2019 sudah diambang pintu!

Good luck!

#Artikel
#PenilaianAkhirSemester
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day30

@Clever Class, Cilacap, 14 November 2018: 11.14.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi.

#563kata

FF: Ganti Nama

01.44 2

Ganti Nama
Oleh Betty Irwanti

Waktu kecil mimpiku sangatlah sederhana. Hujan turun sampai aku bisa mandi, mengambil air dengan gayung langsung dari sumur itu sudah sangat membahagiakan.

Sumur-sumur masih terbuka tanpa pembatas, atau jika ada pembatas itu hanya terbuat dari kayu atau anyaman bambu seadanya. Apakah sumur-sumur seperti itu sekarang masih ada?

Yang paling menyenangkan adalah saat aku mandi di sumur milik tetangga. Sumurnya sudah ada pembatasnya, terbuat dari gorong-gorong setinggi satu meter. Jarak yang pas untuk proporsi tubuh yang belum terlalu tinggi.

Aku bisa mengambil air dengan cara menimba dengan katrol kerekan berupa ember kecil yang diberi tali lalu dikaitkan ke roda berputar.

Betapa rindu saat-saat seperti itu.

Pernah ada kejadian seru bin menegangkan yang akhirnya membuat teman sekolahku diganti namanya oleh kedua orangtuanya.

Awalnya aku, dia dan kakaknya main hujan-hujanan riang di halaman rumah. Ada sekitar dua jam kami lari ke sana-kemari bersuka ria menikmati hujan yang begitu deras.

Saat hujan sudah mulai reda, kami bermaksud membersihkan diri dengan mandi bersama di sumur tetangga yang kuceritakan tadi. Tapi temanku tidak setuju.

Akhirnya, kami mandi di sumur milik tetangga yang lain lagi. Sumurnya belum ada pagar sama sekali, hanya lubang besar dengan pagar seadanya. Berhubung waktu itu hujan sangat deras, air sumur langsung penuh.

Kami mandi dengan langsung mengambil air sumur menggunakan gayung. Aku mandi sambil bernyanyi, temanku mandi sambil bersiul-siul sambil main siram-siraman sama kakaknya.

Saat asyiknya kami mandi, tiba-tiba ada katak melompat entah dari mana asalnya. Sontak kami kaget dan berlari. Sialnya, temanku itu justru malah salah arah dan "Byurrrr!" dia tercebur ke dalam sumur. Untung saja ada akar pohon kelapa yang bercabang kemana-mana hingga dia bisa berpegangan di sana. Separuh badannya tidak terlihat. Aku saling bertatapan dengan kakaknya.

Kami berteriak histeris minta tolong. Sepi, karena hujan deras semua orang memilih tinggal di dalam rumah. Aku berinisiatif menggedor pintu yang punya sumur, setelah beberapa lama orangnya keluar.

Kami dibantu sang empunya rumah berusaha mengangkat temanku yang tercebur. Untung saja dia tidak apa-apa, selamat dan sehat.

Kini, ia sudah berganti nama, dari Admini menjadi Sugiharti. Adakah hubungannya?

#FlashFiction
#GantiNama
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day29

@Clever Class, Cilacap, 28 November 2018: 10.51.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi.

#361 kata

Babad Alas Mentaok Bagian Tiga

07.26 16

Babad Alas Mentaok
Bagian Tiga
(Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang)
Oleh Betty Irwanti

Lelaki kekar, berperawakan tinggi, dan besar sedang duduk bersila di pinggiran sungai. Matanya terpejam, mukanya hitam legam, tak ia pedulikan sama sekali terik matahari yang memanaskan bumi. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya.

Rupanya, lelaki itu sedang merenungi kesalahan demi kesalahan yang baru saja ia buat hari ini. Ah, tidak. Andai ia bisa memahami apa yang diisyaratkan gurunya, ia tak harus bersusah payah begini. Andai ia mengerti arti kedipan mata gurunya, musuhnya pasti sudah mati.

Berulang kali ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa akal sehatnya tertutup oleh emosi dan napsu angkara. Pelan ia memejamkan mata, mencoba untuk bisa khusyuk merenungi semua. Ia kemudian merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, mendengarkan gemericik air yang mungkin saja bisa membawanya pada ketenangan dalam jiwa.

Kelebatan kejadian tadi malam silih berganti membayang di pelupuk matanya.

"Guru! Mengapa guru meleraiku dengan Jaka Tingkir tadi? Semestinya guru mendukung usahaku untuk membunuhnya!"

Setelah Jaka Tingkir dan Ki Ageng Pemanahan berpamitan malam ini, Arya Penangsang menagih janji gurunya,

"Nakmas Arya. Aku tetap mendukungmu. Tapi, hari ini kamu melakukan kesalahan besar!" Sunan Kudus menyapa muridnya dengan nada datar, namun penuh kekecewaan.

Yang diajak bicara masih diam. Mencoba mencerna apa maksud perkataan gurunya. Ia masih berasumsi bahwa kejadian malam ini adalah kesalahan gurunya.

Sunan Kudus kembali melanjutkan perkataannya, "Aku mendukungmu sepenuhnya untuk merebut kembali tahta yang memang berhak kamu dapatkan. Tapi malam ini kamu membuatku menjadi sangat kecewa!"

Arya Penangsang menghentikan langkahnya, "Apa salah saya, Guru!"

"Salahmu banyak. Kamu mengutus abdimu untuk membunuhnya dan kamu gagal. Justru Jaka Tingkir mempermalukanmu dengan meminjam senjatamu sementara. Kenapa bukan kamu sendiri yang menyelinap ke kamarnya?"

Arya Penangsang diam, menunduk. Keringat mulai bermunculan dari wajahnya.

"Aku mengundang musuhmu, tapi dia datang berdua dengan penasehatnya. Apa ini salahku?"

Arya Penangsang masih diam, menundukkan pandnagannya.

"Aku sudah berupaya memberikan kesempatan padamu tadi, tapi kamu tak memahami arti ucapanku. Kusuruh kau mewrangkakan kerismu, bukan ke wrangkanya tapi ke tubuh Mas Karebet itu!"

Arya Penangsang menutup mukanya, mukanya merah padam. Dia mulai memahami kesalahannya sendiri.

"Kesalahan yang paling fatal adalah kamu sudah menduduki kursi yang sudah kuberi rajah kesialan. Seharusnya kursi itu diduduki oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya, tapi kenapa kau sendiri justru mendudukinya!"

Arya Penangsang lemas dan tersungkur menangisi kelalaiannya. Kakinya lemas seketika, ia bersimpuh di kaki Sunan Kudus. Gurunya tak bergeming sama sekali, masih melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.

"Aku sama sekali tidak bisa memahami jalan pikiranmu. Kupikir kamu sudah berubah menjadi lebih baik!"

Dia harus bersiap menebus segala kelalaian yang tak disadarinya.

"Tidak usah mengkhawatirkan Kadipaten Jipang Panolan ini! Aku akan menjaganya dengan baik selama Nakmas menjalani masa tirakat. Tebuslah kesalahanmu agar kesialan tak menyertaimu!"

Lelaki kekar, berperawakan tinggi, dan besar itu mohon diri. Menuju tempat yang ditunjukkan oleh gurunya, Sunan Kudus. Tempat di mana ia kini bersemedi, pinggiran padepokan yang berbatasan langsung dengan perkampungan warga Kadipaten Jipang Panolan.

Arya Penangsang membuka matanya. Tak dia pedulikan badannya yang bersimbah peluh. Dihembuskannya napas pelan. Ia ceburkan dirinya ke dalam air sungai yang diharapkan bisa mendinginkan hatinya yang terbakar.

Ditutupnya rapat-rapat mulutnya, agar puasa yang dijalaninya tidak menjadi batal. Separuh hari ini baru saja berlalu. Padahal masih ada 40 hari lagi yang harus di lewati.

Ini seperti yang dititahkan oleh Sunan Kudus padanya, "Nakmas Arya, tirakatmu sampai 40 hari. Kamu harus puasa makan dan minum, memberi makan orang yang kelaparan, tidak boleh dekat dengan wanita, dan tidak boleh marah."

*

Waktu merangkak naik mendekati malam, tapi perang mulut dan perang dingin antara kedua murid Sunan Kudus belum juga berakhir. Jengah dengan semua pemandangan, Ki Ageng Pemanahan memberikan isyarat kepada Jaka Tingkir untuk undur diri.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya membaca pesan penasehatnya dengan baik. Ia dan Ki Ageng Pemanahan pun pamit, Arya Penangsang dan Sunan Kudus mengantar sampai ke depan pintu gerbang padepokan.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya dan Ki Ageng Pemanahan menunggang kuda mereka. Secepat kilat mereka hilang dari pandangan tuan rumah yang telah menyambut mereka dengan beragam cara. Rupanya dewi fortuna masih menaungi pemimpin Kesultanan Pajang ini.

Pemimpin yang semakin membuat Arya Penangsang geram dan semakin menyimpan dendam padanya karena ia telah memidahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang dan mengganti nama kerajaan menjadi Kasultanan Pajang. Demak dijadikan sebuah kadipaten dan dipimpin oleh Adipati Arya Pangiri.

Arya Penangsang sendiri diberi kedudukan sebagai Adipati di Jipang Panolan. Inilah upaya pemimpin ini untuk meredam dendam dan gerakan balasan dari murid Sunan Kudus itu. Tapi, usaha ini belum juga berhasil.

Kewajiban-kewajiban yang mestinya dilakukan oleh seorang abdi kepada pimpinan tak dilaksanakannya. Ia sama sekali tak memenuhi kewajiban membayar pajak dan tak menemui sekalipun sang pemimpin di singgahsananya.

Ara Penangsang sangat berharap dialah yang duduk di singgasana itu, bukan Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

"Memangnya dia pikir dia yang paling hebat. Di padepokan ini saja aku yang lebih dahulu merguru pada Sunan Kudus."

Kelebatan pikir itu melintas, membuyarkan lamun yang sedang dilakukannya sambil menyelam. Dia bangun dari muara sungai ke pinggiran. Kembali ke ritual perenungan.

Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara berbisik, dia beranjak secepat kilat, mencari sumber suara. Disibakkan semak belukar hingga tak bersisa, tetap saja tak ditemukannya.

"Siapa itu?" dia berlari ke arah kiri. Mengejar bayangan yang baru saja dilihatnya.

"Siapa di sana!! Jangan lari!!"

Ia arahkan pandangan ke sekitarnya, sepi. Tak ada lagi suara berbisik dan kelebatan bayangan.

Ia heran. Siapa yang sedang mengawasinya.

"Apakah Sunan Kudus mengirimkan telik sandi untuk mengawasiku?"

Ia memutuskan kembali ke tempat semula.

"Atau jangan-jangan itu tadi anak buah Jaka Tingkir? Apakah benar ia adalah dalang semua ini?"

Arya Penangsang semakin menebak dan menerka, siapa sesungguhnya orang yang baru saja dikejarnya. Gerakan yang sangat gesit. Larinya bisa lebih cepat dari macan yang mengejar mangsa.

"Atau tadi hanya hewan buas yang kelaparan dan mengincar tubuhku?"

"Akan kucincang habis tubuhnya jika saja kutemukan tadi!"

Ara Penangsang menahan napasnya yang memburu. Jika saja tidak dalam masa tirakat, sudah akan dikejarnya suara berbisik tadi sampai ketemu.

"Tahanlah amarah, jika kamu ingin terbebas dari kesialan yang mungkin akan terjadi padamu, Nakmas Arya!"

Entah darimana datangnya suara itu, tapi jelas itu suara Sunan Kudus.

"Sendiko dawuh, Guru. Muridmu yang tak berguna ini akan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik!"

**

Bersambung...

#1006kata
#HistoricalFiction
#BabadAlasMentaok
#DanangSutawijaya
#AryaPenangsang
#SultanHadiwijaya
#Sunankudus
#KiAgengPemanahan
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day28

@Clever Class, Cilacap, 27 November 2018: 11.04.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: ceritaanaknusantara.com

Flash Fiction: Hujan di Hatiku

08.40 4

Hujan di Hatiku
Oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Berangkat dari rumah tadi hujan belum turun, tapi samar kulihat mendung sudah menggelayut di langit sebelah barat sana, arah yang akan kutuju. Arah yang harus kutempuh hampir puluhan kilometer demi sebuah cetakan angka di tanggal yang berbeda meski jumlahnya kuprediksi akan sama.

Tapi bukti harus jelas adanya, hitam di atas putih. Meski mahal jalan yang harus kutebus, ia harus tetap kulalui.

"Mbah Uti, titip Jesi lagi ya. Aku harus ngeprint ini. Sudah ditunggu!"

Mbah Uti yang sedang berbaring karena setengah hari sudah menjaga Jesi tersenyum, meski aku tahu beliau pasti sangat lelah. Inilah penjagaan yang membuatku mengerem segala aktivitas, demi Mbah dan cucunya Mbah.

Cucunya Mbah sudah lelap, sebab jadwal saat tengah hari dia memang harus istirahat. Kata Mbah badannya sedikit anget, ah hujan lokal turun di hatiku.

Aku tetap harus pergi.

"Pakai saja sepeda motor yang lama. Yang baru kan STNK nya sedang dibawa Ayah untuk dibayarkan pajaknya, kan?"

Perkataan Mbah Kakung bagai sebuah perintah bagiku. Sebenarnya dari tadi sudah kupikirkan untuk meminjam punya tetangga yang bisa dipakai ngebut mengejar waktu.

"Jangan ngebut bawa motornya, anakmu menunggu di rumah!"

Aku mengangguk sambil tersenyum, meski hujan mulai turun di hatiku. Meninggalkan anak yang sedikit meriang sungguh sangat berat bagiku.

Aku tetap harus pergi.

Ponsel masih kusimpan di saku bajuku, khawatir ia akan mati karena batre yang prosentasenya sudah tinggal satu angka saja. Nanti, saja saat sudah di sana.

Kupacu laju sepeda motorku, tak kuhiraukan hujan yang merintik menambah basah hatiku.

Tuhan, mungkin Engkau sudah tahu. Betapa hatiku sendu. Jagalah anakku, kuatkanlah ibuku dan lindungilah aku.

Kan kukuatkan diriku meski tadi pagi muntahan itu harus kubersihkan dari lantai kamar mandi saat sikat gigi menyentuhku.

Aku harus mencetak ini.

*

#FlashFiction
#303kata
#KelasFiksiOdop6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day26

@CleverClass, Cilacap, 27 November 2018: 08.20.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

**

Prosa Liris: Hujan di Hatiku

08.39 10

Hujan di Hatiku
Oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Mungkin Tuhan sudah tahu, hatiku penuh sendu. Limbung menguasai kepalaku sama seperti tubuhku.

Hujan jatuh di hatiku, membasahi setiap relung sukma nun jauh. Apakah kau tahu sebenarnya itu yang menguasai hariku kali ini?

Tanpa komando tanpa permisi, basah membanjiri mataku. Apakah hanya aku yang masih saja suka begini? Ingin marah, ingin menawar tapi apalah kuasaku.

Basah mataku samar terlihat, kututup sunggingan senyum dan jawaban yang merangkak pasti. Basah mataku takkan terlihat, karena Tuhan mengirimkan hujan untuk menghapus sembab agar menjadi tak jelas nampak.

Bukan, bukan karena aku tak bisa menahan. Mungkin memang harus terjadi, sebab semua sudah tercatat. Nun jauh di sana. Di tempat yang dijaga ketat oleh-Nya.

Hujan jatuh di hatiku, hujan juga turun membasahi langkahku. Meski begitu tetap jua kukuatkan hatiku.

Aku bukan lagi anak baru yang masuk kerja kemarin sore. Aku sudah belasan tahun berkutat dengan tugas ini. Mestinya, semua sudah kupahami. Demi sebuah kesetiaan pada negara, keluarga dan diri hamba.

Mungkin hati sedang tidak bisa kukuasai.

Hujan di hatiku sudah biasa. Sebiasa aku mengurainya menjadi pelangi agar tak hanya basah menyertai, tapi ia akan mengering dengan hadirnya mentari pagi.

Bukankah pelangi biasa datang selepas hujan sebentar lalu pergi?

Hujan di hatiku bisa jadi hanya terjadi padaku. Sama seperti hujan yang kadang turun di lokal tertentu.

Buktinya, hari ini. Hujan yang sama saat kulewati medan kerja dengan sendunya hati. Separuh kulewati dengan berbasah diri, seperempat lagi hanya rintik belaka, bahkan seperempat sisanya masih kering seperti saat hujan belum tiba.

Ah, mungkin hujan hanya jatuh lokal di hatiku saja.

Mungkin kini bisa jadi kau sedang tertawa.

*

Gambar: Clever Design by Canva

#TantanganProsaLiris
#KelasFiksiOdop6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day27

@RumahClever, Cilacap, 27 November 2018: 06.30.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

**

Thank You Teachers

18.36 1

Puisi Untuk Guru - Guruku,
rekan sejawat guru - guru se Indonesia
dalam moment hari guru 25 November 2018

GURUKU HEBAT

Bagaimana tidak hebat
Rutinitas pagi harus serba hemat
Bangun tepat
Mandi cepat
Sarapan pun kalau sempat

Guruku Hebat
Jam 05.00 subuh sudah wangi
Menjemput sang pelangi
Mengantarkannya meraih mimpi
Demi Ibu Pertiwi

Guruku Hebat
Bertahun tahun menahan diri
Dari keinginan hati
Dari nafsu duniawi yang menghampiri
Walau kadang makan hati

Guruku Hebat
Bagaimana tidak hebat
Tiap hari menopang martabat
Walau kadang tak bersahabat
Namun tetap harus kuat

Guruku tetap hebat
Dalam kekurangan tetap bertahan
Dalam kesederhanaan tetap diam
Dalam kemakmuran tetap tenang

Guruku memang hebat
Meskipun bukan konglomerat
Namun tak melarat
Meski bukan bangsawan
Namun tetap menawan

Guruku Hebat
Mendidik anak negeri
Sepenuh hati
Mengajarkan budi pekerti
Agar menjadi insan yang bernurani
Tanpa harus menyakiti

Guruku tetap yang Hebat
Gaji kecil tak sakit hati
Gaji cukup tak sombong diri
Meski banyak yang iri hati
Karena guru dapat sertifikasi

Guruku memang hebat
Karena sertifikasi dituntut kompetensi
Kalau tak mau diamputasi
Oleh penguasa negeri yang katanya "baik hati"

Guruku Memang Hebat
Mengabdikan diri untuk negeri
Sambil menunggu panggilan surgawi

SELAMAT  BERAKTIVITAS BUAT BAPAK/IBU GURU HEBAT SEMUA

*

Sumber tulisan: Copas dari Grup WA
Gambar: Clever Design by Clever World

**

Selamat Hari Guru untuk Seluruh Guru di Indonesia. Semoga Selalu Sehat dan Bahagia, Senantiasa dalam Kebaikan dan Keberkahan. Aamiin.

Terima kasih untuk Guru Hebat di Seluruh Nusantara.

Thank You Teachers.

Engkaulah Pencipta Insan Cendekia.

Bukan Lagi
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

***

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day25

@RumahCleverCilacap, 25 November 2018: 15.47.
Ibu Jesi.

****

Tasyakuran PGRI Ranting Binangun Tahun 2018

13.30 2

Tasyakuran Hari Guru Nasional ke-73
PGRI Ranting Binangun Tahun 2018

Oleh Betty Irwanti

*

Sebentar lagi, guru di seluruh Indonesia akan memperingati Hari Guru Nasional (HGN) yang ke-73. Usia yang sudah sangat cukup untuk menunjukkan eksistensinya.

Guru-guru di seluruh Indonesia wajib tergabung dalam organisasi bernama PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Oleh sebab itu HGN juga biasa disebut dengan HUT PGRI.

Tahun ini PGRI Ranting Binangun menyelenggarakan acara special untuk menyambut hari yang sakral untuk para guru ini, sebagai wujud rasa syukur setelah berhasil meraih juara 1 pada acara POR PGRI untuk cabang bola putera dan berhasil mempertahankan gelar juara kedua untuk cabang bola voli puteri.

Acara sakral ini bertajuk Tahlilan, Pengajian dan Tumpengan Bersama Para Guru di Lingkungan PGRI Ranting Binangun. Acara ini berlangsung pada hari ini dengan pembagi waktu yaitu Sekretaris PGRI Ranting Binangun itu sendiri.

Diawali dengan rangkaian acara pembukaan sekitar pukul 10.30 WIB kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Ketua Gugus Pajajaran, yang memberitahukan info tentang rencana pelaksanaan Pesta Siaga Kwarran Bantarsari tahun depan akan diselenggarakan di Gugus Pajajaran Binangun. Berdasarkan musyawarah para kepala sekolah sudahlah terjadi keputusan bahwa tuan rumahnya adalah SDN Binangun 01 Kecamatan Bantarsari. Mari bersiap, pelaksanaannya tanggal 15 Januari 2019.

Sambutan yang kedua adalah sambutan Ketua PGRI Ranting Binangun yang intinya adalah ucapan selamat kepada semua atas prestasi pada POR kemarin dan ucapan selamat Hari Guru Nasional Tahun 2018, semoga guru Indonesia terus maju dan sejahtera.

Acara intinya adalah tahlilan, pengajian dan do'a bersama yang dipimpin langsung oleh Bapak Kiyai Muchtar Wasito. Tahlilan berlangsung hikmad, pengajian berlangsung sarat hikmah dan manfaat serta do'anya semoga diijabah oleh Allah SWT, aamiin.

Akhirnya rangkaian acara harus ditutup dan diakhiri dengan ramah tamah serta pemotongan tumpeng. Disinilah keseruan demi keseruan terjadi. Mulai dari tumpengnya yang menawan hati sampai-sampai dikira editan saat diposting di media sosial tadi, tapi sungguh ini asli.

Acaranya sangat seru, makan yang lahap diringi canda tawa di sana-sini. Sungguh, sebuah momen yang langka. Kiranya baik, bisakah ini menjadi agenda rutin tahunan bagi PGRI?

Jawabnya tentu bisa, karena kebersamaan itu mahal harganya.

Hidup Guru!
Hidup PGRI!
Hidup Indonesia!

**

OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day23

@RumahCleverCilacap, 24 November 2018: 03.24.
Ibu Jesi.

Foto: dokumentasi pribadi

#359kata

Jesi dan Istana Bintang: Masuk Istana

04.49 1

Jesi dan Istana Bintang
Oleh Betty Irwanti

Jesi menggendong Cio, sambil bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Begitu pula dengan Brilli. Sepertinya mereka berdua sangat gembira karena baru saja mendapat teman baru.

"Tuan Puteri suaranya bagus ya!" ujar Cio tanpa sengaja.
Jesi tersenyum.

Brilli yang menjawab kemudian, "Jesi memang suaranya bagus, Cio. Sama kayak suara Ratu Rona,"

Jesi semakin tersenyum lebar.

Sesampainya di tenda, Jesi langsung merebahkan diri di tempat istirahat yang sudah disediakan oleh para pengawal sejak kemarin sore. Tidak lupa, ia letakkan Cio di sampingnya.

"Cio, mari kita istirahat dulu. Supaya besok kita bisa kembali ke istana dengan segar,"

"Baik, Tuan Puteri,"

"Brilli, selamat istirahat ya!"

"Baik Jesi, selamat mimpi indah ya!"

Mereka bertiga lelap. Hingga kokok ayam hutan membangunkan di pagi yang begitu cerah. Cio, bangun terlebih dahulu dan merasa sudah baikan. Entah kenapa kakinya sudah sembuh. Tak ada lagi luka, tak ada lagi darah dan tak ada lagi bekas ikatan kain yang dibalutkan oleh Jesi dini hari tadi.

Siapa yang mengobatiku, ya? Cio bergumam dalam langkah pelannya, saat berjalan-jalan di sekitar tenda. Dia melihat para pengawal sibuk mengemasi barang, hewan buruan dan menyiapkan sarapan.

Jesi muncul dari balik tendanya, "Selamat pagi Cio, Brilli!"

Cio bingung, ada di mana Brilli? Tidak ada.

"Jangan kaget, Cio. Brilli ada di telingamu yang lebar ini," Brilli tertawa lebar, kemudian terbang ke sana kemari.

"Brilli, jangan bercanda sama Cio, dia belum memahami,"

"Cio, kalau siang Brilli memang tidak terlihat sama sekali. Hanya aku yang bisa melihatnya,"

Cio mengangguk tanda mengerti.

Tiba-tiba Jesi terdiam, lalu ke luar tenda. Ia berjalan menuju tenda Raja Jose.

"Sepertinya Ayah belum terlihat, mari kita ke sana, Brilli, Cio!"

Brilli terbang rendah di pundak Jesi, Cio mengikutinya di sebelah kiri kakinya. Cio meloncat kegirangan. Dia akan bertemu raja Kerajaan Bintang.

"Selamat pagi, Ayah!" sapa Jesi begitu masuk tenda.

"Selamat pagi, sayang! Apa kabar teman barumu itu?" Raja Jose menoleh ke arah Cio.

"Baik, ayah. Ayah sudah tahu ya, kalau Jesi baru saja mendapat teman baru,"

Raja Jose mengangguk. Jesi, Brilli dan Cio belum tahu kalau yang menyembuhkan Cio sebenarnya adalah ayahnya sendiri.

"Boleh kan, Yah? Jesi bawa teman ke istana?"

Raja Jose diam sejenak, seperti ada yang dipikirkan.

"Boleh, boleh. Lagian kamu juga di istana sendirian, kan? Belum ada teman,"

Jesi tersenyum. Ayahnya memang tidak melihat keberadaan Brilli. Hanya orang tertentu saja yang bisa melihatnya.

"Siapa nama teman barumu itu?"

"Cio, Ayah!"

"Cio, kenalkan, ya! Ini ayahku. Raja Jose,"

Cio mengangguk takzim. Senang sekali diizinkan tinggal di Istana Bintang bersama Puteri Jesi dan Peri Brilli.

'Selamat tinggal hutan. Selamat tinggal kegelapan' begitu kata Cio dalam hati.

"Mari kita berkemas untuk pulang, Jesi, Cio. Siang ini kita sudah harus sampai di Istana Bintang. Ratu Rona sudah menunggu kedatangan kita!"

*

Sepanjang perjalanan pulang ke Istana Bintang, Raja Jose, Jesi dan semua pasukan berburu terlihat sumringah. Mereka kembali dengan membawa hasil buruan yang lumayan. Semua tersenyum senang. Terlebih lagi Jesi, dia mendapat teman baru bernama Cio.

"Selamat datang kembali, Tuanku Raja Jose!" sambut perdana menteri.

"Selamat datang kembali, paduka Raja Jose.!" sambut Ratu Rona.

"Terima kasih, terima kasih!"

Raja dan rombongan tiba di halaman Istana Bintang, Raja Jose langsung memberikan perintah lanjutan.

"Terima kasih untuk semua pasukan. Perburuan kita kali ini berhasil dan sangat memuaskan. Sudah saatnya kita kembali bertugas di Istana Bintang. Mari kita istirahat sejenak, lalu tetap bertugas sesuai apa yang diperintahkan oleh komandan kalian masing-masing. Jelas!"

Semua menjawab dengan mengangkat pedang. Pasukan dibubarkan. Waktunya semua kembali seperti awal keadaan.

Jesi menemui Ratu Rona.

"Ibu, izinkan Jesi membawa serta teman baru yang Jesi temukan di hutan, Bu. Dia terluka. Dia sudah kami rawat dan Jesi memutuskan untuk membawanya serta ke dalam Istana. Mohon izin ya, Ibu!"

"Baiklah, Jesi. Ibu mengizinkan. Berteman baiklah dengan siapapun."

"Kenalkan Ibu, temanku ini bernama Cio!"

Cio tersenyum.

"Lucu sekali, Cio ya Jes. Bulunya sangat bersih, putihnya sangat terang. Seterang rembulan di malam purnama,"

Cio membelalak senang dipuji sebegitunya oleh Ratu Rona.

"Cio memang kelinci yang unik, Bu. Jesi menyukainya,"

Jesi mohon diri untuk beristirahat di kamarnya. Mulai hari ini, Cio akan menemaninya sepanjang waktu di Istana Bintang sebagai temannya.

"Selamat datang, Cio. Semoga kamu betah tinggal di Istana ini bersamaku!"

Cio mengangguk. Ingin sekali dia berkata, "Terima kasih Tuan Puteri Jesi yang baik hati. Sambutan ini sungguh luar biasa. Kamu, Ayah dan Ibumu memang benar-benar orang baik. Sungguh orang yang baik hatinya,"

**

#Fantasi
#JesidanIstanaBintang
#MasukIstana
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day23

@RumahCleverCilacap, 23 November 2018: 04.43.
Ibu Jesi.

Sumber gambar: linamarlsworldandknowledges.blogspot.com

#736kata