Persiapan PAS

09.17 4

Panduan Bagi Anak Agar Sukses Menghadapi Penilaian Semester, Dijamin Tidak Membuat Stres
Oleh: Betty Irwanti

Penilaian Akhir Semester (PAS) rutin dilakukan oleh pihak sekolah setiap 6 bulan sekali. Disela kegiatan PAS ada juga PTS (Penilaian Tengah Semester) setiap 3 bulan sekali. Jangan sampai kamu jadi stress ya, karena harus menjalani 4 kali penilaian utama dalam satu tahun, disamping penilaian-penilaian rutin yang akan dilakukan oleh para guru.

Penilaian akan berjalan lancar dan menuai hasil secara sukses jika kamu belajar secara efektif. Sudah efektifkah cara belajarmu?

Apakah kamu, seminggu menjelang penilaian masih ribut pinjam catatan untuk difotokopi, merasa putus asa melihat tumpukan buku dan catatan yang kamu tidak mengerti apa isinya, tidak mengerti ketika seorang teman mengajak diskusi tentang salah satu pelajaran, tetap asyik dengan basket dan kegiatan serumu yang lain?

Kalau 3 dari pernyataan itu kamu jawab YA, itu berarti kamu sama sekali tidak mempunyai sistem belajar yang efektif.

BANTING STIR SEBELUM TERLAMBAT

Walau lumayan terlambat, tapi setidaknya kamu masih mempunyai waktu dan harapan. Ayo, jangan buang waktu lebih banyak lagi.

Lakukan langkah-langkah ini dengan segera: lengkapi semua catatan, bereskan kamar agar bisa berkonsentrasi, rapikan meja belajar agar suasana menjadi segar, buat jadwal belajar setiap harinya, buat target agar semua materi bisa dikuasai (dibaca) dan hentikan sementara kegiatan non-belajar.

SUKSES MINUS STRES

Sudah belajar tapi tetap stres? Kurangi stres dengan persiapan ekstra, diantaranya:

1. 1-2 minggu sebelum jadwal penilaian, baca-baca dulu bahan ulangannya sekilas supaya kamu tahu apa saja yang harus dipelajari. Cek kapan jadwal penilaian akan dilaksanakan. 1-2 minggu sebelum itu kamu harus membaca materi secara keseluruhan. Gunakan teknik membaca cepat agar waktu bisa efektif.

2. Buatlah ringkasan di kertas untuk belajar menjelang hari penilaian. Ringkasan ini bisa dibuat dengan cara merangkum materi yang cukup panjang. Tulis ringkasan di kertas yang kecil sehingga bisa dibawa ke mana saja atau di pasang di tembok dekat meja belajar atau tempat tidur. Ini jauh lebih efektif daripada harus membaca full semua materi.

3. Ketahui bagian pelajaran/ soal yang belum kamu kuasai. Setelah ringkasan dibuat, otomatis kamu menjadi tahu. Bagian pelajaran yang mana yang sudah kamu kuasai dan yang belum. Baca ulang materi yang belum kamu kuasai.

4. Masih ada waktu untuk bertanya pada guru, teman atau siapa saja yang bisa membantumu. Ketika sudah membaca ulang materi tetapi kamu belum juga memahami, segera bertanya kepada teman. Atau jika kamu ingin lebih ingin memantapkan jawaban, kamu bisa tanyakan itu kepada gurumu. Atau yang paling mudah di zaman sekarang ini, carilah penjelasan di internet, niscaya kamu akan memperoleh banyak referensi di sana.

5. Jaga kesehatan dan perbanyak istirahat sehingga kalau kamu ngotot belajar sampai larut malam kamu mempunyai "cadangan" tenaga dan stamina. Menjaga kesehatan itu hal yang paling penting. Meskipun kamu harus belajar dengan ekstra demi mengejar semua materi. Namun, jangan sampai setiap malam kamu begadang setiap malam. Istirahatlah ketika tubuh sudah lelah. Berikan hak kepada tubuh untuk istirahat, perbanyak minum vitamin dan madu.

6. Kurangi kegiatan yang tidak perlu dan tidak ada kaitannya dengan urusan belajar. Sebentar lagi kamu penilaian, alangkah baiknya kamu fokus pada satu tujuan agar sukses pelaksanaan dan hasil. Hentikan sementara kegemaranmu main media sosial atau bermain game serta kebiasaanmu hangout yang tidak perlu. Simpan tenaga dan pikiranmu untuk penilaian, bukan untuk terus bersenang-senang. Bukankah ada pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Selamat belajar ya. Mari bersiap. Penilaian Akhir Semester 1 Tahun Pelajaran 2018/ 2019 sudah diambang pintu!

Good luck!

#Artikel
#PenilaianAkhirSemester
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day30

@Clever Class, Cilacap, 14 November 2018: 11.14.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi.

#563kata

FF: Ganti Nama

01.44 2

Ganti Nama
Oleh Betty Irwanti

Waktu kecil mimpiku sangatlah sederhana. Hujan turun sampai aku bisa mandi, mengambil air dengan gayung langsung dari sumur itu sudah sangat membahagiakan.

Sumur-sumur masih terbuka tanpa pembatas, atau jika ada pembatas itu hanya terbuat dari kayu atau anyaman bambu seadanya. Apakah sumur-sumur seperti itu sekarang masih ada?

Yang paling menyenangkan adalah saat aku mandi di sumur milik tetangga. Sumurnya sudah ada pembatasnya, terbuat dari gorong-gorong setinggi satu meter. Jarak yang pas untuk proporsi tubuh yang belum terlalu tinggi.

Aku bisa mengambil air dengan cara menimba dengan katrol kerekan berupa ember kecil yang diberi tali lalu dikaitkan ke roda berputar.

Betapa rindu saat-saat seperti itu.

Pernah ada kejadian seru bin menegangkan yang akhirnya membuat teman sekolahku diganti namanya oleh kedua orangtuanya.

Awalnya aku, dia dan kakaknya main hujan-hujanan riang di halaman rumah. Ada sekitar dua jam kami lari ke sana-kemari bersuka ria menikmati hujan yang begitu deras.

Saat hujan sudah mulai reda, kami bermaksud membersihkan diri dengan mandi bersama di sumur tetangga yang kuceritakan tadi. Tapi temanku tidak setuju.

Akhirnya, kami mandi di sumur milik tetangga yang lain lagi. Sumurnya belum ada pagar sama sekali, hanya lubang besar dengan pagar seadanya. Berhubung waktu itu hujan sangat deras, air sumur langsung penuh.

Kami mandi dengan langsung mengambil air sumur menggunakan gayung. Aku mandi sambil bernyanyi, temanku mandi sambil bersiul-siul sambil main siram-siraman sama kakaknya.

Saat asyiknya kami mandi, tiba-tiba ada katak melompat entah dari mana asalnya. Sontak kami kaget dan berlari. Sialnya, temanku itu justru malah salah arah dan "Byurrrr!" dia tercebur ke dalam sumur. Untung saja ada akar pohon kelapa yang bercabang kemana-mana hingga dia bisa berpegangan di sana. Separuh badannya tidak terlihat. Aku saling bertatapan dengan kakaknya.

Kami berteriak histeris minta tolong. Sepi, karena hujan deras semua orang memilih tinggal di dalam rumah. Aku berinisiatif menggedor pintu yang punya sumur, setelah beberapa lama orangnya keluar.

Kami dibantu sang empunya rumah berusaha mengangkat temanku yang tercebur. Untung saja dia tidak apa-apa, selamat dan sehat.

Kini, ia sudah berganti nama, dari Admini menjadi Sugiharti. Adakah hubungannya?

#FlashFiction
#GantiNama
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day29

@Clever Class, Cilacap, 28 November 2018: 10.51.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi.

#361 kata

Babad Alas Mentaok Bagian Tiga

07.26 16

Babad Alas Mentaok
Bagian Tiga
(Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang)
Oleh Betty Irwanti

Lelaki kekar, berperawakan tinggi, dan besar sedang duduk bersila di pinggiran sungai. Matanya terpejam, mukanya hitam legam, tak ia pedulikan sama sekali terik matahari yang memanaskan bumi. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya.

Rupanya, lelaki itu sedang merenungi kesalahan demi kesalahan yang baru saja ia buat hari ini. Ah, tidak. Andai ia bisa memahami apa yang diisyaratkan gurunya, ia tak harus bersusah payah begini. Andai ia mengerti arti kedipan mata gurunya, musuhnya pasti sudah mati.

Berulang kali ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa akal sehatnya tertutup oleh emosi dan napsu angkara. Pelan ia memejamkan mata, mencoba untuk bisa khusyuk merenungi semua. Ia kemudian merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, mendengarkan gemericik air yang mungkin saja bisa membawanya pada ketenangan dalam jiwa.

Kelebatan kejadian tadi malam silih berganti membayang di pelupuk matanya.

"Guru! Mengapa guru meleraiku dengan Jaka Tingkir tadi? Semestinya guru mendukung usahaku untuk membunuhnya!"

Setelah Jaka Tingkir dan Ki Ageng Pemanahan berpamitan malam ini, Arya Penangsang menagih janji gurunya,

"Nakmas Arya. Aku tetap mendukungmu. Tapi, hari ini kamu melakukan kesalahan besar!" Sunan Kudus menyapa muridnya dengan nada datar, namun penuh kekecewaan.

Yang diajak bicara masih diam. Mencoba mencerna apa maksud perkataan gurunya. Ia masih berasumsi bahwa kejadian malam ini adalah kesalahan gurunya.

Sunan Kudus kembali melanjutkan perkataannya, "Aku mendukungmu sepenuhnya untuk merebut kembali tahta yang memang berhak kamu dapatkan. Tapi malam ini kamu membuatku menjadi sangat kecewa!"

Arya Penangsang menghentikan langkahnya, "Apa salah saya, Guru!"

"Salahmu banyak. Kamu mengutus abdimu untuk membunuhnya dan kamu gagal. Justru Jaka Tingkir mempermalukanmu dengan meminjam senjatamu sementara. Kenapa bukan kamu sendiri yang menyelinap ke kamarnya?"

Arya Penangsang diam, menunduk. Keringat mulai bermunculan dari wajahnya.

"Aku mengundang musuhmu, tapi dia datang berdua dengan penasehatnya. Apa ini salahku?"

Arya Penangsang masih diam, menundukkan pandnagannya.

"Aku sudah berupaya memberikan kesempatan padamu tadi, tapi kamu tak memahami arti ucapanku. Kusuruh kau mewrangkakan kerismu, bukan ke wrangkanya tapi ke tubuh Mas Karebet itu!"

Arya Penangsang menutup mukanya, mukanya merah padam. Dia mulai memahami kesalahannya sendiri.

"Kesalahan yang paling fatal adalah kamu sudah menduduki kursi yang sudah kuberi rajah kesialan. Seharusnya kursi itu diduduki oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya, tapi kenapa kau sendiri justru mendudukinya!"

Arya Penangsang lemas dan tersungkur menangisi kelalaiannya. Kakinya lemas seketika, ia bersimpuh di kaki Sunan Kudus. Gurunya tak bergeming sama sekali, masih melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.

"Aku sama sekali tidak bisa memahami jalan pikiranmu. Kupikir kamu sudah berubah menjadi lebih baik!"

Dia harus bersiap menebus segala kelalaian yang tak disadarinya.

"Tidak usah mengkhawatirkan Kadipaten Jipang Panolan ini! Aku akan menjaganya dengan baik selama Nakmas menjalani masa tirakat. Tebuslah kesalahanmu agar kesialan tak menyertaimu!"

Lelaki kekar, berperawakan tinggi, dan besar itu mohon diri. Menuju tempat yang ditunjukkan oleh gurunya, Sunan Kudus. Tempat di mana ia kini bersemedi, pinggiran padepokan yang berbatasan langsung dengan perkampungan warga Kadipaten Jipang Panolan.

Arya Penangsang membuka matanya. Tak dia pedulikan badannya yang bersimbah peluh. Dihembuskannya napas pelan. Ia ceburkan dirinya ke dalam air sungai yang diharapkan bisa mendinginkan hatinya yang terbakar.

Ditutupnya rapat-rapat mulutnya, agar puasa yang dijalaninya tidak menjadi batal. Separuh hari ini baru saja berlalu. Padahal masih ada 40 hari lagi yang harus di lewati.

Ini seperti yang dititahkan oleh Sunan Kudus padanya, "Nakmas Arya, tirakatmu sampai 40 hari. Kamu harus puasa makan dan minum, memberi makan orang yang kelaparan, tidak boleh dekat dengan wanita, dan tidak boleh marah."

*

Waktu merangkak naik mendekati malam, tapi perang mulut dan perang dingin antara kedua murid Sunan Kudus belum juga berakhir. Jengah dengan semua pemandangan, Ki Ageng Pemanahan memberikan isyarat kepada Jaka Tingkir untuk undur diri.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya membaca pesan penasehatnya dengan baik. Ia dan Ki Ageng Pemanahan pun pamit, Arya Penangsang dan Sunan Kudus mengantar sampai ke depan pintu gerbang padepokan.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya dan Ki Ageng Pemanahan menunggang kuda mereka. Secepat kilat mereka hilang dari pandangan tuan rumah yang telah menyambut mereka dengan beragam cara. Rupanya dewi fortuna masih menaungi pemimpin Kesultanan Pajang ini.

Pemimpin yang semakin membuat Arya Penangsang geram dan semakin menyimpan dendam padanya karena ia telah memidahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang dan mengganti nama kerajaan menjadi Kasultanan Pajang. Demak dijadikan sebuah kadipaten dan dipimpin oleh Adipati Arya Pangiri.

Arya Penangsang sendiri diberi kedudukan sebagai Adipati di Jipang Panolan. Inilah upaya pemimpin ini untuk meredam dendam dan gerakan balasan dari murid Sunan Kudus itu. Tapi, usaha ini belum juga berhasil.

Kewajiban-kewajiban yang mestinya dilakukan oleh seorang abdi kepada pimpinan tak dilaksanakannya. Ia sama sekali tak memenuhi kewajiban membayar pajak dan tak menemui sekalipun sang pemimpin di singgahsananya.

Ara Penangsang sangat berharap dialah yang duduk di singgasana itu, bukan Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

"Memangnya dia pikir dia yang paling hebat. Di padepokan ini saja aku yang lebih dahulu merguru pada Sunan Kudus."

Kelebatan pikir itu melintas, membuyarkan lamun yang sedang dilakukannya sambil menyelam. Dia bangun dari muara sungai ke pinggiran. Kembali ke ritual perenungan.

Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara berbisik, dia beranjak secepat kilat, mencari sumber suara. Disibakkan semak belukar hingga tak bersisa, tetap saja tak ditemukannya.

"Siapa itu?" dia berlari ke arah kiri. Mengejar bayangan yang baru saja dilihatnya.

"Siapa di sana!! Jangan lari!!"

Ia arahkan pandangan ke sekitarnya, sepi. Tak ada lagi suara berbisik dan kelebatan bayangan.

Ia heran. Siapa yang sedang mengawasinya.

"Apakah Sunan Kudus mengirimkan telik sandi untuk mengawasiku?"

Ia memutuskan kembali ke tempat semula.

"Atau jangan-jangan itu tadi anak buah Jaka Tingkir? Apakah benar ia adalah dalang semua ini?"

Arya Penangsang semakin menebak dan menerka, siapa sesungguhnya orang yang baru saja dikejarnya. Gerakan yang sangat gesit. Larinya bisa lebih cepat dari macan yang mengejar mangsa.

"Atau tadi hanya hewan buas yang kelaparan dan mengincar tubuhku?"

"Akan kucincang habis tubuhnya jika saja kutemukan tadi!"

Ara Penangsang menahan napasnya yang memburu. Jika saja tidak dalam masa tirakat, sudah akan dikejarnya suara berbisik tadi sampai ketemu.

"Tahanlah amarah, jika kamu ingin terbebas dari kesialan yang mungkin akan terjadi padamu, Nakmas Arya!"

Entah darimana datangnya suara itu, tapi jelas itu suara Sunan Kudus.

"Sendiko dawuh, Guru. Muridmu yang tak berguna ini akan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik!"

**

Bersambung...

#1006kata
#HistoricalFiction
#BabadAlasMentaok
#DanangSutawijaya
#AryaPenangsang
#SultanHadiwijaya
#Sunankudus
#KiAgengPemanahan
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day28

@Clever Class, Cilacap, 27 November 2018: 11.04.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: ceritaanaknusantara.com

Flash Fiction: Hujan di Hatiku

08.40 4

Hujan di Hatiku
Oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Berangkat dari rumah tadi hujan belum turun, tapi samar kulihat mendung sudah menggelayut di langit sebelah barat sana, arah yang akan kutuju. Arah yang harus kutempuh hampir puluhan kilometer demi sebuah cetakan angka di tanggal yang berbeda meski jumlahnya kuprediksi akan sama.

Tapi bukti harus jelas adanya, hitam di atas putih. Meski mahal jalan yang harus kutebus, ia harus tetap kulalui.

"Mbah Uti, titip Jesi lagi ya. Aku harus ngeprint ini. Sudah ditunggu!"

Mbah Uti yang sedang berbaring karena setengah hari sudah menjaga Jesi tersenyum, meski aku tahu beliau pasti sangat lelah. Inilah penjagaan yang membuatku mengerem segala aktivitas, demi Mbah dan cucunya Mbah.

Cucunya Mbah sudah lelap, sebab jadwal saat tengah hari dia memang harus istirahat. Kata Mbah badannya sedikit anget, ah hujan lokal turun di hatiku.

Aku tetap harus pergi.

"Pakai saja sepeda motor yang lama. Yang baru kan STNK nya sedang dibawa Ayah untuk dibayarkan pajaknya, kan?"

Perkataan Mbah Kakung bagai sebuah perintah bagiku. Sebenarnya dari tadi sudah kupikirkan untuk meminjam punya tetangga yang bisa dipakai ngebut mengejar waktu.

"Jangan ngebut bawa motornya, anakmu menunggu di rumah!"

Aku mengangguk sambil tersenyum, meski hujan mulai turun di hatiku. Meninggalkan anak yang sedikit meriang sungguh sangat berat bagiku.

Aku tetap harus pergi.

Ponsel masih kusimpan di saku bajuku, khawatir ia akan mati karena batre yang prosentasenya sudah tinggal satu angka saja. Nanti, saja saat sudah di sana.

Kupacu laju sepeda motorku, tak kuhiraukan hujan yang merintik menambah basah hatiku.

Tuhan, mungkin Engkau sudah tahu. Betapa hatiku sendu. Jagalah anakku, kuatkanlah ibuku dan lindungilah aku.

Kan kukuatkan diriku meski tadi pagi muntahan itu harus kubersihkan dari lantai kamar mandi saat sikat gigi menyentuhku.

Aku harus mencetak ini.

*

#FlashFiction
#303kata
#KelasFiksiOdop6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day26

@CleverClass, Cilacap, 27 November 2018: 08.20.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

**

Prosa Liris: Hujan di Hatiku

08.39 10

Hujan di Hatiku
Oleh Betty Irwanti

Hujan kadang turun sewaktu-waktu, bahkan hanya di lokal tertentu. Andai saja kau tahu, hujan itu baru saja jatuh di hatiku.

Mungkin Tuhan sudah tahu, hatiku penuh sendu. Limbung menguasai kepalaku sama seperti tubuhku.

Hujan jatuh di hatiku, membasahi setiap relung sukma nun jauh. Apakah kau tahu sebenarnya itu yang menguasai hariku kali ini?

Tanpa komando tanpa permisi, basah membanjiri mataku. Apakah hanya aku yang masih saja suka begini? Ingin marah, ingin menawar tapi apalah kuasaku.

Basah mataku samar terlihat, kututup sunggingan senyum dan jawaban yang merangkak pasti. Basah mataku takkan terlihat, karena Tuhan mengirimkan hujan untuk menghapus sembab agar menjadi tak jelas nampak.

Bukan, bukan karena aku tak bisa menahan. Mungkin memang harus terjadi, sebab semua sudah tercatat. Nun jauh di sana. Di tempat yang dijaga ketat oleh-Nya.

Hujan jatuh di hatiku, hujan juga turun membasahi langkahku. Meski begitu tetap jua kukuatkan hatiku.

Aku bukan lagi anak baru yang masuk kerja kemarin sore. Aku sudah belasan tahun berkutat dengan tugas ini. Mestinya, semua sudah kupahami. Demi sebuah kesetiaan pada negara, keluarga dan diri hamba.

Mungkin hati sedang tidak bisa kukuasai.

Hujan di hatiku sudah biasa. Sebiasa aku mengurainya menjadi pelangi agar tak hanya basah menyertai, tapi ia akan mengering dengan hadirnya mentari pagi.

Bukankah pelangi biasa datang selepas hujan sebentar lalu pergi?

Hujan di hatiku bisa jadi hanya terjadi padaku. Sama seperti hujan yang kadang turun di lokal tertentu.

Buktinya, hari ini. Hujan yang sama saat kulewati medan kerja dengan sendunya hati. Separuh kulewati dengan berbasah diri, seperempat lagi hanya rintik belaka, bahkan seperempat sisanya masih kering seperti saat hujan belum tiba.

Ah, mungkin hujan hanya jatuh lokal di hatiku saja.

Mungkin kini bisa jadi kau sedang tertawa.

*

Gambar: Clever Design by Canva

#TantanganProsaLiris
#KelasFiksiOdop6
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day27

@RumahClever, Cilacap, 27 November 2018: 06.30.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

**

Thank You Teachers

18.36 1

Puisi Untuk Guru - Guruku,
rekan sejawat guru - guru se Indonesia
dalam moment hari guru 25 November 2018

GURUKU HEBAT

Bagaimana tidak hebat
Rutinitas pagi harus serba hemat
Bangun tepat
Mandi cepat
Sarapan pun kalau sempat

Guruku Hebat
Jam 05.00 subuh sudah wangi
Menjemput sang pelangi
Mengantarkannya meraih mimpi
Demi Ibu Pertiwi

Guruku Hebat
Bertahun tahun menahan diri
Dari keinginan hati
Dari nafsu duniawi yang menghampiri
Walau kadang makan hati

Guruku Hebat
Bagaimana tidak hebat
Tiap hari menopang martabat
Walau kadang tak bersahabat
Namun tetap harus kuat

Guruku tetap hebat
Dalam kekurangan tetap bertahan
Dalam kesederhanaan tetap diam
Dalam kemakmuran tetap tenang

Guruku memang hebat
Meskipun bukan konglomerat
Namun tak melarat
Meski bukan bangsawan
Namun tetap menawan

Guruku Hebat
Mendidik anak negeri
Sepenuh hati
Mengajarkan budi pekerti
Agar menjadi insan yang bernurani
Tanpa harus menyakiti

Guruku tetap yang Hebat
Gaji kecil tak sakit hati
Gaji cukup tak sombong diri
Meski banyak yang iri hati
Karena guru dapat sertifikasi

Guruku memang hebat
Karena sertifikasi dituntut kompetensi
Kalau tak mau diamputasi
Oleh penguasa negeri yang katanya "baik hati"

Guruku Memang Hebat
Mengabdikan diri untuk negeri
Sambil menunggu panggilan surgawi

SELAMAT  BERAKTIVITAS BUAT BAPAK/IBU GURU HEBAT SEMUA

*

Sumber tulisan: Copas dari Grup WA
Gambar: Clever Design by Clever World

**

Selamat Hari Guru untuk Seluruh Guru di Indonesia. Semoga Selalu Sehat dan Bahagia, Senantiasa dalam Kebaikan dan Keberkahan. Aamiin.

Terima kasih untuk Guru Hebat di Seluruh Nusantara.

Thank You Teachers.

Engkaulah Pencipta Insan Cendekia.

Bukan Lagi
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

***

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day25

@RumahCleverCilacap, 25 November 2018: 15.47.
Ibu Jesi.

****

Tasyakuran PGRI Ranting Binangun Tahun 2018

13.30 2

Tasyakuran Hari Guru Nasional ke-73
PGRI Ranting Binangun Tahun 2018

Oleh Betty Irwanti

*

Sebentar lagi, guru di seluruh Indonesia akan memperingati Hari Guru Nasional (HGN) yang ke-73. Usia yang sudah sangat cukup untuk menunjukkan eksistensinya.

Guru-guru di seluruh Indonesia wajib tergabung dalam organisasi bernama PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Oleh sebab itu HGN juga biasa disebut dengan HUT PGRI.

Tahun ini PGRI Ranting Binangun menyelenggarakan acara special untuk menyambut hari yang sakral untuk para guru ini, sebagai wujud rasa syukur setelah berhasil meraih juara 1 pada acara POR PGRI untuk cabang bola putera dan berhasil mempertahankan gelar juara kedua untuk cabang bola voli puteri.

Acara sakral ini bertajuk Tahlilan, Pengajian dan Tumpengan Bersama Para Guru di Lingkungan PGRI Ranting Binangun. Acara ini berlangsung pada hari ini dengan pembagi waktu yaitu Sekretaris PGRI Ranting Binangun itu sendiri.

Diawali dengan rangkaian acara pembukaan sekitar pukul 10.30 WIB kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Ketua Gugus Pajajaran, yang memberitahukan info tentang rencana pelaksanaan Pesta Siaga Kwarran Bantarsari tahun depan akan diselenggarakan di Gugus Pajajaran Binangun. Berdasarkan musyawarah para kepala sekolah sudahlah terjadi keputusan bahwa tuan rumahnya adalah SDN Binangun 01 Kecamatan Bantarsari. Mari bersiap, pelaksanaannya tanggal 15 Januari 2019.

Sambutan yang kedua adalah sambutan Ketua PGRI Ranting Binangun yang intinya adalah ucapan selamat kepada semua atas prestasi pada POR kemarin dan ucapan selamat Hari Guru Nasional Tahun 2018, semoga guru Indonesia terus maju dan sejahtera.

Acara intinya adalah tahlilan, pengajian dan do'a bersama yang dipimpin langsung oleh Bapak Kiyai Muchtar Wasito. Tahlilan berlangsung hikmad, pengajian berlangsung sarat hikmah dan manfaat serta do'anya semoga diijabah oleh Allah SWT, aamiin.

Akhirnya rangkaian acara harus ditutup dan diakhiri dengan ramah tamah serta pemotongan tumpeng. Disinilah keseruan demi keseruan terjadi. Mulai dari tumpengnya yang menawan hati sampai-sampai dikira editan saat diposting di media sosial tadi, tapi sungguh ini asli.

Acaranya sangat seru, makan yang lahap diringi canda tawa di sana-sini. Sungguh, sebuah momen yang langka. Kiranya baik, bisakah ini menjadi agenda rutin tahunan bagi PGRI?

Jawabnya tentu bisa, karena kebersamaan itu mahal harganya.

Hidup Guru!
Hidup PGRI!
Hidup Indonesia!

**

OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day23

@RumahCleverCilacap, 24 November 2018: 03.24.
Ibu Jesi.

Foto: dokumentasi pribadi

#359kata

Jesi dan Istana Bintang: Masuk Istana

04.49 1

Jesi dan Istana Bintang
Oleh Betty Irwanti

Jesi menggendong Cio, sambil bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Begitu pula dengan Brilli. Sepertinya mereka berdua sangat gembira karena baru saja mendapat teman baru.

"Tuan Puteri suaranya bagus ya!" ujar Cio tanpa sengaja.
Jesi tersenyum.

Brilli yang menjawab kemudian, "Jesi memang suaranya bagus, Cio. Sama kayak suara Ratu Rona,"

Jesi semakin tersenyum lebar.

Sesampainya di tenda, Jesi langsung merebahkan diri di tempat istirahat yang sudah disediakan oleh para pengawal sejak kemarin sore. Tidak lupa, ia letakkan Cio di sampingnya.

"Cio, mari kita istirahat dulu. Supaya besok kita bisa kembali ke istana dengan segar,"

"Baik, Tuan Puteri,"

"Brilli, selamat istirahat ya!"

"Baik Jesi, selamat mimpi indah ya!"

Mereka bertiga lelap. Hingga kokok ayam hutan membangunkan di pagi yang begitu cerah. Cio, bangun terlebih dahulu dan merasa sudah baikan. Entah kenapa kakinya sudah sembuh. Tak ada lagi luka, tak ada lagi darah dan tak ada lagi bekas ikatan kain yang dibalutkan oleh Jesi dini hari tadi.

Siapa yang mengobatiku, ya? Cio bergumam dalam langkah pelannya, saat berjalan-jalan di sekitar tenda. Dia melihat para pengawal sibuk mengemasi barang, hewan buruan dan menyiapkan sarapan.

Jesi muncul dari balik tendanya, "Selamat pagi Cio, Brilli!"

Cio bingung, ada di mana Brilli? Tidak ada.

"Jangan kaget, Cio. Brilli ada di telingamu yang lebar ini," Brilli tertawa lebar, kemudian terbang ke sana kemari.

"Brilli, jangan bercanda sama Cio, dia belum memahami,"

"Cio, kalau siang Brilli memang tidak terlihat sama sekali. Hanya aku yang bisa melihatnya,"

Cio mengangguk tanda mengerti.

Tiba-tiba Jesi terdiam, lalu ke luar tenda. Ia berjalan menuju tenda Raja Jose.

"Sepertinya Ayah belum terlihat, mari kita ke sana, Brilli, Cio!"

Brilli terbang rendah di pundak Jesi, Cio mengikutinya di sebelah kiri kakinya. Cio meloncat kegirangan. Dia akan bertemu raja Kerajaan Bintang.

"Selamat pagi, Ayah!" sapa Jesi begitu masuk tenda.

"Selamat pagi, sayang! Apa kabar teman barumu itu?" Raja Jose menoleh ke arah Cio.

"Baik, ayah. Ayah sudah tahu ya, kalau Jesi baru saja mendapat teman baru,"

Raja Jose mengangguk. Jesi, Brilli dan Cio belum tahu kalau yang menyembuhkan Cio sebenarnya adalah ayahnya sendiri.

"Boleh kan, Yah? Jesi bawa teman ke istana?"

Raja Jose diam sejenak, seperti ada yang dipikirkan.

"Boleh, boleh. Lagian kamu juga di istana sendirian, kan? Belum ada teman,"

Jesi tersenyum. Ayahnya memang tidak melihat keberadaan Brilli. Hanya orang tertentu saja yang bisa melihatnya.

"Siapa nama teman barumu itu?"

"Cio, Ayah!"

"Cio, kenalkan, ya! Ini ayahku. Raja Jose,"

Cio mengangguk takzim. Senang sekali diizinkan tinggal di Istana Bintang bersama Puteri Jesi dan Peri Brilli.

'Selamat tinggal hutan. Selamat tinggal kegelapan' begitu kata Cio dalam hati.

"Mari kita berkemas untuk pulang, Jesi, Cio. Siang ini kita sudah harus sampai di Istana Bintang. Ratu Rona sudah menunggu kedatangan kita!"

*

Sepanjang perjalanan pulang ke Istana Bintang, Raja Jose, Jesi dan semua pasukan berburu terlihat sumringah. Mereka kembali dengan membawa hasil buruan yang lumayan. Semua tersenyum senang. Terlebih lagi Jesi, dia mendapat teman baru bernama Cio.

"Selamat datang kembali, Tuanku Raja Jose!" sambut perdana menteri.

"Selamat datang kembali, paduka Raja Jose.!" sambut Ratu Rona.

"Terima kasih, terima kasih!"

Raja dan rombongan tiba di halaman Istana Bintang, Raja Jose langsung memberikan perintah lanjutan.

"Terima kasih untuk semua pasukan. Perburuan kita kali ini berhasil dan sangat memuaskan. Sudah saatnya kita kembali bertugas di Istana Bintang. Mari kita istirahat sejenak, lalu tetap bertugas sesuai apa yang diperintahkan oleh komandan kalian masing-masing. Jelas!"

Semua menjawab dengan mengangkat pedang. Pasukan dibubarkan. Waktunya semua kembali seperti awal keadaan.

Jesi menemui Ratu Rona.

"Ibu, izinkan Jesi membawa serta teman baru yang Jesi temukan di hutan, Bu. Dia terluka. Dia sudah kami rawat dan Jesi memutuskan untuk membawanya serta ke dalam Istana. Mohon izin ya, Ibu!"

"Baiklah, Jesi. Ibu mengizinkan. Berteman baiklah dengan siapapun."

"Kenalkan Ibu, temanku ini bernama Cio!"

Cio tersenyum.

"Lucu sekali, Cio ya Jes. Bulunya sangat bersih, putihnya sangat terang. Seterang rembulan di malam purnama,"

Cio membelalak senang dipuji sebegitunya oleh Ratu Rona.

"Cio memang kelinci yang unik, Bu. Jesi menyukainya,"

Jesi mohon diri untuk beristirahat di kamarnya. Mulai hari ini, Cio akan menemaninya sepanjang waktu di Istana Bintang sebagai temannya.

"Selamat datang, Cio. Semoga kamu betah tinggal di Istana ini bersamaku!"

Cio mengangguk. Ingin sekali dia berkata, "Terima kasih Tuan Puteri Jesi yang baik hati. Sambutan ini sungguh luar biasa. Kamu, Ayah dan Ibumu memang benar-benar orang baik. Sungguh orang yang baik hatinya,"

**

#Fantasi
#JesidanIstanaBintang
#MasukIstana
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day23

@RumahCleverCilacap, 23 November 2018: 04.43.
Ibu Jesi.

Sumber gambar: linamarlsworldandknowledges.blogspot.com

#736kata

Review Cerpen Lakon Hidup: Makplaaas Tiba-tiba Lupa

00.20 2

Review Cerpen Lakon Hidup
Oleh Betty Irwanti

*

Judul : Makplaaas Tiba-tiba Lupa
Karya: Edi A. H. Iyubenu
Dipublikasikan: Harian Jawa Pos
Tanggal : 11 November 2018
Alamat Link : https://lakonhidup.com/2018/11/11/makplaaas-tiba-tiba-lupa/

Tokoh: Hakim, Pengacara, Terdakwa
Konflik: Sidang Kasus Korupsi Dana APBD

Ide cerita, permasalahan umum negeri ini. Dimana kasus korupsi merajalela dan sidang atas kasus tersebut memang prosesnya sangat panjang. Cerpen ini menyajikan proses jalannya satu sidang dengan gelegar ringan yang bisa mengundang gelak tawa. Cerpen ini sangat komedi menurutku. Bagus begitu, istilah lainnya.

Latar cerita ini adalah di ruang sidang pengadilan, siang hari. Terdakwa di tanya perihal kasus korupsi dana APBD yang menjeratnya, tapi setiap di tanya jawabnya selalu, lupa. Makplaaaas, tiba-tiba lupa! Begitu. Jadilah kata-kata itu jadi jawaban setiap ada siapapun yang bertanya di dalam ruangan sidang itu. Terdakwa tidak mau disebut pencuri, ia hanya sedang khilaf saja, begitu katanya.

Rupanya, ilmu makplaaas tiba-tiba lupa ini adalah ilmu baru yang didapatnya setelah menonton Teater Gandrik dengan lakon Hakim Sarmin.

Sampai kemudian terdakwa menceritakan hal yang sesungguhnya. Terungkaplah bahwa ada 41 nama yang terlibat dalam kasus korupsi yang menyeret namanya kali ini. Secara tidak langsung juga menyebutkan bahwa ada diantara temannya yang serakah dan suka main perempuan.

Alur ceritanya sangat rapi dan runut, penulis benar-benar membawa pembaca pada diksi berkelas meskipun didominasi oleh bahasa Jawa yang kental. Good job buat Ayah Edi Iyubenu, ayahnya Mbak Diva, Owner Diva Press Yogyakarta.

Cerpen ini benar-benar segar dan menghibur. Jika ada kekurangan, bagiku hanya karena harus dipotong menjadi 7 pages dan itu sangat melelehkan karena harus melewati beberapa iklan yang berderet panjang. Dan saat membuat review ini, saya sampai harus screen shoot sampai belasan layar.

But, it is no problemo.

Good Job Boss Edi.

👌

**

#284kata
#TugasReviewCerpen
#LakonHidup
#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day22

@Rumah Clever, Cilacap, 21 November 2018: 23.14.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo Pribumiluhur.

Sumber gambar: www.lakonhidup.com

Review Buku The Destiny

21.40 18

Review Buku
The Destiny
Antologi Rising Star 2018

viii+384 halaman
14x20 cm

Editor: Eny Mira Qonita
Layout: Andros Luvena
Cover: Chriztpie Haryanto
ISBN: 978-602-5796-77-7
www.unicornpublisher.com

*

Aku juga mencintaimu,  Mas Joy. Selalu ada bayangmu di setiap langkah hidupku,... (halaman 106)

Buku ini berisikan kumpulan cerita pendek yang bertemakan "Kisah Cinta yang Menemukan Titik Akhir".

Ada 19 kisah keajaiban cinta yang ditulis oleh 19 perempuan penulis Rising Star.

Pembaca akan dibawa hanyut dalam setiap alur kisah yang ada. Ada haru, bangga, bahagia dan perasaan luar biasa yang menyelimuti. Mungkin begitulah takdir cinta, dengan segala liku yang ada.

"There is no happines without pain, Bella...." (halaman 15)

"Tapi, dokter sudah mengatakan aku akan sulit punya keturunan, Mas. Myoma yang ada di rahimku sudah sangat besar. Jika diangkat, harus beserta rahimku. Itu berarti aku nggak akan merasakan hamil dan melahirkan seperti perempuan lain." (halaman 39)

Lebih baik aku sendiri. Mencintainya dalam diam tak kan menyakitkan. Hatiku tak akan terluka. Biar kugenggam hatinya dalam doa di setiap malam. (halaman 54)

Aku nggak mau terjerat rayuan cowok. Tak kan kubiarkan pikiranku dirasuki makhluk bernama laki-laki sebelum kuliahku kelar,... (halaman 64)

Untuk kesekian kalinya air mata Sinta menetes lagi. Tanpa sepatah kata dan tanpa surat undangan, Abdul menikah... (halaman 81)

"Tenang, Dek, urusan itu jadi urusanmu dengan orangtuamu. InsyaAllah akan ada tambahan untuk keberkahan hidup kita kelak. Percayalah, aku nggak apa-apa. Justru aku senang punya calon istri yang berniat baik seperti itu. Niatkan saja, birrul walidain," ujar Mas Joy lembut. (halaman 110)

"Mia, kadang Tuhan menguji kita dengan beragan ujian, dan itu berbeda pada tiap insan. Ada orang kaya raya diuji dengan keturunannya, ada keluarga harmonis yang diuji dengan kemiskinannya, ada mahasiswa kaya yang selalu mendapat nilai E karena kemalasannya. Banyak hal yang akan menguji kita.... (halaman 132)

Keduanya pun kian terombang ambing dalam perasaan baru yang aneh, yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Ada perasaan hangat yang menjalar setiap mereka bertemu, berbicara maupun berdebat. (halaman 155)

Tapi apa yang akan aku jawab nanti, seandainya benar maksud lelaki itu ke sini dengan tujuan yang sama? Menolak? Mana mungkin. Kini hati nuraniku berbeda dengan waktu itu... (halaman 177)

Tapi kenapa sekarang Indri malah bingung sendiri melihat Ilham bersama wanita lain dan jarang datang ke rumah? Padahal Ilham tak sering menemuinya karena kemauan Indri sendiri. Indri semakin bingung. Perasaannya semakin tak menentu.... (halaman 189)

Karena Mama sering membanding-bandingkan, sedikit banyak memang mempengaruhi sikapku dalam memilih cowok. Buktinya, sampai masuk usia 27 tahun, aku belum menemukan jodohku. (halaman 205)

Diandra... Izinkan aku merawat hatimu dengan caraku yang sederhana ini. Izinkan aku untuk mendirikan pendopo di sini sebagai tempat kita mengukir cinta, membesarkan buah hati kita. Izinkan ketulusan cinta ini tersimpan di hatimu, karena hati itu yang kupunya.... (halaman 236)

Asmara, kuasamu membalikkan duniaku, menghamburkan jingga di hidupku, dan aku bahagia. (halaman 264)

... Jalan kami masih panjang. Biarlah rasa ini kukubur saat ini. Jika kami berjodoh, suatu saat kami akan bertemu kembali... (halaman 270)

... jangan percaya pada lelaki. Mereka hanya bisa mempermainkan perasaan perempuan saja, makhluk yang punya berjuta sisi kepalsuan. Mudah berjanji dan mudah pula mengingkari.... (halaman 295)

Hari ini akan menjadi sejarah bagi Amel. Tepat saat dia menjemput Adam di bandara, di depan ratusan orang, Adam melamarnya.... (halaman 318)

Entah kusebut apa sebuah rasa yang kini menjelma
Diam-diam menghuni sepi hati
Mengelana
Berdiam di kedalaman jiwa
Jika kusebut kata cinta
Kita laksana dua jiwa
Menanti sepasang merpati terbang merendah
Beriringan menembus kabut
(halaman 325)

Sherly meninggalkan Putra yang masih duduk terdiam, lemas di kursinya. Bahkan tak ada niat dalam hatinya untum menyusul, mengejar dan menenangkan Sherly- Perempuan yang seharusnya menjadi istrinya sebulan lagi. (halaman 341)

Malam itu Satria tidur sambil mengingat wajah Nadine. Saat tersadar ia cepat-cepat menyingkirkan pikiran tentang Nadine. Bagaimana mungkin aku menyukai Nadine yang sering membuatku kesal?.... (halaman 370)

**

Buku ini memberikan pengalaman yang berharga bagi pembacanya. Dimana di dalamnya tidak hanya ada cerita, tapi lebih dari semua itu. Kamu akan diajak untuk menikmati keindahan karya sastra yang lain, berwujud puisi. Ada puisi menarik yang tertulis di buku ini. Yakin nih, kamu nggak penasaran?

Adalah sebuah keniscayaan juga jika kamu kemudian mengambil hikmah dari semua kisah yang diceritakan.

Sebagai salah satu penulis dalam buku ini pula, entah kenapa membaca kembali cerita yang sudah ditulis sendiri, rasanya ada buncahan rasa yang sulit didefinisi. Perasaan saat debaran proses menjelang lamaran dan semua latar belakang sebab di belakangnya. Kisah yang kutulis is based on true story.

..., di tanggal cantik 121212, aku dilamar. Syukur alhamdulillah semua berjalan lancar dan sukses.
Ini semua terjadi karena Mas Joy dan ketulusan cintanya. (halaman 117).

***

#TugasReviewBuku
#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day21

@Rumah Clever, Cilacap, 21 November 2018: 19.34.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo sang Pribumi.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi.

#781kata

Review Film Bollywood: Taare Zameen Par

00.25 12

Review Film
Taare Zameen Par
Oleh Betty Irwanti

Don't judges by it's cover
Jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luar

Quotes tersebut rasanya pas untuk menggambarkan karakter Ishaan, anak berusia 8 tahun di film ini. Ishaan dimainkan oleh artis India bernama Darsheel Safary.

Ishaan sendiri adalah anak yang dianggap "bodoh" oleh sebagian besar khalayak pada umumnya. Image anak pemalas, nakal dan idiot melekat. Dia anak yang tidak bisa membaca dan menulis, nilai jelek, sering membolos pula. Bayangkan apa yang akan kamu lakukan jika menjadi gurunya, mungkin geram sekali dibuatnya ya?

Orang tua Ishaan apalagi. Mereka akhirnya memindahkannya ke sekolah berasrama. Namun hasilnya masih nihil, sama dengan saat di sekolahnya yang dulu.

Sampai akhirnya ada seorang guru baru bernama Ram Shankar Nikumbh. Sosok guru ini sangat berbeda. Apa sajakah perbedaan guru ini dengan guru-guru Ishaan sebelumnya?

Pastikan kamu tidak melewatkannya, karena pemeran gurunya adalah sosok aktor terkenal asal Bollywood yang sudah tidak asing lagi. Dialah seorang Amir Khan. Aktor papan atas yang karyanya sering melejit dengan film-film yang berkwalitas, hingga meraih banyak penghargaan.

Taare Zamen Par dalam Bahasa Indonesia berarti Seperti Bintang-bintang di Langit merupakan film yang dirilis pada 21 Desember, 2007. Sedangkan DVDnya dirilis pada 25 Juli, 2008. Disutradari, dibintangi dan diproduseri sendiri oleh Amir Khan.

Film Drama Musikal ini berhasil membuat Amir Khan meraih penghargaan Best Director dalam beberapa ajang bergengsi bahkan sekelas Piala Oscar. Filmnya sendiri meraih the 81st Academy Awards Best Foreign Film category.

Film ini berdurasi 2 jam 45 menit, waktu yang panjang untuk menonton dalam satu kali duduk. Butuh energi dan emosi agar tak lekas dehidrasi. Eits, film India emang rata-rata begitu ya. Durasinya lumayan panjang. Tapi tentu saja tidak membosankan, kenapa? Karena dalam setiap film pasti ada nyanyian, tarian dan musik yang menawan. Inilah kelebihan setiap Hollywood Film yang tidak dimiliki oleh film dari penjuru negara yang lain.

Isi film ini bagus, lain daripada yang lain. Amanat yang dapat diambil adalah janganlah suka menjudges bahwa anak itu nakal, anak itu bodoh, karena sejatinya setiap anak adalah istimewa. Gunanya orang tua di rumah adalah mendampingi anak belajar tentang apapun di rumah. Anak yang satu tidak bisa dibandingkan dengan anak yang lain, karena setiap mereka tentu saja berbeda. Sama seperti manusia dewasa.

Ketika di sekolah, guru diharapkan dapat mengambil alih tugas itu dengan baik. Setiap anak itu cerdas, dengan bakatnya sendiri-sendiri. Gunakanlah beragam metode, cara maupun strategi agar anak yang istimewa pun merasa terdampingi, tidak dikucilkan hingga akhirnya dia pergi mencari jati diri sendiri.

Maka, jadilah orang tua yang bisa memahami apapun potensi anak. Kembangkan anak dengan cara yang bijak. Karena kitalah seharusnya yang paling mengerti mereka karena mereka lahir sebagai darah daging yang diamanahkan pada kita.

Jaga mereka dengan baik.

Cintai mereka dengan baik.

*

#TugasReviewFilm
#KelasFiksiODOP6
#OneDayOnePost

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day18

@Rumah Clever, Cilacap, 19 November 2018: 23.45.
Ibu Jesi.
Nyi Bejo sang Pribumi

Sumber gambar: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Taare_Zameen_Par

#474kata

Babad Alas Mentaok: Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang Bagian dua

08.33 6

Babad Alas Mentaok
Bab 1

(Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang)
Bagian Dua

Oleh Betty Irwanti

Demak, 1546 Masehi

Sultan Trenggana wafat dalam agenda penaklukan daerah Panarukan. Tahta Demak otomatis akan turun kepada puteranya, Sunan Prawata.

Mendengar berita itu, Arya Penangsang geram, semakin menyimpan dendam.

Ia pun menyusun siasat licik.

*

Seorang pria mengendap-endap menaiki gerbang nan tinggi. Sepertinya dia sudah terbiasa melakukan penyusupan.

Pelan namun pasti, dia berhasil masuk ke salah satu kamar di mana seseorang tengah duduk bersila, sepertinya dia sedang bermunajat pada Yang Kuasa.

"Sunan Prawoto, bersiaplah menghadapi mautmu!"

Suara keras itu membangunkan seorang perempuan yang sedang terlelap di ranjang. Perempuan itu berlari, bersembunyi di balik punggung lelaki yang berdzikir itu.

Sunan Prawoto, membuka matanya.

"Siapakah, kau? Duhai tamu tak diundang! Kedatanganmu sangat tidak sopan!"

Lelaki penyusup sama sekali tidak menjawab, ia justru menghunuskan pedangnya.

"Tunggu!" perempuan di balik punggung berusaha mencegahnya.

"Apa salah suamiku sehingga kau ingin menghabisinya?"

"Tanyakan sendiri padanya, apa yang dia lakukan pada Sekar Seda Lepen?"

Lelaki bersorban bangkit berdiri, "Baiklah jika itu maumu. Aku tahu, kamu pasti utusan dari anaknya yang menginginkan kematianku!"

Lelaki penyusup tertawa terbahak-bahak.

"Aku akan menyerahkan diri pada Yang Kuasa dan padamu, jika memang umurku harus berakhir malam ini. Dengan satu syarat!"

"Apa syarat, itu?"

"Ampuni seluruh keluargaku. Pembunuh ayah Arya Penangsang itu aku, keluargaku tidak bersalah,"

"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Akan kuteruskan wasiatmu pada Tuanku, Arya Penangsang!"

Lelaki bersorban bangkit berdiri, lalu memejamkan matanya.

Lelaki penyusup langsung menghunuskan pedangnya, betapa kagetnya saat perempuan yang berlindung di balik punggung juga ikut terluka dan meninggal seketika.

"Kamu tahu dia itu istriku, dia tidak bersalah? Tapi mengapa kau melukainya?"

Dengan tubuh sempoyongan lelaki bersorban berusaha membalas kematian istrinya yang tidak bersalah. Lelaki penyusup itu pun, kalah. Keduanya bersimbah darah.

*

Kadipaten Jipan Panolan, 1549 Masehi

Arya Penangsang sudah mendengar kabar kematian Sunan Prawoto. Dia tersenyum sumringah.

"Rangkud sudah berhasil melenyapkan Sunan Prawata. Aku harus bersiap untuk merebut tahta Kerajaan Demak. Itu hakku!"

"Apalagi, guruku sudah mendukung niatku sepenuhnya!"

Dia tertawa, tanpa menyadari ada seorang telik sandi datang menghadap, menghampirinya.

"Ampun, Tuanku! Ada kabar penting yang harus saya sampaikan,"

"Kabar apa itu?"

"Sepeninggal Sunan Prawoto, Demak akan dipimpin oleh Jaka Tingkir. Karena Sunan Prawoto tidak memiliki keturunan,"

Telik sandi menjelaskan dengan singkat. Arya Penangsang semakin geram. Tangannya mengepal, mukanya semakin terlihat menyeramkan.

"Awasi terus Mas Karebet! Jangan biarkan ia lolos dari pengintaian!"

"Sendiko dawuh, Tuanku!"

**

Rumah Sunan Kudus, tahun yang sama.

Arya Penangsang dan Sunan Kudus sedang menunggu tamu istimewa. Percakapan layaknya guru dan murid sudah sejak tadi menghangat. Mereka menyepakati satu hal penting.

"Apakah kamu mengerti apa yang kumaksud, muridku?"

Arya Penangsang mengangguk.

Beberapa saat menunggu, tamu istimewa akhirnya datang juga. Mereka berdiri bersamaan, menyambut dengan riang.

"Selamat datang, saudaraku! Selamat datang di rumahku,"

Mereka saling berjabat tangan.

"Silakan duduk tamu istimewaku! Sudah kupersiapkan kursi khusus untukmu. Kursi keberuntungan. Duduklah di dekatku!"

Tamu istimewa itu mendekatinya, "Tidak, Tuanku, Sultan Hadiwijaya! Tuanku datang bersamaku. Jadi harus duduk di dekatku!"

"Oh, tidak Ki Ageng Pemanahan. Sebagai tamu istimewaku, sudah selayaknyalah beliau duduk berdampingan denganku!"

Arya Penangsang berusaha membujuk, merayu Sultan Hadiwijaya agar duduk di kursi yang dikehendakiknya.

"Mohon maaf, Arya Penangsang. Aku akan duduk di dekat Ki Ageng. Tidak sopan rasanya jika tidak mematuhi perintahnya,"

Jaka Tingkir pun duduk dekat Ki Ageng Pemanahan. Arya Penangsang mendengus, kesal. Dia tidak menyadari tatapan Sunan Kudus atas apa yang dilakukannya kini.

"Jadi, begini Sunan Kudus yang sangat kami hormati. Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk memenuhi undanganmu," Ki Ageng Pemanahan mengawali pembicaraan.

Sunan Kudus mengangguk-angguk.

"Satu dari hal lain yang tidak kalah penting adalah tujuan Tuanku Sultan yang ingin mengembalikan pusaka miliki Arya! Pusaka yang dipinjam dari seseorang yang berusaha membunuhnya!"

Sultan Hadiwijaya mengeluarkan pusaka yang dibawanya.

"Pusaka ini kukembalikan kepada pemiliknya! Keris ini kekuatannya sungguh luar biasa! Sayang sekali kalau digunakan untuk hal sia-sia,"

Arya Penangsang mendekat, tahu akan maksud perkataan Jaka Tingkir. Dia mengambil Keris Ki Setan Kober kemudian membuka dari wrangkanya (tempatnya), cahaya merah silau keluar dari keris itu. Sepersekian detik semua di ruangan terpana. Dia kembali memasukkan ke dalam wrangkanya.

"Tidak usah pamer, Arya! Aku juga punya pusaka yang tak kalah hebat dengan kerismu itu!"

Sang Sultan mengeluarkan Keris Cerubuk Kyai Conthe dari wrangkanya, muncullah cahaya hijau berkilauan, tak kalah menyilaukan.

"Pusaka macam apa itu? Hanya begitu saja kemampuannya! Tidak akan mungkin bisa mengalahkanku," ujar Arya Penangsang dengan sombongnya.

Jaka Tingkir merah padam, "Nyatanya, pusakamu tidak bisa membunuhku kemarin!"

"Itu hanya karena utusanku itu yang bodoh!"

Jaka Tingkir terpancing, "Apakah kau menantangku?" kemudian bangkit berdiri dan mengeluarkan kembali kerisnya.

Arya Penangsang pun melakukan hal yang sama. Sepersekian detik kemudian, duel terjadi. Sunan Kudus dan Ki Ageng Pemanahan saling pandang. Keduanya berlari, berusaha melerai keduanya.

"Sudah, sudah Sultan. Kita sedang bertamu, jangan buat keributan!"

Sultan Hadiwijaya mewrangkakan kembali keris pusakanya. Arya Penangsang masih menahan amarahnya. Sunan Kudus berada di antara dua manusia yang duel penuh emosi itu.

"Wrangka-kan kembali kerismu, Nak!" perintahnya kepada Arya Penangsang dengan mengedipkan matanya. Arya gagal memahami apa sebenarnya maksud gurunya itu.

"Mundur, Tuanku Sultan! Kembalilah duduk!"

Sultan Hadiwijaya duduk kembali, di dekat Ki Ageng Pemanahan.

***

Bersambung....

#838kata
#HistoricalFiction
#BabadAlasMentaok
#DanangSutawijaya
#AryaPenangsang
#SultanHadiwijaya
#Sunankudus
#KiAgengPemanahan
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day18

@Clever Class, Cilacap, 18 November 2018: 08.20.
Ibu Jesi.

Sumber gambar: ceritaanaknusantara.com

Babad Alas Mentaok: Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang

22.35 20

Babad Alas Mentaok
(Danang Sutawijaya VS Arya Penangsang)
Bagian Satu
Oleh Betty Irwanti

Saben mendra saking wisma
Lelana laladan sepi
Ngisep sepuhing sopana
Mrih para pranaweng kapti

Setiap kali keluar rumah
Wisata ke wilayah sunyi sepi
Menghidup napas kerokhanian
Agar arif kebulatan awal akhir

Penembahan Senapati (Raja Pertama Mataram)

*

Pajang, 1538 Masehi

Seorang pemuda gagah baru saja membuang cincinnya ke dalam sungai. Ia kemudian terjun, menyelam dan berenang ke sana-kemari. Berusaha mencari benda berharga yang dilemparkannya tadi.

Beberapa lama ia harus berjuang dengan cara yang diciptakannya sendiri, berulang kali. Tanpa raut menyerah, ia justru terlihat sangat sabar, sampai akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya sedari pagi.

Apalagi kalau bukan karena ilmunya yang tinggi.

Selesai dengan ritual paginya, kemudian ia membersihkan diri.

"Nak, Danang!" suara berwibawa itu memanggilnya dari jarak dekat. Pria gagah itu, menoleh, lalu tersenyum. Kemudian membungkuk hormat dengan melipat kakinya dan menautkan kedua tangannya di depan dada.
"Sendiko, Yahnda" jawab pria yang bernama Danang Sutawijaya itu.

"Kemampuanmu semakin terasah ya, latihanmu sangat keras,"
"Nggih, Yahnda. Semua demi meningkatkan kesaktian untuk menjaga kesetiaan pada Kerajaan Pajang, Yahnda!"
"Bangkitlah! Mari kita masuk ke dalam,"
Danang Sutawijaya pun berdiri seiring dengan tepukan di pundaknya.

Danang Sutawijaya adalah anak angkat Raja Kerajaan Pajang yang bernama Sultan Hadiwijaya. Alasan sudah lama menikah dan belum memiliki keturunan membuat raja yang juga dikenal dengan nama Jaka Tingkir ini mengangkat anak orang lain sebagai pancingan.

Danang Sutawijaya atau Dananjaya adalah putra sulung pasangan Ki Ageng Pamanahan dan Nyai Sabinah. Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani.

*

Padepokan Sunan Kudus, tahun yang sama.

Seorang pria berperawakan tinggi, besar, dan kekar sedang berlatih kanuragan dengan keris di tangannya. Ia sangat gesit, bergerak ke sana-kemari menghindar dari serangan lawannya. Lawan pun jatuh tersungkur dalam lima gerakan saja. Ia pun tertawa senang, terbahak-bahak. Tulang-tulang muka dan leher terlihat sangat jelas dengan otot-ototnya yang membulat. Jelas dia memiliki kekuatan yang dahsyat.

Tiba-tiba muncul seseorang dengan berkalung sorban putih, terbang rendah di sekitarnya. Menyerangnya dengan tiba-tiba pula sampai ia dibuat kewalahan. Keris pun jatuh dari tangan. Mukanya merah padam. Ia marah.

Lelaki itu menghunuskan pedang, sempat mengenai kulit tangannya. Dia jatuh tersungkur. Namun, sama sekali tidak ada luka apapun. Pria tinggi besar ini rupanya kebal dengan senjata.

"Bangkitlah, Nak Arya!" pria berkalung sorban itu mengulurkan tangan.
"Terima kasih Guruku," jawab pria kekar dengan santai. Dia bangkit, berdiri lalu memasukkan kerisnya ke dalam wrangkanya.

"Jaga baik-baik senjata pemberian dariku itu, wahai putra Raden Kikin!"

"Baiklah Kanjeng Sunan Kudus. Aku akan menjaga Keris Ki Brongot Setan Kober ini dengan sebaik-baiknya..." sepertinya kalimatnya belum selesai, sejenak ia mendongakkan wajah, menghembuskan napas dalam.

"Jangan sebut nama ayahku lagi, Guru! Itu hanya akan membuat dendamku semakin berkobar,"

Giginya bertautan, menghasilkan bunyi gemelutuk. Mengerikan.

Lelaki di depannya hanya menggeleng. Sepertinya dia sudah paham betul dengan watak muridnya yang satu ini.

"Jangan mudah terpancing emosi, Nak!" lelaki bersorban tersenyum lalu mendekatinya. "mari, kita ke kandang kuda. Kuda perangmu, si Jantan Hitam bernama Gagak Rimang sudah menunggumu untuk belajar hal lain,"

Arya Penangsang adalah putra satu-satunya Raden Kikin, pewaris sebenarnya Kerajaan Demak. Raden Kikin terbunuh karena keinginan Pangeran Trenggana berambisi menguasai Kerajaan Demak.

Arya Penangsang menyimpan dendam, ingin membalas kematian ayahnya. Karena ia juga merasa berhak atas tahta kerajaan.

**

Bersambung....

#HistoricalFiction
#BabadAlasMentaok
#DanangSutawijaya
#AryaPenangsang
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day17

@RumahCleverCilacap, 17 November 2018: 22.28.
Ibu Jesi.

Sumber gambar: ceritaanaknusantara.com

#534kata

Jesi dan Istana Bintang (Teman Baru)

21.53 4

Jesi dan Istana Bintang
Oleh Betty Irwanti

Setelah berburu, Jesi dan yang lainnya kembali ke tenda. Membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk beristirahat.

Jesi tak merasa lelah sama sekali, dia justru senang dalam perburuan kali ini. Pengalamannya menjadi bertambah.

"Jes, kamu tidak tidur? Semestinya kamu lelah sehabis berburu?" tanya Brilli terlihat heran.

"Tidak, Brilli. Justru sebaliknya. Aku merasa senang. Aku tidak lelah," jawab Jesi bersemangat. "kalau kamu mau istirahat, silakan! Aku mau jalan-jalan di sekitar tenda dulu, sambil nunggu ngantuk datang," tambah Jesi, tetap dengan semangatnya.

"Aku akan tetap bersamamu, Tuan Puteri. Tidak akan mungkin aku membiarkanmu bepergian sendirian tanpaku,"

"Baiklah, kalau begitu ikuti aku!"

Jesi berjalan pelan di sekitar tenda, takut membuat kegaduhan. Sementara Brilli ikut terbang rendah, sesekali duduk manis di pundak Jesi.

Suasana lengang, ada beberapa pengawal saja yang sedang membersihkan hewan buruan dan mengemasnya agar mudah dibawa pulang nantinya.

Tiba-tiba Jesi berhenti, memutar pandangan ke sana-kemari.

"Ada apa, Jesi?" tanya Brilli.

"Aku mendengar suara bising sekali. Seperti ada kegaduhan. Ada juga orang minta tolong. Apakah kamu mendengarnya, Brill?"

Brilli mengangguk. "Suara itu datang dari balik semak di seberang komplek tenda ini. Aku sudah mendeteksinya dengan tongkatku."

Jesi berjalan cepat, "Mari kita tolong, Brilli. Jangan sampai kita terlambat!"

Brilli menyibak jalanan yang gelap, dengan tongkatnya. Menghadirkan bintang-bintang untuk menerangi daerah di sekitar mereka. Jesi terlihat siaga dengan alat pemanahnya. Dia berkonsentrasi penuh.

"Tuan Puteri, rupanya tongkatku memberitahu jika bising-bising suara itu bukan manusia, tapi makhluk yang lain,"

"Apa itu, Brilli?"

Jesi berhenti. Dia merasa suara bising itu sudah berhenti. Masih bersisa suara lirih, minta tolong.

"Tolong! Tolong! Tolong aku!" suara itu seperti sudah dekat. Namun belum juga ditemukan oleh Jesi. Brilli berusaha mencari dengan menggunakan tongkatnya. Biasanya akan cepat, tapi entah mengapa kali ini tidak.

"Jes, kita sudah berputar-putar mencari suara minta tolong itu dari tadi. Kenapa belum juga bisa kita temukan, ya?"

"Bersabarlah, Brilli. Kita harus tetap mencari. Suara itu sudah sangat jelas. Pasti ada di sekitar sini. Mari kita cari kembali!"

Jesi menyibak ilalang yang tinggi, dan semak belukar. Dia membersihkan rerumputan dengan pedangnya, siapa tahu saja suara itu asalnya dari bawah, dibalik rumput yang tinggi.

Hutan ini masih sangat lebat, pepohonan besar rimbun, dengan pohon-pohon lain menghiasi di sana-sini. Atau bisa saja, suara itu ada di atas? Di pohon? Jesi memutar pandangan lagi. Sekali lagi dia mengumpulkan fokus, memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangannya ke depan. "Bintangku. Datanglah. Terangilah perburuan kami."

Ajaib. Bintang-bintang di angkasa memenuhi langit sekitar. Semakin menambah terang langit tengah malam itu. Bahkan beberapa ada yang turun berada di dekat Jesi. Brilli memandangi langit dan sekitarnya sambil bergumam, "Jesi siap beraksi, ini pasti kekuatannya,"

Jesi mendekati sebuah semak yang rimbun. Dia berbaring, mendekatkan telinganya ke sisi tanah. Dia berseru, memanggil Brilli.

"Brilli, kemari! Ada lubang di sini!"

Brilli mendekat, membantu Jesi mengeluarkan rumput dari dalam lubang. Ternyata di dalam lubang itu ada seekor hewan berbulu putih bersih, bertelinga panjang, tapi di bagian kakinya ada darah. Hewan itu terluka. Jesi mengangkat hewan itu, lalu memeluknya. Dia menangis.

"Kakimu kenapa, temanku? Kenapa sampai berdarah begitu?"

"Aku tadi dikejar-kejar serigala, teman!"
Jesi kaget, kenapa hewan ini bisa bicara. Brilli tersenyum.

"Itulah kehebatanmu, Tuan Puteri Jesi. Apakah kamu tidak menyadarinya?"

Jesi menggeleng.

"Kamu bisa bicara dengan binatang pada saat tertentu,"

Jesi mengangguk, lalu tersenyum. Dia mengelap darah yang ada di kaki hewan itu, sambil terus memeluknya.

"Terima kasih sudah menolongku," kata hewan itu.

"Sama-sama temanku. Sesama makhluk kita harus tolong menolong." jawab Jesi.

Hewan itu tersenyum sambil menahan sakit di kakinya.

"Mari kita pulang ke tenda, Brilli! Kita akan merawat teman baru kita. Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Aku takut ada yang mencari jika kita tidak segera kembali," ajak Jesi.

"Baiklah, Tuan Puteri." jawab Brilli.

Jesi, Brilli dan hewan yang kakinya terluka itu berjalan menuju tenda. Jesi tidak membawa serta kuda kesayangan, dia membiarkannya istirahat.

Dini hari ini Jesi menemukan teman baru, Brilli pun ikut senang.

"Siapa, namamu teman?" Brilli bertanya di perjalanan.
"Namaku, Cio." jawab hewan itu.
"Kenalkan aku, Brilli. Tuan Puteri yang sedang menggendongmu ini bernama Jesi. Putri dari Kerajaan Bintang,"

Hewan itu mengangguk pelan, tanda mengerti. Betapa beruntungnya ditolong oleh seorang putri, begitu gumamnya dalam hati.

Bersambung...

#Fantasi
#JesidanIstanaBintang
#TemanBaru
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day16

@RumahCleverCilacap, 16 November 2018: 17.28.
Ibu Jesi.

Sumber gambar: linamarlsworldandknowledges.blogspot.com

#702kata

Jesi dan Istana Bintang (Berburu)

09.14 19

Jesi dan Istana Bintang
Oleh Betty Irwanti

Jesi adalah seorang putri dari Kerajaan Bintang. Ayahnya bernama Raja Jose, yang terkenal baik hati dan dermawan. Sedangkan ibunya, bernama Ratu Rona. Ratu yang juga baik dan tidak sombong. Mereka tinggal di Istana Bintang, Istana milik Kerajaan Bintang.

Jesi memiliki sifat yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. Dia mempunyai kekuatan sehebat ayahnya dan berparas cantik seperti ibunya. Namun, ada lagi yang membuat semua penghuni Istana Bintang menyayanginya.

Jesi bersahabat dengan seorang peri, Brili. Brilli memberikan kekuatan kepada Jesi karena menolongnya saat terkurung dalam sebuah botol. Tak sengaja Jesi melihat botol itu dan membukanya. Keluarlah Brili dengan sayap putihnya yang mengepak-epak berkilauan. Tongkat bintang di tangan, gaun kuning nan menawan, serta mahkota bunga di kepala yang tak kalah rupawan. Sejak saat itu Jesi bersahabat dengan Brilli.

Pada suatu hari, Jesi dan peri Brilli berjalan-jalan di halaman istana. Tak sengaja, ia bertemu dengan ibu dan ayahnya.

"Jesi, sedang apa kamu di sini, Nak?" tanya Ratu Rona pada Jesi.

"Mohon maaf, Ibu. Jesi sedang jalan-jalan saja," jawab Jesi singkat. Brilli tersenyum.

"Ayah nanti sore akan pergi, Nak!" Raja Jose menyahut kemudian.

"Pergi ke mana, Ayah?"

"Ayah akan berburu, Nak. Ayah dengar di pesisir selatan sana sedang banyak hewan yang turun gunung. Ayah ingin menambah pengalaman berburu."

Jesi manggut-manggut.

"Apakah kamu mau ikut, Nak?"

Jesi manggut-manggut, pertanda setuju.

"Apakah Ibu juga akan ikut bersama kita, Yah?"

"Tidak, Ibu akan tetap tinggal di istana."

Jesi masuk kembali ke Istana Bintang, berjalan mengikuti ayah dan ibunya dari belakang. Brilli, juga melakukan hal yang serupa.

*

Jesi berangkat pergi berburu dengan menunggang kuda, Brilli pun ikut serta. Ayahnya berada di barisan depan, di belakang pasukan berburu dan penunjuk jalan. Mereka semua menuju ke hutan.

Sepanjang perjalanan terasa menyenangkan. Hamparan padi yang mulai menguning menghiasi areal persawahan yang mereka lewati. Kebun-kebun para penduduk terlihat hijau, penuh dengan pepohonan.

Penduduk yang kebetulan melihat rombongan kerajaan, terlihat melemparkan senyum kegembiraan. Mereka sangat senang bisa bertemu langsung dengan raja, meskipun hanya sekilas saja.

Setelah beberapa saat melintasi daerah pedesaan dan sekitarnya, tibalah rombongan di tepi hutan. Raja Jose memerintahkan untuk istirahat dan mendirikan tenda.

Jesi turun dari kudanya, Brilli terbang rendah di pundaknya. Dia bersiap membantu para pengawal mendirikan tenda.

"Pengawal? Berapa tenda yang akan didirikan?"
"Sekitar 5 tenda, Tuan Puteri."
"Berikan satu tenda untukku. Aku akan bantu dirikan."

Pengawal memberikan satu tenda kepada Jesi.

"Apakah Tuan Puteri tidak membutuhkan seorang pun untuk membantu?"

Jesi menggeleng. Brilli tersenyum riang. Ini berarti dia yang akan membantu Jesi mendirikan tenda.

Brilli memutar-mutar tongkatnya sambil mengucapkan mantra. "Sim salabim. Jesi baik. Brilli baik. Jadilah! Jadilah!"

Tenda yang terlipat tiba-tiba bergerak sendiri kemudian tegak berdiri dengan segala kekokohannya. Jesi mulai menata peralatan dan perlengkapan isi tenda.

Beberapa saat kemudian semua tenda sudah siap. Tidak ada yang tahu kekuatan Jesi dan Brilli sampai sejauh ini.

Hari mulai gelap, lampu-lampu tenda mulai menyala terang. Raja dan Jesi menikmati hidangan yang sudah dibawa dari istana khusus dimasak oleh Ratu Rona. Sementara pengawal juga melakukan hal yang sama, hanya saja makanan yang mereka makan dibuat oleh koki istana.

Pengawal yang mereka bawa adalah pasukan khusus berburu. Bukan pasukan biasa.

Menjelang malam semua bersiap. Raja Jose, Jesi dan beberapa pengawal mulai menunggang kudanya masing-masing. Ada lima pengawal yang ditugaskan menjaga tenda dan perbekalan.

Mereka menuju ke tengah hutan dengan membawa obor. Jesi yang meminta membawa obor itu. Brilli yang berada di pundaknya membisikkan sesuatu.

"Jes, kamu yang pegang obornya ya. Nanti aku bantu menyalakannya terus meski kudamu berjalan kencang. Aku akan membuat terang seluruh hutan dengan kekuatanku."

Jesi pun mengangguk-angguk.

Raja Jose dan pengawal utama memacu kuda di depan Jesi. Jesi dan beberapa pengawal mengikuti dari belakang.

Sesampainya di tengah hutan. Raja Jose mengangkat tangannya. Pertanda lokasi berburu sudah dekat. Jesi bersiap dengan panahnya. Demikian juga yang lainnya. Brilli tetap pada posisinya mempertahankan nyala obor.

Tiba-tiba Jesi teringat sesuatu. Dia memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangannya ke depan. "Bintangku. Datanglah. Terangilah perburuan kami."

Ajaib. Bintang-bintang di angkasa memenuhi langit sekitar hutan. Suasana menjadi terang benderang. Raja dan pengawal sempat mendongak ke atas memandang langit. Mereka tidak tahu jika Jesi mempunyai kekuatan bisa memanggil bintang-bintang. Kekuatan yang sama seperti yang dimiliki Brilli.

Raja Jose, Jesi dan pasukan berburu baru kembali ke tenda menjelang tengah malam. Mereka berhasil mendapatkan banyak hewan buruan.

Brilli yang sejak tadi berada di pundak Jesi, memuji-muji kemampuan memanah yang dimiliki tuan puteri Kerajaan Bintang itu.

"Jes, kamu hebat sekali. Setiap kali memanah hewan itu tak bisa lagi menghindar!"

Jesi tersenyum, lalu menjawab "Aku setiap hari berlatih memanah di bawah bimbingan ibuku. Kamu tahu kan, Brilli?"

Brilli mengangguk. Tersenyum bangga pada Jesi.

**

Bersambung...

#Fantasi
#JesidanIstanaBintang
#Berburu
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day15

@Cleverclass, Cilacap, 15 November 2018: 08.42.
Ibu Jesi.

#778kata
Sumber gambar: linamarlsworldandknowledges.blogspot.com

My Love

06.05 8

My Love
Oleh: Betty Irwanti

Jalanan terasa sepi, pagi ini. Aku memacu kendaraanku dengan lebih cepat. Musik yang kusetel keras-keras membuatku mengangguk-angguk pelan, menikmati setiap hentakan demi hentakan beat dari semua lirik yang tersaji. Lagu ini selalu saja menarik untuk kusimak meski sudah ribuan kali kudengar sejak zaman SMA dulu.

Kulihat ke kiri dan ke kanan, banyak pemandangan yang tersaji dengan sangat indah. Sawah, pepohonan, rumah-rumah dan jalanan dari yang bagus sampai yang penuh kubangan lumpur, tetap bisa kulewati.

Sampailah aku pada suatu pemandangan biasa yang sudah sering kutemui, rumah di ujung areal persawahan. Rumah yang selalu tertutup rapat, terasa kosong, tak ada penghuninya. Pagarnya yang sederhana di sana sini sudah banyak yang berlubang, mungkin saat hujan banyak air yang akan masuk ke dalam. Menyedihkan ya, sepertinya rumah itu tak berpenghuni.

Hatiku juga sudah lama kosong, tak berpenghuni. Terasa ada lubang di sana. Sekian lama aku masih sendiri, menyimpan luka lama. Kemana pergi pun, selalu sendiri. Semua ruang kuisi dengan diriku sendiri, hidup serasa semakin sempit. Entahlah, rasanya sulit sekali membuka pintu lagi.

Sampai saat ini aku masih sering bertanya-tanya bagaimana semua terjadi, mengapa semua terjadi.

Di manakah hari-hari bahagiaku yang dulu? Hari penuh cinta dan kebersamaan. Hari bersama lagu-lagu yang sering kunyanyikan bersama seorang istimewa

Entah mengapa cintaku bertahan, hingga kini. Tapi, aku tak lagi berusaha merengkuh cinta yang tampak begitu jauh. Kubiarkan saja dia menjauh. Waktu jualah yang akan menjawabnya.

Setiap malam dalam sujudku, selalu setia kupanjatkan do'a. Berharap mimpi-mimpiku kan membawaku ke sana. Ke tempat dimana kau berada. Ke tempat di mana langit biru masih juga dalam kuasa bentangan-Nya. Meski entah dimana tempatnya.

Tuhan, izinkan aku untuk bertemu denganmu sekali lagi. Denganmu, cintaku.

Tanpa kusadari pelataran parkir kantor telah terlihat. Kumatikan musik dan segera merapikan diri. Kuposisikan kendaraanku di tempat yang telah disediakan khusus.

Beberapa orang menyapaku saat sudah masuk di lobi, aku membalas dengan anggukan dan senyuman. Meli, mengikutiku dari belakang, masuk ke dalam ruanganku.

"Selamat pagi, Miss!" sapa dia dengan membungkukkan badannya.
"Selamat pagi, Mell," balasku pada Meli, wanita cantik yang sudah dua tahunan menjadi orang kepercayaanku.
"Agenda hari ini kita akan meeting dengan klien, Miss. Sekitar pukul 10.00 pagi. Membicarakan proyek kita di luar pulau." lanjut Meli menerangkan ini dan itu.
"Oke, aku paham. Siapkan saja semua file tambahan yang dibutuhkan dari file yang sudah kukirim via email ya, nanti aku pelajari." Meli menjawab dengan anggukan. "oh, iya. Nanti selesai meeting, aku mau minta tolong juga sama kamu!"
"Minta tolong? Tolong apa, Miss?"

Aku hanya mengangkat bahuku, "Tunggu nanti saja, oke!"
Meli, buru-buru pamit. Aku pun beranjak. Kembali memutar musik dari gawaiku, lagu yang sama seperti yang kudengarkan tadi sepanjang perjalanan. Kusetel suaranya agar tidak sampai terdengar keluar.

Sesekali aku mengikuti lirik demi lirik, yang memang sudah kuhapal. Lagu berjudul My Love dari boyband legendaris asal Irlandia, Westlife.

An empty street
An empty house
A hole inside my heart
I'm all alone
The rooms are getting smaller (smaller)

I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The songs we sang together (Oh yeah)

And, oh, my love
I'm holding on forever
Reaching for a love that seems so far

So I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue

To see you once again
My love
Overseas from coast to coast
To find the place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
My love

I try to read
I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking (Oh no)

To hold you in my arms
To promise you, my love
To tell you from my heart
You're all I'm thinking of

I'm reaching for a love that seems so far
So

*

Aku dan Meli sudah berada di dalam gedung terkenal di kota ini. Meli menemani atas permintaan yang kuutarakan begitu selesai meeting dengan klien tadi. Bersyukur dia mengiyakan, biasanya kalau diajak pergi malam Meli punya seribu alasan.

Kami berdua menghadiri acara pernikahan mewah salah satu CEO perusahaan ternama yang mengundangku. Perusahaanku memang berada jauh dari hingar bingar kota, namun sudah tak perlu diragukan lagi pengaruhnya sudah menyebar ke seluruh pelosok negara.

Pasti rasanya akan sepi sekali jika datang ke acara sebesar ini sendiri, makanya kuajak Meli. Dia kan juga masih sendiri, sama sepertiku.

Di depan sana kulihat pengantin sedang tersenyum bahagia dengan sempurna. Menyanyikan lagu berdua, duet. Duh, romantisnya. Aku, kapan ya?

Aku dan Meli sibuk beramah tamah dengan sesama tamu, kemudian menikmati hidangan. Tiba-tiba dari arah podium depan terdengar sebuah suara meminta perhatian. Aku merasa akrab dengan suara itu.

"Selamat malam teman-teman semua. Izinkan saya meminta perhatian sejenak. Saya ingin menyampaikan sesuatu hal untuk seseorang."

Aku reflek berdiri, entahlah. Menyibak beberapa kerumunan, terus maju mencari sumber suara.

"Aku tahu malam ini kamu ada di sini. Bertahun-tahun aku telah meninggalkanmu. Menyeberangi lautan, demi sebuah cita-cita di masa depan,"

"Selama itu aku tak pernah menemukan tempat yang paling kusuka. Di mana ladang menghijau, seperti tempat yang kita sukai dulu, saat setiap hari aku bertemu denganmu."

"Sampai detik ini kamu adalah cintaku. Kucoba membaca dunia. Mencoba menyibukkan diri dengan full konsentrasi bekerja. Mengalihkan sepi dengan bercanda tawa. Memperluas pertemananku. Tapi, entahlah. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu."

"Setiap saat aku berdo'a. Semoga suatu saat bisa berjumpa kembali denganmu. Untuk mendekapmu. Untuk berjanji padamu, bahwa kamulah cintaku."

Suara itu terhenti, saat aku tepat berada di dekat podium asal sumber suara itu. Aku menatap laki-laki di depanku, memastikan semua pandangan di depan bukanlah fatamorgana.

"Sungguh ini benar, sayangku. Aku mengatakan ini semua padamu dari hatiku. Engkaulah yang selalu kupikirkan."

Laki-laki itu turun dari podium kemudian menghampiriku.
"Akan kurengkuh cintaku sampai akhir nanti, takkan kubiarkan yang tampak dekat terlihat jauh lagi."

Seisi gedung bergemuruh, penuh suara tepuk tangan. Aku tersipu. Tanganku sudah digenggap sebegitu eratnya oleh laki-laki itu.

**

#SongLit
#MyLove
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day14

#979kata

@RumahClever, Cilacap, 14 November 2018: 06.00.
Ibu Jesi.

Mbah Uti Meriang

10.09 12

Mbah Uti Meriang
Oleh Betty Irwanti

"Mbah Uti, nanti Jesi si gimana kalau Mbah lagi meriang begitu?" tanyaku di sela sarapan pagi.
"Ya, gak papa. Sama Mbah aja. Mana mau Jesi sama yang lain,"
Aku tetap melanjutkan makan, meski sebenarnya dalam hati sungguh tak tenang.

Kupercepat gerakan persiapan untuk berangkat ke sekolah. Mumpung Jesi sedang di bawa jalan pagi sama Mbah Kakung. Sepanjang perjalanan aku masih saja teringat Mbah Uti. Beliau sedang meriang, tidak enak badan. Batuk, sakit kepala dan sepanjang hari kemarin tiduran terus. Apakah kuat menjaga Jesi yang super aktif dan sedang senang-senangnya naik turun jendela di dekat tempat tidur?

Mbah Uti meriang, mungkin tertular Jesi. Jesi juga sebenarnya sedang meriang, sama seperti mbah utinya. Jesi tertular ayah dan ibunya. Serumah sedang meriang semua. Bisa jadi pengaruh cuaca, pergantian pancaroba.

Aku masih batuk-batuk, tenggorokanku juga masih gatal, meski begitu sudah tidak sakit kepala lagi. Ahamdulillah sudah mendingan.

Pikiran melayang-layang. Membayangkan ini dan itu sambil terus mengayunkan langkah kaki. Tak terasa sudah sampai di tempat tujuan.

Fokusku sudah harus berubah. Hanya kepada Allah-lah aku berpasrah.

*

Kulangkahkan kaki dengan tergesa, berharap dalam lima menit saja sampai rumah.

Dari kejauhan kulihat Jesi, Kakak Fatih dan Mbah Uti bersantai di teras rumah.

"Jes, Jes. Itu Ibu pulang Jess!" Kakak bersemangat menyambutku.
"Ibuu, Ibuu..." Jesi memanggil-manggil namaku.
Mbah Uti langsung menggendong cucu pertamanya dengan sigap, "Cuci tangan dulu, cuci kaki dan bersih-bersih!"
Aku menurut, membuka kran air di dekat tempat sandal lalu melakukan apa yang diinstruksikan Mbah Uti.

"Ibu... Ibu..." Jesi menangis. Aku jadi gugup.
"Iya, iya sayang. Ini Ibu."

Mbah Uti batuk-batuk saat mengulurkan Jesi, aku menggendongnya segera.

"Sudah minum obat belum, Mbah?"
Beliau hanya mengagguk. Aku tak begitu memperhatikan kemudian. Bersegera menuju kamar, untuk menidurkannya.

Kulihat samar-samar, Mbah Uti langsung menuju kamar juga, merebahkan badan dan memejamkan mata.

Semoga selalu sehat ya, Mbah Uti.

Mbah Uti My Hero.

**

#DomesticDrama
#MbahUtiMyHero
#KelasFiksiODOP6

#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
#November2018
#Day13

#316kata

Jangan Khawatir Saat Kamu Harus Satu Kantor dengan sang Mantan. Lakukan Saja 7 Hal Ini untuk Mengendalikan Hatimu!

09.49 15

Jangan Khawatir Saat Kamu Harus Satu Kantor dengan sang Mantan, Lakukan Saja 7 Hal Ini untuk Mengendalikan Hatimu!

Oleh: Betty Irwanti

Bumi ini selalu berputar. Sama dengan putaran waktu yang terus berputar hingga akhir nanti. Waktu yang lampau telah terlewati dan biasa disebut sebagai masa lalu. Masa yang kita jalani saat ini dijuluki sebagai masa kini. Dan masa yang akan dijalani kemudian disebut dengan masa depan.

Orang-orang yang kamu temui di masa lalu, bisa jadi hingga saat ini masih sering kamu jumpai. Mereka adalah orang-orang yang paling tidak memang dekat denganmu. Meski mereka jauh namun perasaan selalu dekat di hati.

Nah, ketika saat ini kamu sudah mempunyai pasangan namun takdir mempertemukanmu dengan orang yang pernah dekat di masa lalu. Kamu pernah menjalin hubungan dengannya kemudian kandas dan membuatnya menjadi salah satu dari mantan pacarmu. Tentu perasaan gugup, nervous dan terkejut menghampiri.

Apalagi jika kamu berada dalam satu bidang pekerjaan dengan sang mantan kemudian ada desas-desus santer terdengar bahwa dia akan dipindahkan ke bagian yang setiap hari harus bertemu denganmu. Apa yang sebaiknya kamu lakukan mulai dari sekarang?

7 hal ini dapat membuat hatimu stabil meski dirimu harus bertemu sang mantan setiap hari. Simak ulasannya berikut ini:

1. Luruskan niat

'Innamal a'malu binniat" segala amalan itu bergantung kepada niat. Bertemu dengan siapapun jika niat kamu sudah lurus, untuk bekerja, untuk menjemput rezeki-Nya, niscaya hati tidak mudah berubah menjadi gelisah hanya karena berada satu kantor dengan sang mantan. Apapun yang kamu lakukan seharusnya niatkan semata-mata karena Allah

2. Terbuka dengan pasangan

Bukalah komunikasi yang terbuka dengan pasangan. Jelaskan saja siapa dia jika diperlukan. Ini akan memudahkan setidaknya ketika nantinya kamu harus bekerja lembur. Jadi, tidak perlu menyembunyikan siapa sang mantan itu sebenarnya apalagi sampai harus berbohong. Dosalah ujung-ujungnya kemudian.

3. Bersikap biasa

Bersikap biasa terhadap sang mantan, bukanlah hal mudah yang bisa dilakukan. Apalagi jika sang mantan di masa lalu adalah orang sangat istimewa. Tapi, inilah yang seharusnya dilakukan. Jangan sampai terlihat bersikap berlebihan kemudian merugikan karir pekerjaanmu sendiri. Atau jika kamu menolak bekerjasama dengannya karena pernah sakit hati dan terluka misalnya. Meski hati teriris, sakit, dan perih tetap saja kamu wajib berkata baik dan sopan kepada sang mantan tersebut. Mungkin saja memang dahulu dia sedang khilaf dan kamu harus menjadi manusia yang bisa memaafkan kesalahan orang lain.

4. Jangan menghindar

Bukan sikap yang bijaksana jika saat bertemu dengannya kamu menghindar. Menghindar adalah cara yang buruk, kamu tidak boleh menyikapinya dengan hal ini. Tatalah hatimu, hadapi dia dengan wajah yang tegak dan emosi yang stabil. Jangan membuat dia GR (Gede Rasa) dengan sikapmu yang belum move on. Jangan memancing perasaan-perasaan yang akan membuka kembali hubungan yang memang sudah selesai. Ini hanya akan menimbulkan masalah baru. Masalahmu dengan pekerjaan dan masalahmu dengan pasangan. Sangat rugi bukan?

5. Ingat selalu kejelekannya

Salah satu resep paling ampuh agar kita bisa bersikap biasa di depan sang mantan adalah dengan selalu mengingat kejelekannya. Tidak perlu lagi mengingat segala kebaikannya. Ini bukan berarti kamu memupuk rasa benci kepada sesama manusia tapi resep ini cukup ampuh agar kita tidak kembali pada perangkap yang bernama CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).

6. Hindari berdua-duaan

Dalam Islam ada larangan untuk berdua-duaan karena yang ketiganya adalah syaitan. Usahakan untuk tidak mengobrol hanya berdua, tidak membonceng motornya, tidak menghubunginya lewat chat untuk membicarakan hal pribadi. Tidak apa-apa jika obrolannya disaksikan teman atau berada di group bersama teman kerja yang lain. Tetap tutup segala kemungkinan yang bisa saja terbuka jika kamu bersikap longgar. Syaitan bisa kapan saja datang menggoda lewat berbagai cara.

7. Perbanyak ibadah dan do'a

Kunci agar kamu terhindar dari godaan syaitan karena berada di satu kantor bersama mantan adalah perbanyaklah ibadah dan do'amu setiap saat. Kembalikan semua urusan hanya kepada Allah. Karena atas izin-Nya lah kamu menjadi bertemu dengan sang mantan. Jangan berprasangka buruk terhadap Allah, karena siapa tahu ada hikmah yang tersembunyi di balik semua kejadian.

Itulah ketujuh hal yang bisa kamu terapkan ketika kamu harus bersiap saat sang mantan itu benar-benar satu kantor denganmu kemudian. Kendalikan hati dan perasaanmu, jangan buat kamu terkurung dalam lingkaran bernama ketidaknyamanan dalam bekerja gegara sang mantan.

Sadarilah dengan kelapangan hati bahwa masa berasama sang mantan sudah hilang bersama kenangan. Tidak ada lagi yang perlu dikenang. Saatnya move on dan bekerjasama dengannya demi kemajuan kerja dan kantor di masa depan.

Tetap selalu waspada ya, jangan membiarkan kekhawatiran menguasaimu. Selama kamu lakukan 7 hal tersebut kamu akan lebih mudah mengendalikan hatimu yang kalut. Keep calm and carry on, ya, Dears.

*

Tulisan ini untuk melengkapi tugas #001 kelas Blog dari Kang Asep. (KMO Indonesia)

#Artikel
#Life
#752kata
#OneDayOnePost
#November2018
#Day12

@CleverClass, 12 November 2018, 09.25.
Ibu Jesi.

Persiapan POR PGRI Cabang Bantarsari

14.08 2

Tim Inti Voli PGRI Ranting Binangun Melakukan Latihan Rutin. Apa Saja yang Mereka Pelajari Selama Satu Bulan Belakangan?

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional tahun 2018 ini, PGRI Cabang Bantarsari mengadakan serangkaian kegiatan diantaranya POR PGRI. Kegiatan Pekan Olah Raga tersebut dilaksanakan di Ranting Kedungwadas yang dipusatkan di SDN Cikedondong 02 dan SMP Satu Atap Bantarsari. Waktu, 10 November 2018. Cabang lomba voli putera dan voli puteri.

Dalam rangka mempersiapkan kegiatan POR PGRI cabang, PGRI Ranting Binangun mewajibkan semua anggotanya untuk hadir latihan bersama pada hari Selasa dan Sabtu.

Latihan bersama yang sudah terlaksana sekitar satu bulan ini tujuannya adalah untuk mempelajari kembali teknik bermain voli secara benar dan harus menguasainya demi bisa mengalahkan juara bertahan.

Teknik bermain voli yang dipelajari ketika latihan rutin itu antara lain Block, Service, Smash atau Spike dan Passing, dimana semua teknik ini harus dikuasai oleh semua pemain bola voli. Yang nantinya akan ada yang lebih ditonjolkan sesuai posisi pemain, semisal sebagai toser kalian harus mahir dalam memberi umpan atau passing kepada pemain yang akan melakukan smash.

Teknik dasar service adalah pukulan yang dilakukan dari daerah garis belakang lapangan permainan hingga melambung keatas net dan mendarat di dalam daerah lawan. Teknik Service dilakukan saat awal permainan, saat terjadi penambahan point dan terjadi pelanggaran.

Teknik Service memiliki 4 macam yaitu Service Bawah, Service mengapung atau Floating overhand, Overhand round-house service, dan Jumping service.

Teknik dasar gerakan passing atau juga bisa disebut reception adalah teknik yang bertujuan untuk menerima,menahan dan mengendalikan bola service dari pemain lawan teknik passing di bagi menjadi dua macam yaitu passing atas dan passing bawah.

Teknik Blocking adalah satu satunya teknik yang pilih-pilih pemain. Karena teknik blocking hanya digunakan untuk menahan dan mencegah serangan dari lawan seperti smash.

Teknik smash atau spike adalah gerakan melompat dan memukul bola voli dengan derajat kemiringan terkecil dan kekuatan terbesar kearah daerah lawan.

Teknik-teknik itu dipelajari dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Menurut sekretaris PGRI Ranting Binangun, latihan sudah dimulai sejak pertengahan bulan Oktober ini.  Latihan bersama yang sudah terlaksana sekitar satu bulan ini tujuannya adalah untuk mempelajari kembali teknik bermain voli secara benar. Namun, kekuatan tim mulai berkurang. Yang menjadi penyebabnya adalah beberapa orang anggota PGRI yang masuk dalam tim inti memasuki masa pensiun pada tahun ini.

Hal ini tidak menyurutkan semangat tim inti, karena sejauh ini masih bisa bertahan dalam formasi meski mau tidak mau harus merubah strategi.

Kapten tim yang ditemui hari Jumat ini mengatakan, "Kami tetap optimis bisa bertahan sampai babak final. Ada dua orang anggota tim, yang biasanya masuk tim voli cabang. Mereka adalah kunci utama kesuksesan tim. Ada juga beberapa anggota tim yang masih muda dan memiliki potensi yang luar biasa. Meski anggota tim voli puteri kami sedang mengalami defisit pemain karena beberapa anggota ada yang pensiun bersamaan tahun ini."

Hidup Guru!
Hidup PGRI!
Hidup PGRI Ranting Binangun!
Hidup Indonesia!

*

#OneDayOnePost
#November2018
#Day9

#CleverNews
Rumah Clever, Cilacap, 9 November 2018: 13.31.
Ibu Jesi.

**

Sumber referensi: https://www.google.co.id/amp/s/gurupenjaskes.com/teknik-dasar-bola-voli/amp

Hujan di Stasiun

04.41 34

Hujan di Stasiun
Oleh Betty Irwanti

Bella duduk di salah satu bangku ruang tunggu stasiun. Lama ia memandangi hujan yang baru saja turun. Awalnya hanya rintik, namun perlahan tapi pasti menjadi semakin deras, membuat lantai stasiun basah kuyup tersiram hujan.

Sepanjang perjalanan tadi memang suasana sudah gelap. Dugaan sebentar lagi hujan, ternyata benar.

Bella mengalihkan pandangan ke lelaki yang duduk di sebelahnya. Ia menyunggingkan senyuman termanis. Lelaki itu membalas dengan senyuman pula, lalu kembali menekuri gawai yang sejak tadi dipegangnya.

Bella kembali menatap hujan yang turun pagi ini, deras sekali. Seolah-olah kemarau yang hampir tujuh bulan mengiringi, hilang begitu saja. Seolah-olah hujan ini menghapus kekeringan yang hampir-hampir sudah terjadi.

Seperti itulah kehidupan, kadang kemarau bisa saja menyapa. Namun, kedatangan hujan adalah keniscayaan. Hujanlah peredam semua kekeringan.

*

5 bulan yang lalu,

Bella menggelar pesta pernikahan sederhana. Ia menikah dengan Brian, lelaki yang dikenal lewat seorang teman.

Hanya butuh beberapa bulan saja sejak ia berkenalan, hingga memutuskan untuk hidup bersama kemudian. Meski begitu, setelah menikah ia masih harus rela menjalin LDR-an. Bella di kota kelahiran, Brian di ibukota negara. Sungguh, jarak benar-benar telah memisahkan.

Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan. Bella yang terbiasa hidup sendiri dan mandiri, harus rela untuk belajar memperhatikan Brian, yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Ia ingin menjadi seorang istri yang berbakti, bukan istri yang bertindak seenak hati. Perhatian terus ditunjukkannya meski sementara ini hanya dilakukan lewat media gawai.

Hubungan terpisah jarak kadang menimbulkan banyak riak. Komunikasinya dengan Brian akhir-akhir ini memang sedikit kacau. Apalagi kalau bukan sebab Long Distance Relationship. Disadari atau tidak solusinya hanya satu, saling mendekat.

Sesungguhnya, dalam hati Bella resah dan gelisah. Ia bingung ketika diberi pilihan oleh Brian, apakah akan tetap bertahan dalam cinta antar dua kota atau salah satu harus mau Resign dari pekerjaan.

Lama sekali ia harus mengingat dan menimbang. Sampai akhirnya ia mantap pada satu pilihan.

"Yang, aku ingin bicara hal penting. Adakah waktu untukku?" Bella mengetik pesan itu di WA kemudian dia kirimkan ke suaminya. Ia biasa memakai sapaan, "Sayang" atau disingkat "Yang" pada Brian.

Beberapa menit menunggu, Bella mendapatkan jawaban.
"Iya, Yang. Nanti malam aku telepon ya. Jangan sekarang. Aku masih sibuk,"

"Baiklah, Yang. Aku tunggu, ya!"

**

4 bulan yang lalu,

"Yang, jemput aku di stasiun ya! Malam ini aku pulang," Bella membaca pesan itu sejak siang.

Ia lalu membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk suami tercintanya. Tak sia-sia usaha Bella belajar masak demi sang pujaan. Ia harus memberi kejutan untuk Brian. Begitu niatnya dalam hati.

Bella berdandan rapi sore ini. Berulangkali ia memandangi cermin untuk meneliti penampilannya, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah dirasa sudah maksimal, ia ambil kunci motornya lalu menyalakan kendaraannya.

Sepanjang perjalanan, Bella merenungi satu hal. Tak terasa sudah lebih dari sebulan ia mengarungi bahtera rumah tangga dengan Brian. Meski sering salah paham, tapi sejauh ini hubungan tetap berjalan harmonis.

Ia sudah berusaha untuk keluar dari kerja yang sekarang. Tapi karena posisinya belum ada pengganti yang mumpuni, sementara ia harus bertahan demi kualitas perusahaan.

"Ah, lagi-lagi niat baik harus menemui rintangan. Aku ingin berbakti pada suamiku dengan menuruti apa maunya. Aku ingin jadi istri yang tinggal satu atap dengannya, bukan berjauhan seperti sekarang ini,"

Bella menggumam sembari tetap berkonsentrasi pada kendaraan dan jalan. Sampai di stasiun, rupanya kereta yang ditumpangi Brian belum datang.

Bella pun menunggu di ruang tunggu stasiun.

***

4 bulan telah berlalu sejak kepulangan Brian waktu itu. Tuhan mulai menunjukkan jalan atas niat baik Bella. Perusahaan telah berhasil merekrut pegawai baru. Hanya saja, masih harus didampingi oleh Bella dalam menyelesaikan segala tugasnya. Bella pun bersemangat.

Semangat seorang istri yang akan segera bertemu dan berkumpul satu atap dengan suaminya. Adakah perasaan yang sebegitu membahagiakan selain ini?

Bella mengabari suaminya. Akhir pekan, ia sudah bulat akan mengikuti suami tercintanya. Ia sudah ikhlas untuk pindah ke ibukota negara.

Bella pun bersiap. Ia kemas semua barang yang perlu dibawa. Weekend ini ia sudah harus naik kereta api menuju Jakarta. Brian akan menjemputnya di stasiun Jatinegara.

Rasanya menjadi adil. Biasanya ia yang menjemput dan menunggu suaminya di stasiun, kali ini Brian yang akan melakukan untuk Bella.

****

Stasiun Jatinegara, pagi ini.

Bella masih duduk di bangku stasiun. Lelaki dengan senyuman manis itu juga masih duduk di sebelahnya.

"Yang, kita menunggu hujan reda ya?"
Bella mengangguk. Lelaki itu melanjutkan perkataan, "tadi aku gugup soalnya, mantel di meja jadi lupa kubawa,"

"Iya, gak papa kok!" jawab Bella mendekat.

Brian berdiri menghampiri istrinya, "Kita sarapan pagi dulu aja yuk! Sini, biar aku yang bawa barang bawaanmu. Kamu pasti capek kan semalaman tidak tidur?"

Bella menurut, bangkit berdiri lalu menggandeng tangan Brian. Ia sudah bertekad untuk mengikuti langkah kaki suaminya kemanapun dia pergi.

*****

Tantangan ke-1: Membuat Cerpen Berlatar Stasiun Kereta Api untuk Kelas Fiksi ODOP6

Dibuat di Rumah Clever, 8 November 2018, 04.37.
Oleh Ibu Jesi.

#OneDayOnePost
#November
#Day8